sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Sabtu, 24 Mei 2014 08:23 WIB

Kesempatan Atletico Madrid Menjadi 'Singa-Singa Lisbon'

- detikSport
Jakarta -

Pernahkah sebuah tim "tarkam" (antarkampung) menjuarai Liga Champions? Jika definisi tim tarkam adalah tim yang beranggotakan anak-anak yang berasal dari satu kampung yang sama, maka jawabannya adalah pernah.

Empatpuluh tujuh tahun lalu, Glasgow Celtic yang 14 dari 15 pemainnya lahir dalam radius 10 km dari stadion Celtic Park, melakukan sesuatu yang luar biasa dengan mengalahkan Inter Milan di final Piala Eropa.

Pencapaian Celtic di bawah manajer legendaris Jock Stein itu hebat bukan hanya karena mereka menjadi tim pertama dari Britania Raya yang menjuarai kompetisi klub tertinggi di Eropa, tapi lawan yang mereka kalahkan di final adalah skuat Internazionale yang merajai Eropa di dekade-60an di bawah kendali mahaguru Catenaccio, Helenio Herrera. Inter Milan adalah raja kontinental pada periode dengan menjuarai Piala Eropa 2 kali dalam 3 musim sebelumnya.

Kemenangan Celtic dipuji setinggi langit karena dianggap sebagai kemenangan sepakbola menyerang atas sepakbola ultra-defensifnya Inter. Unggul gol cepat di menit ke-7 usai gol penalti Sandro Mazzola, Herrera langsung menyuruh para pemainnya bertahan total dan membiarkan Celtic memegang bola selama mungkin. Gol kemenangan Stevie Chalmers enam menit menjelang peluit akhir membuat trofi Eropa terbang ke Glasgow selama setahun dan membaptis seluruh skuat Celtic dengan julukan 'The Lisbon Lions'. Singa-singa Lisbon.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian bersejarah tahun 1967 itu, final Liga Champions kembali digelar di Lisbon dan mempertemukan dua tim dari ibukota Spanyol, Real Madrid dan Atletico Madrid.

Jika 47 tahun silam yang menjadi narasi utama adalah apakah gaya sepakbola menyerang Jock Stein bisa membongkar gembok catenaccio Hellenio Herrera, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Atletico yang anggaran belanja dan gaji pemainnya tak seujung kuku Real Madrid, bisa menumbangkan rival sekotanya yang lebih tajir melintir itu.

Namun jangan tertipu oleh prestasi Atletico yang miskin dalam 20 tahun terakhir. Jarangnya mereka mengangkat piala plus anggaran finansial yang sedang-sedang saja membuat banyak orang mengira bahwa mereka adalah tim yang bersahaja. Kenyataannya Atletico adalah tim terbesar nomor 3 di Spanyol setelah Real Madrid dan Barcelona, baik secara ekonomi maupun juga dari aspek suporter.

Yang membuat Atletico tercitrakan sebagai tim orang susah adalah karena mereka kerap menjadi pecundang jika dihadapkan satu lawan satu dengan Real Madrid. Ini yang membuat mereka menjadi bahan tertawaan orang dan dirujuk dengan julukan Patetico Madrid. Apalagi, sebelum musim lalu, Atletico tak pernah menang dalam 14 tahun terakhir hingga akhirnya mereka menaklukkan Real Madrid di final Copa Del Rey.

Tadinya ini adalah rivalitas yang bertepuk sebelah tangan. Para fans Atletico menganggap bahwa Real Madrid adalah musuh terbesar mereka, tapi suporter Real Madrid tidak menganggapnya demikian, bahkan cenderung menaruh iba pada Atletico. Ini tentu saja dikarenakan dalam 2 dekade terakhir, Real Madrid lebih bersaing dengan Barcelona dibanding dengan Atletico.

Rivalitas tak kesampaian fans Atletico ini mirip dengan apa yang dirasakan suporter timnas Inggris yang menganggap bahwa timnas Jerman adalah musuh terbesar mereka padahal Jerman tak merasa demikian. "Nggak level", kalau kata anak zaman sekarang.

Meskipun Atletico bangkit dalam 2 musim terakhir berkat kehebatan Diego Simeone sebagai manajer, dan fakta bahwa Atletico sebenarnya bukan tim yang miskin-miskin amat (sebagai perbandingan, tim anak bawang di kota Madrid sebenarnya adalah Rayo Vallecano), tapi demografi suporter dan citra yang melekat sudah kadung seperti itu.

Lokasi stadion masing-masing saja sudah menyatakan adanya perbedaan strata sosial. Santiago Bernabeu terletak di distrik Chamartin di utara kota Madrid, sebuah daerah elite yang tak beda jauh dengan Menteng di Jakarta. Stadion Vicente Calderon terletak di distrik Arganzuela di selatan kota Madrid, di sebuah daerah industri yang dikelilingi oleh kelas menengah ke bawah.



Setiap kali para fans Atletico bertandang ke distrik Chamartin, mereka selalu bermimpi kapan mereka bisa setara dengan tetangga mereka yang lebih mewah. Reputasi Atletico sebagai tim semenjana sebenarnya baru terbentuk pada dekade 80 hingga 90-an ketika Barcelona menyeruak naik dan menenggelamkan nama Atletico. Duopoli Real Madrid dan Barcelona membuat La Liga terlihat seperti Liga Skotlandia, dengan Old Firm-nya, yang dimainkan sedikit lebih indah.

Publik lupa bahwa bagaimana pun Atletico tetap tim dengan gelar La Liga terbanyak nomor 3. Mereka juga sudah pernah masuk ke final Piala Eropa pada tahun 1974 melawan Bayern Munich dan hampir juara berkat gol Luis Aragones jika bukan karena tendangan sensasional Hans-Georg Schwarzenbeck yang menggagalkannya.

Luis Aragones, yang baru meninggal dunia beberapa tahun, tak bisa menyaksikan tim yang ia cintai akan mencoba meraih mimpinya yang hancur 40 tahun lalu. Tapi jika ia masih hidup, ia pasti akan memberikan standing ovation kepada Diego Simeone yang sukses mengembalikan Atletico Madrid ke khittah sebagai tim juara.

Bagaimana hebatnya Simeone sebagai seorang manajer dan dipuja-puji banyak orang seperti anti-tesis dari bagaimana ia dipotret sebagai figur ketika masih bermain.

Sebagai seorang pemain yang tugasnya melakukan pekerjaan kotor di lapangan, Simeone bukanlah sosok pemain yang diidolakan banyak orang. Seorang gelandang bertahan dalam sebuah tim sepak bola layaknya pemain bass dalam sebuah band. Para penggemar histeris meneriakkan nama vokalis sebagai frontman seperti halnya suporter mengelu-elukan striker sebagai ujung tombak. Simeone sama sekali bukan pemain jelek, tapi ia jelas bukan pemain primadona yang populer.

Bahkan ketika Simeone sukses membuat David Beckham terlihat seperti orang dungu usai insiden di Piala Dunia 1998 yang berbuah kartu merah bagi Becks, orang lebih sukses mencaci-maki Beckham dibanding memuji Simeone. Tidak ada yang terlalu peduli pada Simeone. Apa pun citra yang melekat pada Beckham, jutaan anak kecil di dunia bermimpi untuk menjadi dirinya. Berapa banyak anak di dunia ini yang tumbuh besar mengidolakan Simeone?

Dengan gelar juara La Liga di tangan, dan sebelumnya Copa Del Rey serta Europa League, sekarang Simeone bisa menjadi sorotan banyak orang dengan pujian yang beterbangan di sana-sini. Entah jika puja-puji adalah sesuatu yang ia inginkan karena selama ini Simeone sudah membuktikan bahwa timnya bisa bermain defensif yang membosankan jika diperlukan, tapi juga bisa bermain atraktif dan eksplosif dalam kesempatan lain. Ia tahu mana yang terbaik bagi timnya dan tak peduli perkataan orang.

Di Estadio Da Luz hari Sabtu malam nanti, seluruh bekas pemain Glasgow Celtic yang menjuarai European Cup tahun 1967 akan hadir untuk menonton pertandingan final Champions League. Mereka semua sudah renta, tapi The Lisbon Lions tak akan pernah dilupakan dalam catatan sejarah. Mereka sukses memutarbalikkan perkiraan dan meruntuhkan hegemoni yang berkuasa.

Diego Simeone dan Atletico Madrid sekarang juga punya kesempatan yang sama untuk meruntuhkan hegemoni Real Madrid dan membuyarkan mimpi La Decima. Jika mereka sukses melakukannya, maka Simeone tahu bahwa ia tidak sedang menukangi pemain sepakbola biasa, ia sedang melatih singa-singa yang menaklukkan kota Lisbon.



Madrid, 22 Mei 2014


====

* Penulis adalah satiris dan presenter olahraga. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan

(a2s/roz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed