Apakah Stadion yang Lebih Besar Bisa Menjamin Kesuksesan?

- Sepakbola
Senin, 16 Mar 2015 15:50 WIB
Jakarta -

Jika diibaratkan sebagai lotere, Liga Primer Inggris adalah sebuah jackpot. Tidak ada liga sepakbola lain di Eropa dan dunia yang perputaran uangnya lebih besar daripada Liga Primer Inggris.

Banyak kesebelasan yang ingin terlibat di Premier League. Tapi masalahnya, liga itu hanya memiliki tempat untuk 20 tim. Persaingan yang sungguh ketat.

Jadi, apa resep bagi kesebelasan untuk masuk ke Premier League dan juga, tentunya ini yang lebih penting, untuk tetap berada terus di sana?

Ada banyak hal yang bisa menjawab pertanyaan tersebut, seperti perekrutan pemain yang efektif, akademi yang produktif, kestabilan dalam manajemen, sampai memiliki investor atau pemilik kesebelasan yang kaya raya.

Memiliki uang yang banyak memang hampir pasti merupakan jawaban absolut di Liga Primer, tetapi jika uang tersebut tidak ada, pendapat bahwa bermain di stadion besar sering terlintas.

Stadion besar berarti meningkatkan kemungkinan pendapatan matchday. Sedangkan prestise hanya dianggap sebagai bonus bagi sebuah kesebelasan yang bermain di stadion yang besar. Tapi, apakah ini benar?

Perkembangan perluasan kapasitas stadion di Inggris

Ada banyak perkembangan dalam pembangunan stadion di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 1990-an adalah perkembangan terpesat, tetapi sejak Stadion Emirates dibuka pada tahun 2006, hanya Cardiff City dan Brighton & Hove Albion yang memiliki stadion baru.

Pada dekade lalu (2000-2010), sebagian besar kesebelasan bermain di stadion dengan ukuran yang ditentukan oleh status mereka di pertengahan sampai akhir tahun 1990-an. Wajar saja, sejak era milenium tersebut, banyak kesebelasan papan atas yang memiliki stadion besar.

Arsenal menjadi contoh paling ekstrim. Keputusan memindahkan kandang dari Highbury ke Emirates lebih dianggap sebagai takdir daripada kebutuhan investasi.



Namun sekarang ini, jika terus berkaca pada argumen di atas, maka akan banyak kesebelasan yang ingin semakin mengembangkan kapasitas stadion mereka, entah dengan merenovasi ataupun membangun stadion yang baru.

Jika kita lihat, sebagian besar klub Liga Inggris memiliki stadion berkapasitas antara 20.000 sampai 30.000 penonton. Sedangkan anggapan tentang urgensi untuk memperluas kapasitas menjadi lebih dari 30.000 terus mencuat.

Kesebelasan yang saat ini sangat serius mempertimbangkan memperluas kapasitas stadion antara lain adalah Liverpool, Tottenham Hotspur, West Ham United, West Bromwich Albion, Queens Park Rangers, Swansea City, Fulham, dan Reading (dua nama terakhir berlaga di Football League Championship).

Stoke City dan Wolverhampton Wanderers sempat berpikir untuk meningkatkan kapasitas, tapi masih terus mempertimbangkannya. Khusus Wolves, mereka bahkan telah membangun tribun baru meskipun pembangunannya tertunda hingga saat ini.

Brighton dan Milton Keynes Dons juga baru saja menyelesaikan perluasan kapasitas stadion. Southampton dan Nottingham Forest juga memiliki ambisi memperluas stadion.

Meskipun demikian, ada juga rencana membatalkan memperluas kapasitas dari klub seperti Birmingham City, Derby County, Middlesbrough, Portsmouth, dan Sheffield United. Perluasan stadion Bristol City juga masih belum jelas. Sedangkan tawaran West Ham untuk memiliki Stadion Olimpiade adalah variasi lain namun dengan tujuan yang masih sama.

Di atas sempat disebutkan nama Liverpool dan Spurs, nyatanya mereka bersama Chelsea dan Everton juga adalah kesebelasan yang memiliki rencana ambisius. Keputusan keempat tim di atas bisa cukup dipahami karena status mereka yang terjamin di Liga Primer.

Sebaran stadion di Inggris

Apa yang bisa kita dapatkan dari kapasitas stadion di Inggris adalah ada cukup banyak stadion dengan kapasitas antara 20.000 sampai 30,000 tempat duduk. Sementara di atas 30.000 masih bisa dinilai sangat sedikit, apalagi di atas 40.000. Hanya tim besar yang biasanya akan memiliki standar minimal 40.000 kapasitas penonton.

Fakta lain juga adalah sembilan stadion terbesar semuanya merupakan kesebelasan Premier League. Tapi masih ada beberapa tim dengan stadion kecil yang telah berhasil sampai ke Liga Primer, seperti QPR, Stoke, Swansea, dan West Brom.



Untuk mengetahui hubungan antara kapasitas stadion dengan status Liga Primer, kita harus melihat selama periode yang lebih lama daripada hanya sekedar satu-dua musim.

Beberapa contoh ekstrem misalnya dalam 10 musim terakhir, ada Newcastle United (9 musim di EPL dan 1 musim di Championship), Fulham (9 musim di EPL tapi dengan stadion berkapasitas rendah), dan Leeds United (1 musim di EPL dan 6 musim di Championship).

Kita bisa berdebat bahwa banyak tim telah overperforming dibandingkan dengan kapasitas stadion mereka, sementara underperformer juga banyak, yaitu ketika kapasitas stadion mereka tinggi namun performa mereka tak membawa mereka ke Liga Primer. Fulham, Wigan, dan Bolton adalah contoh kesebelasan stadion kecil dengan tingkat kesuksesan tinggi, sementara mereka yang memiliki stadion besar tapi performa mereka buruk adalah Ipswich Town, Leeds United, dan Sheffield Wednesday.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan alasan untuk kasus ini.

Kita harus ingat, sekarang ini banyak kesebelasan yang ingin memperluas kapasitas stadion mereka. Kebanyakan dari kesebelasan berstadion kecil akan mengincar kapasitas baru sekitar 20.000 sampai 30.000 tempat duduk.

Apakah memperluas kapasitas akan membantu kesebelasan untuk bermain di Liga Primer? Jawabannya mungkin tidak akan terlalu banyak membantu. Memperluas kapasitas, misalnya, ke lebih dari 40.000 tempat duduk merupakan langkah yang sangat besar.

Satu-satunya contoh kesebelasan yang mencoba untuk membuat lompatan besar dengan membangun stadion yang besar adalah Sunderland.

Sunderland memang merupakan kesebelasan bersejarah, tetapi sebagian besar sejarah itu terjadi lebih dari satu abad yang lalu. Ketika mereka membangun Stadium of Light pada pertengahan 1990-an, mereka adalah kesebelasan di Championship. Pindah dari Roker Park yang kecil ke sebuah stadion yang kapasitasya hampir dua kali lipat pasti merupakan langkah yang ambisius. Apakah langkah ambisius tersebut terbayar?

Setelah pindah ke Stadium of Light, mereka masih terus berkutat di Championship selama dua musim. Bahkan setelah kesebelasan itu naik ke Liga Primer, mereka dua kali terdegradasi lagi. Namun, terakhir kali kesebelasan asal Newcastle ini berhasil bangkit kembali dengan cepat, status mereka sudah relatif aman dalam beberapa tahun terakhir ini.

Sebagai perbandingan, di tahun-tahun awal Liga Premier, situasi Sunderland sangat mirip dengan Birmingham City, Derby, Crystal Palace, Leicester City, Stoke, dan West Brom. Tapi The Black Cats kini tampaknya sudah diposisikan sedikit lebih baik, meskipun kesebelasan seperti West Ham sudah melakukan yang hampir sama baiknya tapi dengan stadion yang lebih kecil.



Stadion besar belum tentu selalu terisi penuh

Sekarang, jika kita melihat kesebelasan yang ingin memperluas kapasitas, ada QPR dan Southampton. Kemudian juga jika West Ham jadi menyewa Stadion Olimpiade London, ini akan menjadi dorongan besar dalam hal kapasitas meskipun sebenarnya Boleyn Ground (atau Upton Park) sudah menjadi salah satu stadion yang besar (35.000 tempat duduk).

Bayangkan, kalau saja berbagai kesebelasan melanjutkan tren untuk memperluas kapasitas stadion, berarti akan ada banyak kesebelasan yang menjadi korban. Satu hal yang kembali perlu kita ingat, hanya ada 20 tempat di Liga Primer. Meningkatkan kapasitas stadion adalah sebuah risiko yang besar.

Sebagian besar klub yang mempertimbangkan untuk memperluas kapasitas berpikir bahwa mereka dapat dengan mudah mengisi kapasitas ekstra ini di Liga Premier, dan anggapan mereka mungkin ada benarnya.

Namun, jika sepakbola Liga Primer adalah hal yang mewah, artinya akan sulit didapatkan secara terus-menerus, banyak tim mungkin akan menemukan diri mereka bermain di stadion setengah-kosong di Championship.

Ditemukan fakta bahwa beberapa tim memiliki masalah untuk mengisi penuh stadion mereka. Persentase stadion terisi rata-rata di Liga Primer adalah lebih dari 90%, sungguh menggiurkan. Sedangkan hampir menjadi sebuah takdir ketika tim bermain di Championship, maka persentase penonton di stadionnya pun akan berkurang, dan sebaliknya.

Jadi, kebanyakan klub punya kasus ketika mereka menyatakan bahwa stadion mereka terlalu kecil untuk Liga Primer. Oke, anggaplah stadion mereka sudah besar, tapi masalahnya adalah bahwa sebagian besar tim akan menghabiskan waktu yang lama di Championship. Kalaupun naik, pasti ada yang turun. Siklus seperti itu terjadi terus-menerus.

Sedangkan di Championship, hampir tidak ada dari mereka semua yang mengisi stadion mereka secara konsisten. Kebanyakan penonton bisa turun sampai 20%, seperti yang bisa Anda lihat di atas.

Cara lain untuk memaksimalkan kapasitas penonton

Banyak hal di atas yang akhirnya membuat beberapa klub mencari cara untuk membangun stadion baru, alih-alih memperluas kapasitas stadion yang sudah ada.

Dalam hal ini, sah-sah saja antusiasme penonton akan meningkat mengingat mereka akan menonton di stadion baru, asal letaknya tidak terlalu jauh saja. Peningkatan tersebut mungkin akan jauh lebih sedikit dalam hal ekspansi, tetapi juga bisa hilang dalam jangka panjang, yang merupakan contoh kasus untuk Middlesbrough dan Hull.



Beberapa klub memiliki pendekatan lain. Reading misalnya yang menyatakan bahwa mereka tidak mengharapkan pendapatan yang lebih, tapi hanya ingin memberikan lebih banyak suporter kesempatan untuk menyaksikan sepakbola Liga Primer. Namun konsekuensinya, akan menjadi stadion setengah kosong di Championship. Apakah itu layak?

Cara lain bisa diambil dengan menurunkan harga tiket. Ini strategi yang banyak dilakukan di Championship. Tapi, masalahnya lagi, adalah bahwa pendapatan matchday (dari tiket stadion) jauh lebih penting statusnya untuk tim Championship dibandingkan mereka yang ada di Liga Primer.

Liga Primer masih mendapatkan uang yang banyak dari siaran televisi ke seluruh dunia dan juga dari sponsor.

Kesimpulan

Stadion memang merupakan aspek terpenting dari kesebelasan sepakbola. Namun, untuk membuat keputusan besar seperti menambah kapasitas stadion atau bahkan membangun stadion baru haruslah melalui waktu yang panjang.

Pastikan performa tim terlebih dahulu untuk stabil, apalagi berlaga di liga penuh tekanan seperti Liga Primer Inggris. Siapa yang tahu jika besok-besok kesebelasan seperti Aston Villa, misalnya, tiba-tiba terdegradasi?

Stadion besar namun kosong akan menjadi hal yang sangat mubazir. Dari efek psikologis juga atmosfer pertandingan pada stadion besar yang kosong akan jauh lebih rendah daripada stadion kecil tapi terisi penuh sesak.

Atmosfer pertandingan sendiri akan langsung berhubungan dengan “jiwa” tim dalam bermain.

Pada intinya, jika stadion kecil saja tidak mampu terisi penuh, sebaiknya keputusan untuk memperluas kapasitas stadion harus ditunda dulu jauh-jauh.

Jadi, memang sudah sewajarnya stadion yang lebih besar belum tentu bisa menjamin kesuksesan, bukan hanya di Premiership.


===

* Akun twitter penulis: @dexglenniza dari @panditfootball
* Foto-foto: Getty Images

(roz/a2s)