Tapi kalau boleh jujur, biasanya kesebelasan yang mengandalkan skema serangan utamanya melalui eksekusi bola mati adalah mereka yang merupakan kesebelasan kecil.
Anggapan tersebut bisa saja benar. Namun, pengecualian terbesar datang dari Liga Spanyol melalui Atletico Madrid. Atletico sudah terkenal sangat bersahabat dengan skema bola mati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, hampir 52,3 persen pemain Atletico telah menciptakan gol dari situasi ini. Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa pemain Atletico Madrid sangat fasih dalam memanfaatkan situasi bola mati.
Begitulah sepakbola yang mengandalkan bola mati tidak melulu disejajarkan dengan kesebelasan-kesebelasan papan tengah atau mereka yang sedang berjuang menghindari zona degradasi.
Jika dimanfaatkan secara maksimal, cara ini mampu membawa sebuah kesebelasan untuk mencapai final Liga Champions atau bahkan menjuarai liga.
Raja Bola Mati dari Liga Inggris
Kemudian kita beralih ke Liga Primer Inggris, tak terkecuali di liga terbaik di dunia ini juga ada banyak kesebelasan yang mengandalkan bola-bola mati. Salah satunya adalah Crystal Palace.
Palace sudah membuktikan dirinya menjadi spesialis bola mati di Liga Primer. Dari 31 gol yang mereka ciptakan sampai pekan ke-27, lebih dari setengah gol Palace berasal dari set-piece. Hampir mirip dengan Atletico.
Mereka, bersama Arsenal, sama-sama sudah mencetak 16 gol dari bola mati dan berada di posisi puncak di antara seluruh kesebelasan di Liga Primer Inggris dalam urusan mencetak gol dari set-piece. Jika mau membandingkan, Palace lebih baik karena 6 gol bola mati Arsenal berasal dari tendangan penalti.
Kemudian yang terbaru, saat kemenangan 3-1 Palace di kandang West Ham United, seluruh gol mereka datang dari bola mati.
Baik kapten Mile Jedinak, Jason Puncheon, Barry Bannan, Yannick Bolasie, Dwight Gayle, dan Joe Ledley saling bergantian mengambil tendangan bebas dan sepak pojok. Puncheon bahkan memuncaki daftar pencetak asist dengan 7 asist.
Meskipun Alan Pardew menjabat sebagai manajer baru dan mereka sudah menang empat kali sejak Tahun Baru, ternyata kebiasaan menciptakan peluang lewat set-piece sudah Palace lakukan bukan saja sejak awal musim ketika Neil Warnock masih menjabat sebagai manajer, tetapi bahkan sejak musim lalu.
Situs WhoScored menjelaskan kekuatan utama Palace memang terletak pada kemampuan mereka menyerang lewat set-piece ("very strong when attacking set-pieces"), menciptakan peluang, dan duel bola udara.
Kombinasi tiga kekuatan itulah yang mendefinisikan gaya bermain Palace yang sudah dicap sebagai "set-piece specialist".

AFP/Ian Kington
Dari 16 gol dari bola mati, 7 gol berasal dari sepak pojok, 4 gol berasal dari tendangan bebas yang diumpan, sementara 5 gol sisanya dari eksekusi langsung, yaitu 4 tendangan penalti dan sebuah gol dari tendangan bebas langsung.
Dari pertandingan terakhir Palace, Sam Allardyce mengatakan bahwa sebenarnya ia telah menyiapkan timnya untuk menghadapi bola mati dari Palace. Namun apa lacur, semua gol yang berhasil membobol West Ham datang langsung dari bola mati.
Kombinasi Glenn Murray dan Aaron Creswell yang salah mengantisipasi berhasil mencetak gol pertama. Gol ini berasal dari tendangan sudut Puncheon. Scott Dann kemudian menyundul bola hasil dari tendangan sudut lainnya dari Puncheon. Tidak lama setelah itu Murray kembali mencetak gol melalui sundulannya setelah ia menyambut tendangan bebas yang lagi-lagi diluncurkan oleh Puncheon.
"Kami menghabiskan waktu yang lama utuk mempelajari bola mati Palace karena 50 persen gol mereka musim ini datang dari bola mati," kata Allardyce.
"Jadi, Anda tahu betapa berbahayanya mereka, mereka menempatkan bola yang baik dan memiliki lima atau enam pemain besar yang bersiap menyambut bola. Tapi kami menetapkan rencana kami untuk menyikapi bahaya tersebut."
Ia menegaskan, meskipun ia sudah berusaha mempelajari taktik bola mati Palace, ia tetap mengakui bahwa Palace adalah kesebelasan yang lebih baik.
Sebenarnya Crystal Palace Lebih daripada Sekadar Raja Bola Mati
Pernyataan serupa, tentang Palace adalah kesebelasan yang lebih dari sekadar spesialis bola mati juga sempat datang dari Roberto Martinez.
Manajer Everton itu mengatakan bahwa Palace telah salah diberi label βspesialis bola matiβ, karena Palace juga memiliki kekuatan utama pada serangan balik. Tidak heran Martinez mengakui hal ini, karena ia telah gagal untuk mengalahkan Palace dalam tiga pertandingannya sebagai manajer Everton (sebelum 31 Januari 2015).
Meskipun akhirnya Everton mampu mengalahkan Palace 1-0, Martinez mengakui bahwa Palace adalah salah satu kesebelasan yang selalu membuatnya kesulitan.
"Jika menyoroti kualitas individu pemain-pemain Crystal Palace, mereka pasti punya satu momen ajaib atau kecemerlangan individu untuk mencetak gol, dan saya pikir ada kesan yang salah dari Crystal Palace sebagai tim spesialis bola mati," kata Martinez.
"Saya sangat setuju dengan itu, dan saya akan mengatakan ancaman mencetak gol mereka lebih kepada kecepatan mereka pada serangan balik dan kualitas yang mereka punya di daerah yang melebar."
Bersama Pardew dan bola mati yang semakin berbahaya, Palace memang sedang berada dalam suasana hati yang sangat percaya diri. Sejak Tahun Baru, mereka sudah menang atas Tottenham Hotspur dan juga mencatat tiga kemenangan di kandang lawan.
Banyak orang yang memprediksi Palace akan terdegradasi musim ini, apalagi setelah manajer Tony Pulis meninggalkan Palace di awal musim. Namun, setelah Pardew menjadi manajer, peringkat Palace terus naik dan sekarang berada di posisi ke-12.
Pada Rabu (4/3) dinihari tadi, Palace menghadapi Southampton di St. Maryβs (kandang Soton), namun kalah 0-1. Setelah itu ada 10 pertandingan sisa yang akan menghakimi nasib Palace dan Pardew di akhir musim nanti.
| Tanggal | Lawan |
| 14 Maret 2015 | Queens Park Rangers (kandang) |
| 21 Maret 2015 | Stoke City (tandang) |
| 7 April 2015 - 03:00 WIB | Manchester City (kandang) |
| 11 April 2015 | Sunderland (tandang) |
| 18 April 2015 | West Bromwich Albion (kandang) |
| 25 April 2015 | Hull City (kandang) |
| 2 Mei 2015 | Chelsea (tandang) |
| 9 Mei 2015 | Manchester United (kandang) |
| 16 Mei 2015 | Liverpool (tandang) |
| 24 Mei 2015 | Swansea City (kandang) |
Dia yang Mewariskan Permainan "Spesialis Bola Mati"
Label "spesialis bola mati" mau-tidak-mau mungkin sudah melekat pada Palace. Meskipun manajer mereka sudah berganti tiga kali sejak mereka promosi ke Liga Primer dua musim yang lalu (Ian Holloway, Pulis, Warnock, dan Pardew), tentunya kita semua bertanya: sejak kapan Palace dikenal sebagai rajanya bola mati?
Jawabannya ternyata mudah. Pada awal musim, Palace sebenarnya memiliki label lain, yaitu βThe New Stokeβ melalui tiga persepsi umum kita semua: soliditas, (pastinya) kekuatan pada bola mati, ... dan Tony Pulis.
Pada kenyataanya, pernyataan tersebut bisa dibilang benar. Dua musim terakhir Palace, Pulis menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam membangun mental baja Palace. Selain bola mati, memang sebenarnya permainan serangan balik lewat sayap menjadi ciri khas Palace dalam dua musim terakhir.
Pulis, yang biasa mengenakan topi ini, dikenal sebagai manajer yang masih menerapkan kick and rush a la Inggris yang sesungguhnya. Ia menerapkan permainan keras, umpan panjang ke depan, dan serangan cepat.
Waktu ia menjabat manajer Stoke, ia memaksimalkan peran pemain yang berpostur tinggi seperti Kenwyne Jones, Robert Huth, hingga Peter Crouch.
Namun, Pulis mendapati situasi yang berbeda kala melatih Crystal Palace. Kendati tetap memakai sistem permainan yang sama, ia harus memaksimalkan pemain yang ada, akibat dari kebijakan ketat keuangan Palace.
Ketika Holloway meninggalkan Palace pada Oktober 2013, ia meninggalkan kesebelasan yang sedang bobrok-bobroknya. Kekacauan pemain-pemain pinjaman Palace yang segudang dan pemain-pemain yang masuk yang terlalu banyak, sehingga beberapa pemain dikorbankan untuk tidak didaftarkan di skuat resmi Palace di Liga Primer, semakin menegaskan kebobrokan dan ketidaksiapan tim asal London ini untuk mengarungi top flight.
Tetapi sebaliknya, yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang luar biasa. Pulis dengan cepat membangun kembali kepercayaan diri skuat dan bekerja tanpa lelah untuk membentuk Palace yang lebih disiplin dan terorganisir.
Palace membuktikan bahwa mereka bisa mencuri poin tanpa harus mendominasi pertandingan. Ini juga yang membuat rata-rata jumlah tembakan Palace adalah yang paling rendah sepanjang musim lalu.
Namun, di awal musim Pulis telah dari Palace. Sekarang ia sudah mendapat pekerjaan barunya di West Bromwich Albion, mungkin ia akan membangun "The New Palace" atau "The New New Stoke" di sana. Tapi, satu hal yang jelas: Warnock, kemudian Pardew dan seluruh pemain Palace sedang menikmati warisan berharga dari sepakbola a la Tony Pulis.
Enak dilihat? Mungkin tidak. Tapi tanyalah kepada Palace, mereka tidak peduli. Alih-alih seperti Atletico, bagi Palace, bertahan di Liga Primer lebih penting daripada bermain cantik. Terimakasih, Pulis.
====
*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, biasa beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza.
(roz/din)











































