[Baca Bagian I: Prestasi Abadi karena Gengsi]
Pada tulisan pertama kami telah memaparkan dua dari tiga motivasi Pemerintah Korea Selatan (Korsel) untuk meningkatkan olahraga di Negeri Ginseng tersebut. Faktor nasionalisme dan gengsi sebenarnya tidak bisa menjadi alasan atas keberhasilan suatu negara mengelola olahraganya, karena alasan tersebut bisa hilang begitu saja andai tujuan sudah tercapai.
Motivasi yang pertama terkait nasionalisme sudah tidak bisa diandalkan karena Korsel secara fisik tidak sedang dijajah oleh siapa-siapa. Kedaulatan mereka tidak terancam, bahkan budaya mereka—lewat hallyu—yang kini mulai "menjajah" negara lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal sepakbola, walaupun Jepang lebih sering hadir di Piala Dunia, tapi toh cuma Korsel yang bisa sampai babak semifinal. Jika motivasinya hanya gengsi, apalagi yang dibutuhkan Korsel?
Tak Semeriah Piala Dunia
Korsel dan Jepang bersaing dalam pemlihan tuan rumah Piala Dunia 2002. Namun, jelang keputusan, Korsel dan Jepang setuju untuk menjadi tuan rumah bersama (joint host). Keputusan tersebut menjadikan Piala Dunia 2002 untuk pertama kali digelar di dua negara, 20 kota, dan 20 stadion.
Keduanya sukses melenggang dari babak grup. Kejutan ditampilkan Korsel dengan mencapai babak semifinal setelah mengalahkan sejumlah unggulan seperti Portugal, Italia, dan Spanyol.
Saat pertandingan yang melibatkan Korsel digelar, puluhan ribu pendukung Taeguk Warriors dengan kostum merah menyemut di lokasi "nonton bareng". Masyarakat Korea pun berharap lebih pada Ahn Jung-hwan dan kolega. Mereka selalu ternginang pada legenda sepakbola Korsel, Cha Bum-kum, yang begitu dihormati dan dikenal kala bermain di Liga Jerman.
Usai Piala Dunia, sejumlah pemain pun direkrut kesebelasan Eropa. Kim Nam-il dipinjamkan ke Excelsior, Lee Young-pyo dan Park Ji-sung ke PSV Eindhoven, Lee Eul-yong ke Trabzonspor, Lee Chun-soo ke Real Sociedad, Cha Du-ri ke Bayer Leverkusen, dan Song Chong-gug ke Feyenoord.
Keberhasilan "mengekspor" pemain ini nyatanya tak sejalan dengan keberhasilan Liga Korea, K-League. Jika menilik perbandingan jumlah penonton, K-League kala itu masih kalah jauh oleh kompetisi bisbol Korea, KBO League. Hingga 2012, rataan penonton di K-League tak lebih dari 10 ribu.
Sistem K-League
Jung Woo-lee dalam tulisannya mengenai migrasi para pesepakbola Korsel menyatakan bahwa pengembangan olahraga di Korsel pada 1980-an tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Pemerintah mengeksploitasi olahraga sebagai alat politik, dan sepakbola merupakan satu di antaranya.
Liga sepakbola Korsel menjadi profesional saat Korean Super League (KSL) dibentuk pada 1983, dan murni diikuti oleh kesebelasan profesional sejak 1987. Namun KSL memiliki masalah karena minimnya jumlah penonton yang hadir ke stadion.
KSL mulai berkembang dengan perubahan operator liga dari tangan Federasi Sepakbola Korea, KFA, ke Federasi Pesepakbola Profesional Korea, KPPF pada 1994. KPPF mulai secara agresif melakukan pendekatan dan penetrasi kepada pasar. Salah satu hasilnya adalah pengenalan kembali (re-branding) KSL dengan perubahan format dan nama menjadi K-League. Perubahan ini mendapatkan respons positif karena hampir bersamaan dengan momentum terpilihnya Korsel sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002.
Perubahan ini juga terinspirasi dari pembentukan liga sepakbola Jepang, J-League, yang dianggap lebih sukses secara ekonomi. J-League mampu menarik pesepakbola dari luar negeri untuk bermain di sana. Ini juga yang membuat banyak pesepakbola Korea pada akhir 1990-an hijrah ke J-League. Selain karena tawaran yang lebih baik, faktor kompetitifnya liga menjadi alasan lain. Tidak sedikit yang merasa percuma bermain bagus, tapi tidak ada yang memberi apresiasi (menonton).
Sebelum 2012, K-League tidak mengenal sistem promosi-degradasi. Ini karena hanya K-League yang merupakan satu-satunya kompetisi profesional di Korsel.

Jumlah kesebelasan yang berlaga di divisi teratas Liga Korsel (K-League Classic) sebenarnya tidak menentu. Pada 2001, hanya 10 kesebelasan. Empat tahun berselang, jumlahnya naik menjadi 13 kesebelasan. Lalu, sejak 2011 naik menjadi 16 kesebelasan.
Setelah musim 2011, operator liga mewacanakan pembentukan divisi dua (K-League Challange). Ini juga dilakukan untuk menyiasati pengurangan kesebelasan setiap tahunnya secara bertahap untuk mencapai 12 kesebelasan.
Pada musim 2011, dua kesebelasan terdegradasi, dan pada 2012, dua kesebelasan juga terdegradasi yang membuat jumlah peserta kompetisi berkurang menjadi 14 saja. Pada musim 2013, operator liga mulai menerapkan sistem promosi. Juara divisi dua diadu dengan peringkat ke-12 lewat babak play off. Ini yang membuat kompetisi pada musim 2014 diikuti oleh 12 kesebelasan.
Sejak 2014, operator liga menetapkan jumlah peserta kompetisi 12 kesebelasan dengan ketentuan peringkat terbawah langsung terdegradasi dan peringkat ke-11 mesti melalui babak playoff.
Tidak Ada yang Salah dengan Sistem
Dalam korespondensi lewat surat elektronik dengan Panditfootball, jurnalis Joongan Daily, Joo Kyung-don, secara spesifik menyebut rataan jumlah penonton pada musim lalu hanya 7.931 setiap pertandingan. Menurutnya, tidak ada kemajuan secara signifikan dari beberapa tahun sebelumnya.
Masalah utama K-League saat ini adalah minimnya jumlah penonton yang hadir di stadion. Namun, jika membicarakan prestasi, itu hal yang lain lagi.
Sejak 1985/1986, Korea sudah menjadi juara Asian Champions League/AFC Champions League sebanyak 10 kali dan enam kali sebagai runner up. Gelar tersebut didapatkan dari enam kesebelasan yang bertanding di K League.
Sulit untuk menyebut bagaimana kualitas sebuah liga. Soal "kompetitif" bisa dilihat dari apakah gelar juara liga tersebut dimonopoli oleh satu kesebelasan saja, atau peluang semua kesebelasan sama setiap musimnya.
Ukuran kualitas barangkali hanya bisa dibuktikan dengan mempertandingkan perwakilan satu liga dengan liga lainnya. Dalam hal ini, Korsel adalah yang terbaik di Asia, jauh di atas kesebelasan Liga Jepang yang juara lima kali dan kesebelasan Liga Saudi Arabia yang juara empat kali.
Mengubah Sistem K-League
K League merupakan hasil dari reformasi liga sepakbola Korsel yang telah dimulai sejak 1983. Reformasi tersebut terjadi pada 1998 dengan mengubah Korean Super League menjadi K-League yang terdiri atas 16 kesebelasan.
Faktanya, reformasi tersebut tak cukup merebut perhatian penggemar sepakbola Korsel untuk datang ke stadion, atau sekadar menyaksikan lewat televisi.
Operator liga sudah beberapa kali mengubah format kompetisi seperti mengubah jumlah peserta yang dianggap terlalu banyak, hingga membentuk divisi dua.
Musim 2004, 2005, 2006, dan 2007, K-League mengikuti sistem kompetisi sepakbola Amerika, MLS dengan babak playoff untuk menentukan gelar juara.
Pada musim 2004-2006, kompetisi dibagi menjadi dua "season" sama seperti di MLS. Juara dua "season" serta dua kesebelasan terbaik setelah digabungkan secara poin, berhak tampil di babak playoff.
Namun, perubahan-perubahan tersebut tak berarti apa-apa karena K League tetap sepi penonton.

Butuh Pemain Besar
Masyarakat Korsel bukannya malas menyaksikan pertandingan sepakbola. Kepindahan sejumlah bintang ke Eropa, membuat ekspektasi mereka menjadi tinggi.
"Pengamat sepakbola mengatakan bahwa terlalu banyak pemain top yang bermain di luar, misalnya di Liga Primer Inggris," tulis Kyung-don, "Penggemar lebih memilih menyaksikan permainan mereka (pemain Korsel yang main di Eropa), ketimbang menyaksikan K-League."
Saat ini, pesepakbola Korsel di Eropa bukan lagi sebagai pajangan ataupun cara marketing kesebelasan—meskipun barangkali tujuan awalnya seperti itu. Penggemar Manchester United mana yang tak mengenal Ki Sung-yueng? Dua golnya ke gawang David De Gea, membuat United tak bisa menang atas Swansea di liga.
Pun dengan Son Heung-min di Bayer Leverkusen yang sempat menghentak lewat hattrick-nya kala menghadapi Wolfsburg di Bundesliga.
Berdasarkan The National, pada awal musim 2014/2015, terdapat 11 pemain Korsel yang berlaga di divisi teratas liga-liga di Eropa. Jumlah ini memang jauh jika dibandingkan 40 pesepakbola Jepang yang berlaga di divisi teratas liga-liga di Eropa. Namun, mayoritas dari 11 pemain tersebut merupakan pemain kunci di kesebelasanya, yang menjadi bahan perbincangan media.
Ki Sung-yueng di Swansea, Ji Dong-won dan Hong Jeong-ho di Augsburg, Koo Ja-cheol dan Park Joo-ho di Mainz, Yun Suk-young di Queens Park Rangers, Son Heung-min di Bayer Leverkusen, Kim Jin-su di Hoffenheim, Yoo Byung-soo di KC Rostov, Suk Hyun-jin di Nacional, dan Chung Woon di NK Istra.

Dimulai dari Kesebelasan
Menurut Kyung-don, kesebelasan-kesebelasan di K-League mulai melakukan marketing yang lebih baik untuk mendapatkan perhatian penggemar. "Pemain bintang seperti Park Chu-young yang pindah ke FC Seoul bisa menambah minat liga," kata Kyung-don.
Sedikitnya jumlah kesebelasan—bahkan sebelum ada divisi dua—membuat mereka yang bertanding adalah kesebelasan yang benar-benar dikelola secara profesional. Kesebelasan yang bertanding di K League berupaya semaksimal mungkin mengimbangi kualitas dengan kesebelasan lainnya.
Jadwal kompetisi pun bisa disusun dengan setiap kesebelasan bertanding sekali dalam satu pekan. Jika jumlah peserta kompetisi hanya 12, berarti mereka hanya melakoni 24 pertandingan setiap pekannya, atau sekitar enam bulan saja. Sisa waktu dalam satu tahun bisa digunakan untuk persiapan kesebelasan nasional.
Hal ini berbeda jika kita melihat kenyataan yang terjadi pada kesebelasan profesional di Indonesia. Ada kesebelasan yang mampu mengikuti kompetisi tanpa tunggakan utang bahkan terkesan mewah. Di sisi lain, ada pula kesebelasan yang selain hidup sederhana, juga terkendala tuntutan gaji dari pemain karena tak dibayar dua hingga tiga bulan.

Sinergi antara operator liga dengan kesebelasan itu sendiri memang penting. Prestasi yang ditorehkan kesebelasan-kesebelasan Korsel di tingkat Asia tidak akan ada hasilnya jika mereka tak bisa mendapatkan penggemar. Bagaimanapun penggemar adalah komponen penting bagi kesebelasan untuk tawar menawar soal kesepakatan dengan sponsor.
Sulit bagi kesebelasan dengan penggemar yang minim untuk mendapatkan penghasilan dari penjualan tiket dan merchandise.
Namun, hal sebaliknya juga terjadi pada kesebelasan dengan basis massa yang besar tapi minim prestasi. Mungkinkah kesebelasan menjual mahal harga tiket dan merchandise dengan harga yang kelewat mahal, tanpa prestasi tinggi di atas lapangan? Semua itu kembali pada tujuan pembentukan liga, apakah untuk industri ataukah prestasi.
Namun, agaknya sulit mengembangkan sebuah industri yang maju dalam sebuah kompetisi tanpa profesionalisme dari kesebelasan dan pengelola liga itu sendiri.
====
*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @Aditz92
*Foto-foto: Getty Images dan AFP
(roz/roz)










































