Nordrhein-Westfalen, 1997

Nordrhein-Westfalen, 1997

- Sepakbola
Senin, 23 Feb 2015 12:50 WIB
Nordrhein-Westfalen, 1997
Jakarta -

Kota Muenchen, ibu kota negara bagian Bayern di Jerman, sudah sepantasnya mengalahkan popularitas Berlin yang secara de jure merupakan ibu kota negara. Berlin kalah populer karena di kota Muenchen itulah kesebelasan terbaik Jerman berada; bukan tanpa alasan FC Bayern menyandang julukan der Rekordmeister karena jumlah gelar mereka hingga saat ini belum berhasil disamai kesebelasan manapun.

Ppularitas yang datang dari FC Bayern itu pula yang membuat Muenchen, secara de facto, menjadi ibu kota sepakbola negara walaupun Deutscher Fussball-Bund (federasi sepakbola Jerman) bermarkas di Frankfurt am Main, negara bagian Hessen.

Bagaimanapun, ada yang tidak bisa secara cuma-cuma didapatkan Bayern dari semua prestasi FC Bayern. Bayern tak bisa menyombongkan diri sebagai negara bagian terbaik untuk urusan sepakbola karena status tersebut adalah milik negara bagian Nordrhein-Westfalen, sebuah negara bagian yang secara langsung berbatasan dengan Belgia dan Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nordrhein Westfalen dikenal sebagai Land von Kohle und Stahl, negara batu bara dan baja. Lewat hasil tambang, Nordrhein-Westfalen menjadi wilayah industri penting di Jerman (bahkan Eropa). Besar sekali sumbangan Nordrhein-Westfalen dalam kebangkitan ekonomi Jerman pasca Perang Dunia II. Dewasa ini, Nordrhein-Westfalen dikenal sebagai negara bagian tempat Borussia Dortmund, FC Schalke 04, dan Bayer Leverkusen berasal.

Secara rutin Nordrhein-Westfalen menjadi penyumbang kesebelasan terbanyak di 1. Bundesliga, divisi pertama liga sepakbola Jerman. Tahun 1997 bisa dibilang merupakan tahun terbaik bagi persepakbolaan Nordrhein-Westfalen.

Di ajang 1. Bundesliga musim 1996/97, Nordrhein-Westfalen menggelar lebih banyak pertandingan ketimbang 15 negara bagian lain di seluruh Jerman. Sembilan dari 18 kesebelasan yang berkompetisi di divisi tertinggi musim itu berasal dari Nordrhein-Westfalen. Fakta tersebut, bagaimanapun, bukan sesuatu yang istimewa. Tidak pula catatan tersebut memenuhi syarat untuk disebut sebuah rekor.

Menyumbang setengah dari seluruh peserta 1. Bundesliga musim 1996/97 bukanlah sesuatu yang istimewa karena itu merupakan sebuah pencapaian yang wajar. Sebelum musim itu saja, ada empat musim yang 50% peserta 1. Bundesliga-nya berasal dari Nordrhein-Westfalen. Musim-musim yang dimaksud adalah musim 1971/72, 1979/80, 1984/85, dan 1991/92.

Sembilan kesebelasan dalam liga yang berisi delapan belas peserta, sementara itu, bukan rekor karena Nordrhein-Westfalen pernah diwakili oleh jumlah yang lebih banyak. Di musim 1980/81, 10 kesebelasan asal Nordrhein-Westfalen berkompetisi di divisi pertama. Sepuluh kesebelasan tersebut adalah Borussia Moenchengladbach, Borussia Dortmund, FC Koeln, VfL Bochum, Bayer Leverkusen, MSV Duisburg, Fortuna Duesseldorf, Arminia Bielefeld, FC Schalke 04, dan Bayer Uerdingen (sekarang bernama KFC Uerdingen 05). Kecuali Uerdingen, semua kesebelasan yang baru saja disebutkan adalah para perwakilan Nordrhein-Westfalen di musim 1996/97.



Secara kuantitatif, musim 1980/81 lebih baik ketimbang musim 1996/97. Namun generasi yang lebih muda membayar kekalahan jumlah mereka dengan kualitas. Kualitas dalam bentuk prestasi. Dalam bentuk piala bergengsi.

Untuk sampai ke puncak prestasi persepakbolaan Nordrhein-Westfalen tahun 1997, kita harus terlebih dahulu mundur ke penghujung musim 1995/96.

Tiga kesebelasan Nordrhein-Westfalen – VfL Bochum, Arminia Bielefeld, dan MSV Duisburg – menyudahi perjalanan mereka di 2. Bundesliga (divisi kedua) musim 1995/96 di peringkat pertama, kedua, dan ketiga. Ketiganya kemudian mendapatkan tiket promosi ke divisi pertama.

Di musim yang sama di divisi pertama, tiga kesebelasan asal Nordrhein-Westfalen mengakhiri musim di empat besar. Borussia Dortmund menjadi juara, enam poin di atas FC Bayern. Schalke 04 dan Borussia Moenchengladbach, sementara itu secara berturut-turut mengakhiri musim di peringkat ketiga dan keempat. Dortmund secara otomatis meraih tiket ke Liga Champions, sedangkan Schalke dan Moenchengladbach berkompetisi di Piala UEFA.

Kompetisi musim 1996/97 dimulai dengan pertandingan DFB-Supercup. Dortmund, juara bertahan divisi pertama, bertanding melawan FC Kaiserslautern selaku pemenang DFB-Pokal. Dalam pertandingan yang digelar di Carl-Benz-Stadion, Mannheim, Dortmund meraih kemenangan lewat adu penalti. Adu tendangan dua belas pas berakhir dengan kekalahan 3-4 untuk Kaiserslautern walaupun dua penendang pertama Dortmund, Stefan Ruter dan Andreas Moeller, gagal melaksanakan tugas.

Di pertandingan pembuka musim kompetisi 1996/97, Nordrhein-Westfalen langsung berjaya. Optimisme pun menaungi mereka. Namun pada akhirnya, dominasi kompetisi domestik musim sebelumnya tak berhasil mereka tunjukkan. Gelar juara divisi pertama jatuh ke tangan FC Bayern, dan hanya ada dua kesebelasan Nordrhein-Westfalen di empat besar 1. Bundesliga. Tahun 1997, bagaimanapun, tetap menjadi musim terbaik bagi persepakbolaan Nordrhein-Westfalen karena di kancah Eropa mereka berjaya.

Perjalanan Moenchengladbach di Piala UEFA memang terhenti di putaran kedua, namun Dortmund dan Schalke terus melaju hingga partai final. Kedua kesebelasan yang hubungannya kurang akur tersebut berhadapan dengan kesebelasan dari negara yang sama: Italia.



Tepat tujuh hari setelah Schalke memastikan kemenangan di final melawan Inter Milan lewat adu penalti yang berakhir dengan skor 4-1 (pertandingan final Piala UEFA saat itu masih dilangsungkan dalam dua leg, dan kedua kesebelasan sama-sama meraih kemenangan gol tunggal di kandang masing-masing), Dortmund bertading melawan Juventus di Olympiastadion, Muenchen.

Dua gol Karl-Heinz Riedle membawa Dortmund yang saat itu diasuh oleh Ottmar Hitzfeld unggul sulit dikejar. Juventus berhasil memperkecil ketinggalan di menit ke-65, lewat Alessandro Del Piero. Namun impian Juventus untuk menyamakan kedudukan sirna dalam waktu enam menit saja. Gol Lars Ricken terbukti menjadi gol terakhir yang tercipta di pertandingan ini. Dortmund menang 3-1 dan meraih gelar juara Liga Champions mereka yang pertama.

Sumbangan piala-piala juara tak berhenti begitu saja walaupun pencapaian musim panas 1997 (Liga Champions dari Dortmund dan Piala UEFA dari Schalke) tampak seperti sesuatu yang sulit – dan pada faktanya memang – terulang. Sebagai juara Eropa, Dortmund berhak berangkat ke Tokyo, Jepang, di pengujung tahun.

Pada hari kedua di bulan Desember tahun yang sama, Dortmund bertanding melawan Cruzeiro Sporte Clube, juara bertahan Copa Libertadores, di ajang Intercontinental Cup. Dua gol Michael Zorc dan Heiko Herrlich memaksa Cruzeiro mengakui bahwa Dortmund terlalu tangguh untuk mereka.

Walaupun terdengar penuh kejayaan, tahun 1997 tak bisa begitu saja disebut sebagai tahun yang sempurna. Satu-satunya perusak pesta di tahun terbaik bagi persepakbolaan Nordrhein-Westfalen ini adalah fakta bahwa Revierderby, pertandingan terakbar di seluruh Jerman, tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan sorotan dunia.



Sebagai catatan, saat itu laga UEFA Super Cup bukanlah kontes antara juara bertahan Liga Champions dan juara bertahan Piala UEFA (sekarang Europa League). Piala Super Eropa saat itu mempertemukan juara bertahan Liga Champions dan juara bertahan Piala Winners. Karenanya, Dortmund tidak berhadapan dengan Schalke dalam pertandingan dua leg yang bertujuan mencari kesebelasan terbaik Eropa; Dortmund bertanding melawan FC Barcelona.

Jika saja Piala Super Eropa saat itu sudah mempertemukan juara Liga Champions dan Piala UEFA, Revierderby pasti sudah dua kali digelar di panggung megah; jauh lebih megah ketimbang der Klassiker di Wembley, final Liga Champions musim 2012/13.


===
* Penulis anggota redaksi @PanditFootball dengan akun twitter: @nurshiddiq

(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads