Kecemasan-kecemasan Garcia Antara Lille dan Roma

Kecemasan-kecemasan Garcia Antara Lille dan Roma

- Sepakbola
Selasa, 28 Apr 2015 13:31 WIB
Kecemasan-kecemasan Garcia Antara Lille dan Roma
AFP/MARCO BERTORELLO
Jakarta - AS Roma baru saja kembali meraih hasil buruk di Serie A setelah kalah dari Inter Milan 2-1 di Giussepe Meazza. Hasil ini memperpanjang catatan buruk Serigala Ibukota di musim 2014/2015.

Bahkan dari 16 pertandingan yang sudah dijalani Roma di Liga Italia tahun 2015, hanya empat di antaranya yang berakhir dengan kemenangan. Sisanya, 10 kali berakhir imbang dan 2 kali kalah.

Hal ini membuat Roma harus sedikit demi sedikit turun dari puncak klasemen. Kini mereka harus terlempar ke posisi tiga klasemen. Dan yang lebih menyakitkan, mereka digeser oleh tim sekota musuh bebuyutan mereka, Lazio.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal Roma telah memulai musim ini dengan cukup baik. Setelah mendatangkan pemain berpengalaman seperti Ashley Cole dan Seydou Keita serta beberapa bintang baru seperti Davide Astori dan Juan Iturbe, Roma berhasil menjalani laga pramusim dengan baik. Mereka pun memulai Liga Italia dengan beberapa kali berada di puncak klasemen.

Liga Champions lalu Liga Europa, hingga Coppa Italia, saat ini juga sudah tidak lagi dijalani Roma. Secara matematis Scudetto belum sirna dari hadapan Roma, walaupun secara realistis peluangnya amat sangat tipis.

Hasil-hasil tidak oke itu pun membuat para suporter Roma makin sering mengejek anak asuh Garcia sejak memasuki pergantian tahun. Puncaknya, Totti dkk. harus meredakan amarah para ultras tribun selatan (Curva Sud) Olimpico setelah kalah 0-3 ketika menjamu Fiorentina 0-3 pada 20 Maret lalu.

Ada sejumlah suporter yang menilai keterpurukan Roma sebagai kesalahan dari Garcia sebagai pelatih dan Walter Sabatini sebagai direktur teknik. Namun, tepatkah menjadikan Rudi Garcia sebagai kambing hitam dari semua kegagalan Roma musim ini? Padahal musim sebelumnya Garcia telah berhasil membangkitkan penampilan Roma dibandingkan musim-musim sebelumnya.

Keberhasilan Rudi Garcia bersama Lille

Garcia datang di Lille OSC pada musim 2008/2009 setelah cukup sukses membawa Le Mans pada tahun sebelumnya ke papan tengah Ligue 1 Prancis. Datangnya pria yang lahir di Nemours, Prancis, 51 tahun lalu itu mengubah filosofi permainan bertahan Les Dogues, julukan Lille, dibandingan ketika masih ditangani Claude Puel.

Di era Puel, Lille bermain dengan formasi 4-5-1 yang bertahan dan mengandalkan serangan balik. Sedangkan di tangan Garcia, strategi menyerang diadopsi untuk para anak asuhnya dengan formasi 4-3-3. Pada strategi tersebut Garcia memberikan kebebasan bagi kedua full-back untuk menjelajah ke depan. Seorang pemain yang kini memperkuat Arsenal, Mathieu Debuchy, ketika masih di Lille ditransformasi dari gelandang jadi bek sayap kanan. Tujuannya tentu saja karena Garcia ingin memiliki bek kanan yang memiliki naluri menyerang.

Garcia juga sangat mengandalkan tiga gelandangnya Rio Mavuba, Florent Balmont, dan Yohan Cabaye untuk menyeimbangkan serangan Lille dengan tiga penyerang yang dilakoni Eden Hazard, Gervinho, dan Moussa Sow.



Hasilnya, Garcia berhasil membawa Lille mengakhiri puasa gelar dengan menjadi juara dalam Coupe de France 2011/2012. Ini menjadi trofi pertama Lille sejak tahun 1955.

Di musim yang sama, Garcia juga mengantar Lille menjuarai Ligue 1. Lille saat itu mencetak 68 gol dan kebobolan 36 gol, jumlah paling produktif dalam urusan bikin gol dan juga paling minim dalam hal kebobolan.

Awal Keterpurukan Garcia di Lille

Menyusul kesuksesan menjadi juara Ligue 1, sejumlah pemain andalan Lille diincar tim-tim top Eropa. Satu-persatu pemain andalan hengkang, seperti Gervinho ke Arsenal, Hazard ke Chelsea, Cabaye dan Debuchy ke Newcastle, Adil Rami ke Valencia, serta Moussa Sow ke Fenerbahce--meskipun tidak dalam musim yang sama.

Rupaya kekhawatiran kepada Garcia yang ditinggalkan para pemain bintangnya betul-betul terasa. Pada musim berikutnya performa Les Dogues merosot. Permainan mereka cenderung membosankan karena tidak ada kreativitas. Biasanya Lille tidak butuh lebih dari 20 menit untuk mencetak gol ke gawang lawan, tapi karena kreativitas yang minim mereka jarang mencetak gol open play dan gol lebih sering terjadi ketika bola mati.

Serangan Les Douges sudah bisa ditebak lawan-lawannya di Ligue 1. Di sisi lain Garcia tidak memiliki alternatif strategi ketika kesebelasannya kesulitan mengembangkan permainan. Pelatih yang pernah membela Lille semasa masih berkarier sebagai pesepakbola ini juga tidak memilki rotasi yang baik karena Garcia takut melakukan perubahan di taktiknya. Bahkan para pendukung Lille sering dibuat heran dengan pergantian pemain yang dilakukan Garcia ketika pertandingan.

Hadirnya Dimitri Payet yang mulai bersinar pun tidak membawa banyak perubahan. Pasalnya, Payet justru sering kebingungan ketika menyerang dan lebih banyak memilih melepas tembakan-tembakan jarak jauh karena kesulitan menembus lawan. Walhasil Les Douges berakhir di peringkat tiga dan tidak sanggup mempertahankan gelar juara Ligue 1. Lalu pada musim berikutnya Garcia lebih dicibir karena merosot ke peringkat enam ketika Ligue 1 2012/2013.

Sistem yang Sama dengan Roma

Pada awalnya tidak ada keraguan kepada Garcia yang memainkan gaya sepakbola menyerang untuk Roma di musim 2013/2014. Para penggemar Giallorossi terpesona dengan operan cepat dan pergerakan yang baik dari Totti cs.

Komposisi bertahan yang kuat dari duet Leandro Castan dengan Mehdi Benatia membuat pertahanan Roma musim 2013/2014 saat itu sulit ditembus. Lini tengah pun kokoh dengan komposisi Daniele De Rossi, Kevin Strootman, dan Miralem Pjanic. Ketiganya berandil besar ketika membantu pertahanan dan memberikan suplai bola kepada para penyerang di depan.

Akan tetapi, cadai cedera akhirnya menghambat laju Roma di Serie A. Federico Balzaretti dan Strootman hingga sekarang masih bermasalah dengan cedera lutut. Belum lagi ditambah dengan cedera-cedera pemain lain seperti Totti dan Gervinho. Minimnya kedalaman skuat membuat Garcia tidak memiliki banyak pilihan saat pemain-pemain utamanya mengalami cedera.

Musim berikutnya hal yang lebih parah dialami Roma. Permainan mereka dengan mudah dibaca kesebelasan-kesebelasan Italia yang bermain cenderung bertahan total lalu membalas serangan balik.

Badai cedera para pemain Roma pun turut andil dalam keterpurukan kesebelasan peraih scudetto 2000/2001 itu pada musim ini. Absennya para pemain kunci sayangnya tidak diimbangi dengan rotasi yang baik dari Garcia terutama di lini belakang. Sampai saat ini di antara Mapou Yanga-Mbiwa, Kostas Manolas, dan Davide Astori masih belum bisa menggantikan Castan yang mengalami cedera kepala.



Komposisi full-back kanan yang paling disorot. Setelah cedera Maicon yang tidak kunjung pulih, Garcia mencoba menempatkan Alessandro Florenzi di kekosongan Maicon. Penempatan Florenzi di bek kanan merupakan taktik Garcia yang pernah dipakai di Lille--kala itu ia menggeser Debuchy dari tengah ke full-back kanan. Hasilnya? Florenzi bukanlah Debuchy, sisi kanan Roma yang ditempati Florenzi sering dijadikan sasaran serangan lawan.

Sementara itu Garcia tidak memiliki alternatif strategi ketika menginstruksikan serangan. Gaya menyerang Roma yang mengandalkan kedua sayap dan mengandalkan Totti sebagai tumpuan mampu dimatikan bek-bek lawan. Jalur-jalur operan menuju kedua sayap ditutup sehingga aliran bola Roma tidak bisa sampai ke depan.

Kekeliruan Transfer Januari 2015

Performa buruk Roma dilengkapi dengan kegagalan mereka pada transfer di bulan Januari. Kesalahan dimulai dengan tidak adanya pemain yang didatangi untuk mengisi kekosongan di posisi bek kanan. Kegagalan Florenzi saat ditransformasi menjadi bek kanan tidak disambut dengan mendatangkan pemain baru.

Pada transfer Januari, Roma seperti tidak memiliki perencanaan untuk mendatangkan pemain baru sesuai kebutuhan. Ditambah lagi, mereka juga melakukan kekeliruan dengan meminjamkan penyerang asal Italia, Mattia Destro. Kendati Destro juga tidak menunjukan penampilan yang stabil, namun pemain ini merupakan satu-satunya penyerang bertipe finisher yang dimiliki Roma saat itu.

Roma memang mendatangkan pengganti Destro, yaitu Seydou Doumbia dan Victor Ibarbo. Namun kedua pemain ini tidak bisa memenuhi harapan Garcia. Keduanya bahkan belum menyumbangkan satupun gol bagi AS Roma hingga saat ini.

Tentunya Garcia harus memiliki variasi taktik di dalam permainan Roma agar tidak mudah terbaca oleh lawan saat ini. Selain itu Garcia juga harus berani mempromosikan para pemain mudanya untuk menutupi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan pilar Roma lain karena cedera.

Kesimpulan

Garcia masih layak diberi waktu di Roma pada musim depan. Dengan catatan ia memilih pemain yang benar-benar sesuai keinginan dan juga harus disertai dengan variasi taktik, agar permainan Roma tidak monoton dan mudah terbaca oleh lawan-lawannya. Selain itu Garcia juga harus berani mempromosikan para pemain mudanya untuk menutupi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan pemain lain karena cedera.

====

*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun Twitter @RandyNteng



(krs/mfi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads