Membandingkan (Olahraga) F1 dengan Sepakbola

Dex Glenniza - Sepakbola
Jumat, 18 Mar 2016 13:06 WIB
Jakarta -

Sejak 1949, belum pernah balapan Formula One (F1) mampir di Indonesia. Pun belum pernah ada pebalap Indonesia yang mengendarai mobil F1 di balapan resmi. Rio Haryanto akhirnya mampu menciptakan sejarah.

Bagaimanapun cara yang ia lalui, ia akhirnya mampu menjadi pebalap asal Indonesia pertama di ajang F1 dengan bergabung bersama Manor Racing MRT.

Balapan pertama F1 musim 2016 ini akan berlangsung pada akhir pekan ini di Grand Prix Australia. Mulai dari sesi latihan, kualifikasi, dan kemudian balapan resmi yang akan berlangsung pada Hari Minggu (20/03/2016), adalah akhir pekan yang patut kita nantikan.

Satu hal menarik dari F1 adalah kehadirannya yang sudah secara umum dianggap sebagai olahraga. Ada banyak pertentangan dari pernyataan bahwa F1 adalah olahraga. Bagi sebagian orang, mungkin sulit memahami bagaimana balap mobil bisa-bisanya dikategorikan sebagai olahraga.

Hal ini juga sebenarnya berlaku juga untuk olahraga motor, atau motorsport (perhatikan, ada kata "sport" di sana) lainnya seperti MotoGP, NASCAR, Rally, dan sebagainya.

Pada kenyataannya, berita "olahraga" di detiksport ini saja selalu menampilkan berita balap mobil dan balap motor. Begitu juga masyarakat Indonesia, tanpa kehadiran Rio sekalipun, sudah jadi konsumen utama "olahraga" ini setelah sepakbola.

Tidak banyak orang yang memahami bahwa F1 (dan juga MotoGP serta yang lainnya) memang masuk kepada kategori olahraga pada aspek yang lain, tentunya aspek yang khusus. Jika kita mengacu pada arti kata olahraga dari bahasa Prancis kuno, kita akan menemukan "untuk menyenangkan diri" dan "untuk bermain" sebagai artinya.

Ya, bermain adalah inti dari olahraga. Bukan "olah" dan "raga" itu sendiri yang bisa berdampak kepada kesehatan. Tapi jika menonton balapan F1 membuat kita mengerutkan dahi karena tidak rela F1 disebut "olahraga", maka mari kita lihat dari perspektif lainnya, perspektif yang utama, yaitu atletnya; atau dalam hal ini: pengendara mobilnya.

Pebalap juga adalah atlet

Ternyata pebalap F1 dituntut untuk memiliki mental dan fisik yang kuat. Kunci dari kedua hal di atas adalah dalam menjaga tubuh agar tidak sampai kekurangan cairan. Ini hampir mirip dengan sepakbola dan olahraga lainnya.

Paragraf di atas menjelaskan benar kepada kita bahwa pebalap F1 butuh latihan dan persiapan khusus. Tidak bisa sembarangan orang, bahkan dengan proporsi bisnis terdepan sekalipun, bisa menjadi pebalap F1. Bisa jadi, sekadar mengendarai mobil F1 saja kita harus melalui serangkaian tes fisik dan mental.



Pada kenyataannya, kita bisa membandingkan pebalap F1 dengan atlet profesional seperti sepakbola, bersepeda, renang, bela diri, dan lain sebagainya. Alasan utama pebalap F1 disebut "atlet" adalah karena mereka butuh kekuatan mental dan fisik yang tinggi.

Para pebalap sudah terbiasa menekan diri mereka kepada batas maksimal potensi tubuh manusia agar bisa bertahan dalam sekitar 90 balapan. Sementara sekali balapan, dari mulai persiapan, warming up, balapan, finis, sampai seremonial, memiliki durasi sekitar dua jam. Itu adalah hal yang menguras mental dan fisik, terutama untuk pebalap jet darat kelas dunia.

Ini bukan hanya urusan otot, pebalap harus senantiasa menjaga tubuhnya agar dapat beradaptasi akibat stres atau tekanan ketika balapan.

Bagaimana tubuh bekerja saat balapan

Untuk memahami dampak balapan, terutama F1, kepada tubuh manusia, mari kita memulainya dari paling atas. Pertama, kepala mereka akan memiliki rata-rata berat 6 kilogram, ditambah lagi helm yang bisa mencapai 1 kg. Sementara atlet olahraga biasa hanya memiliki beban kepala sekitar 5 kg.



Angka ini memang seperti tidak seberapa. Tapi ketika mereka meliuk-liuk di atas lintasan balap, berat kepala mereka dapat bertambah hingga lebih dari lima kali lipat (atau mencapai sekitar 35-40 kg).

Hal ini terjadi karena ketika berbelok, tubuh mereka dapat menerima gaya gravitasi mencapai 5G atau lima kali gaya normal gravitasi bumi. Ini yang membuat para pebalap butuh untuk membangun kekuatan leher dan bahu sebagai fokus latihan mereka.

Selanjutnya, tingkat konsentrasi mereka dituntut untuk senantiasa mencapai presisi hingga mencapai kecepatan 300 km/jam. Bayangkan, pengambilan keputusan secepat apa ketika mereka sedang bergerak secepat itu.

Masalah detak jantung juga akan berpengaruhn dengan rata-rata 200 detak per menit (sekitar 105% dari detak maksimal pria dewasa dengan berat badan 60-70 kg). Pemain sepakbola tidak ada apa-apanya bahkan ketika mereka sedang melakukan sprint sekalipun (158 detak per menit).

"Mereka adalah satu dari beberapa atlet yang paling fit yang pernah saya temui", kata Garry Palmer, seorang fisiolog. "Suatu kali Eddie Jordan pergi ke gym hotel di jam 3 pagi, dan Michael Schumacher sedang lari di treadmill," seperti yang kami kutip dari FourFourTwo Performance.

Stamina adalah satu hal yang sangat jelas yang dibutuhkan oleh pebalap F1. Mereka harus memiliki toleransi yang tinggi terhadap stres akibat panas.

Suhu bisa mencapai 50 derajat Celcius di dalam pakaian balapan mereka, sehingga keringat mereka pun mengalir deras dan jika dikumpuikan dapat mencapai dua liter setiap kali balapan. Tak heran, berat badan mereka bisa turun sampai 5 kg.

Sementara bagi pemain sepakbola, suhu tubuh mereka umumnya tidak akan sepanas itu. Namun, tergantung dari suhu lingkungan tempat pesepakbola bermain. Rata-rata pemain sepakbola "hanya" kehilangan 1 kg berat badan setiap kali bermain full-time.

Fokus latihan pebalap F1

Selain membalap, atau mengemudi di dalam mobil mereka, pebalap F1 membutuhkan latihan sampai 12 jam dalam satu hari. Umumnya mereka memiliki kekuatan tubuh yang merata, terutama pada bagian inti tubuh dan leher.

Latihan cardio biasanya mendapat porsi paling banyak, yaitu 6 jam per hari. Mereka juga kadang melakukan olahraga lain selain latihan cardio, seperti berenang, lari, bersepeda, dan tentu saja sepakbola.



Selain untuk menghindari kebosanan, olahraga-olahraga di atas mereka jalani agar mereka bisa tetap menjaga daya tahan tubuh mereka. Ini yang tidak jarang membuat ada pebalap F1 yang mengikuti menu latihan triathlon (renang, bersepeda, dan lari, berturut-turut) untuk meningkatkan kondisi tubuh mereka, atau "sekadar" ikut lomba lari maraton (42 kilometer) maupun half-maraton (21 km).

Latihan kekuatan di gym juga menjadi menu lainnya, dengan durasi sekitar 2 jam setiap harinya. Fokus latihan mereka, sesuai urutan kepentingannya, adalah pada leher, bahu, inti tubuh, punggung, tangan, dan lengan.

Skuat dan shoulder press adalah dua jenis latihan yang umum dilakukan oleh para pebalap F1, tak terkecuali juga pastinya oleh Rio Haryanto.

Kemudian selain cardio dan kekuatan, pebalap F1 juga dituntuk untuk memiliki daya gebrak yang cepat dan eksplosivitas dari otot-otot mereka. Hal ini dilakukan karena pada balapan, banyak otot yang bekerja secara tiba-tiba, seperti pada saat mengerem, belok, pindah gigi, dan lain-lain.

Latihan ini disebut dengan latihan koordinasi dan sinergi antara grup-grup otot. Latihan jenis ini biasanya berlangsung selama dua jam setiap hari.

Jenis latihan lainnya berupa latihan mental juga sangat penting. Biasanya berlangsung selama dua jam setiap harinya, dimaksudkan agar pebalap F1 senantiasa menjaga konsentrasi dan refleks mereka.

Latihan seperti ini biasanya hampir sama dengan latihan para penjaga gawang, karena menuntut refleks dan membuat keputusan secara cepat.

Tidak sampai di situ, pebalap F1 juga dituntut untuk selalu menjaga diet nutrisi mereka, seperti minum 4 liter air setiap hari, 1 liter air setiap jam saat latihan, serta makan 6 kali sehari agar metabolsime menjadi cepat dan bisa meningkatkan konsentrasi.

Menu makanan mereka juga sedikit berbeda dengan sepakbola, yaitu memperbanyak protein, karbohidrat, serta menghindari lemak.

Atlet sepakbola tidak lebih baik daripada pebalap F1



Membandingkan atlet sepakbola dengan pebalap F1 tentunya akan sangat sulit karena ini bukan lah perbandingan yang 100% sebanding. Namun, dari kondisi kebugaran fisik dan mental, atlet F1 profesional akan terlihat lebih bugar dan lebih sehat daripada atlet sepakbola.

Para pebalap F1 bisa menghabiskan sampai 1500 kalori sekali balapan (tanpa persiapan dan seremonial). Sementara atlet sepakbola berada di bawahnya dengan 790 kalori sekali tanding.

Jika memakai hitung-hitungan kasar, sekali balapan akan sama lelahnya dengan bermain dua pertandingan sepakbola berturut-turut (2 x 90 menit). Padahal pebalap F1 "hanya menyetir", tidak berlari.

Hal tersebut lah yang menjadi alasan jika atlet F1 tidak sebanyak atlet sepakbola. Selain karena aspek bisnis dan finansial, ada banyak hal yang dituntut dari fisik dan mental para pebalap F1.

Jika mau dibandingkan secara langsung, atlet sepakbola hampir pasti tidak sanggup jika harus berada di belakang kemudi mobil balap jet darat secara rutin. Hal yang sebaliknya tidak berlaku untuk atlet F1.

Mengingatkan kembali bahwa atlet F1 memiliki menu latihan yang dapat mencakup bermain sepakbola, sehingga membuat pebalap F1 bisa saja menjadi atlet sepakbola profesional (secara fisik, bukan teknik).

Kalau-kalau ada yang ingin menyeberang, atlet F1 di atas kertas akan sangat cocok menjadi penyerang ataupun bek tengah yang mengandalkan fisik dan kemampuan menyundul atau duel bola udara akibat dari kekuatan otot leher, pundak, dan inti tubuh mereka.

Sedangkan menjadi penjaga gawang juga bisa menjadi pilihan bagi para atlet F1 karena kemampuan konsentrasi dan refleks mereka. Hanya saja, mungkin atlet F1 tidak memiliki kemampuan fisik yang memenuhi kebutuhan ideal seorang penjaga gawang, misalnya atletisme dalam melompat dan menangkap bola.


[Perbandingan beban pebalap F1 dengan pesepakbola]

Setelah melihat fakta dari sains di atas, akhirnya kita sudah sama-sama paham jika atlet F1 dan sepakbola sama-sama merupakan atlet yang membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima. Tidak sembarangan orang bisa menjadi pesepakbola profesional, begitupun tidak sembarangan orang bisa menjadi pebalap F1.

Membandingkan olahraga F1 dengan sepakbola memang tidak sesederhana kita membaca tulisan ini. Namun, setidaknya dalam beberapa aspek krusial, bahkan pebalap F1 menerima beban yang lebih besar dibandingkan dengan atlet sepakbola.

Sampai pada titik ini, kita sudah sama-sama paham satu perspektif bahwa F1 ternyata masuk ke dalam kategori "olahraga". Setuju maupun tidak setuju, ada baiknya jika kita sama-sama mendukung Rio Haryanto di Formula One mulai dari Grand Prix Australia akhir pekan ini.



====
* Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza

(a2s/roz)