Ini semua terdengar familiar.
Lord Vicente dari House Espana membawa pasukannya ke sebuah perjamuan yang seharusnya menjadi ajang pesta. Seluruh ksatria terbaiknya turut ia bawa serta. Prajurit legendaris seperti Ser Xavi Hernandez dan Ser Andres Iniesta masih ada dalam pasukan. Kedua ksatria ini bertubuh mungil, serupa dengan anak bungsu dari Lord Tywin Lannister.
Masih ada juga Ser Sergio Busquets dan Ser Xabi Alonso sebagai penjaga jantung medan perang ditambah Ser Sergio Ramos dan Ser Gerard Pique sebagai pengawal barisan belakang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenangan Battle of Johannesburg masih terpatri dalam ingatan. Kemenangan tentara Lord Vicente dalam pertempuran tersebut memberikannya gelar The King of The World yang membuat House Espana menjadi sasaran kecemburuan dari seluruh pihak di kolong jagat. Dengan kehebatan filosofi perang dan kelihaian para prajuritnya di medan perang, House Espana merajai seluruh gelar yang tersedia.
Ketika Lord Vicente membawa pasukannya datang ke Salvador, bahaya adalah hal terakhir yang ia pikirkan. Yang menjamu mereka adalah pasukan House Holland yang terkenal karena 3 hal: warna Oranye, milk of the poppy, dan tukang jagal bernama Ser Nigel de Clegane yang dijuluki The Butcher That Kicks.
House Espana mengalahkan House Holland dalam pertarungan pamungkas tahun 2010 dan kekuatan House Holland tahun ini relatif lebih lemah dibandingkan dengan 4 tahun silam. Beberapa ksatria Holland yang sarat pengalaman masih ada seperti Ser Robin of Persie dan Ser Wesley Sneijder, tapi mayoritas pasukan Oranye adalah ksatria muda dengan jam terbang yang rendah.
Namun aset terbesar dari House Holland adalah pimpinan mereka, Lord Louis van Gaal, seorang ahli strategi perang yang brilian namun bisa menyesuaikan filosofi pertempurannya sesuai kebutuhan.

Lord Louis adalah seseorang yang keras kepala dan cenderung arogan. Salah satu cerita rakyat di Baavaria adalah ketika Lord Louis bertakhta di sana, ia menurunkan celananya di hadapan para ksatrianya untuk menunjukkan bahwa ia punya sesuatu yang tak dimiliki oleh para prajuritnya.
Ketika House Espana mencetak gol pertama melalui tendangan penalti Ser Xabi Alonso, semua terlihat seperti hari biasa bagi Lord Vicente. Pertempuran ini hanya akan menjadi satu lagi pertempuran lain di mana pasukan House of Espana mengalahkan lawannya dengan mudah.
Lalu kemudian sesuatu yang tak terpikirkan terjadi. Berawal dari sodoran brilian seorang squire muda bernama Daley Blind, Ser Robin of Persie melakukan improvisasi dengan kepalanya dan melambungkan bola yang membuat Maester Iker Casillas hanya bisa ternganga.
Sampai titik ini, kedudukan masih sama kuat dan pasukan Lord Vicente masih terlihat memegang kendali pertempuran. Ser Xavi dan Ser Andres menjadi penggerak utama serangan-serangan House Espana dan mengancam lini pertahanan House Holland yang sejujurnya dihuni oleh Ron Vlaar, Bruno Martins Indi, dan Stefan de Vrij yang tidak terlihat begitu meyakinkan.
Lord Louis memang sengaja menurunkan 3 orang prajurit bertahan di belakang untuk mengatasi serangan-serangan House Espana. Dengan skema seperti ini, ia berharap kedua orang prajurit sayapnya, Blind dan Daryl Janmaat untuk melakukan penetrasi konstan di sisi tersebut. Apalagi kedua orang penjaga lini sayap bertahan House Espana, Cesar Azpilicueta dan Jordi Alba sering tergoda untuk terlalu naik ke atas.
Dalam kedudukan imbang 1-1, tiba-tiba terdengar lantunan lagu The Orange of Castamere yang menjadi sinyal awal bagi pembantaian terhadap pasukan House Espana. Saat Lord Vicente menyadari apa yang sedang terjadi, semua sudah terlambat.
Blind kembali mengirimkan umpan matang daerah pertahanan lawan dan kali ini yang menerima bola adalah ia yang berjuluk The Orange Viper, Prince Arjen Robben. Ini adalah orang yang sama yang luput menyarangkan gol di Battle of Johannesburg empat tahun silam dan terus dihantui oleh mimpi buruk tersebut.
Namun kali ini Prince Robben tidak mengulangi kesalahannya. Mengontrol bola dengan baik, ia melewati hadangan Ser Sergio Ramos dan Ser Gerard Pique dan menghujamkan bola ke gawang Maester Casillas. Ekspresi wajah Robben menunjukkan kelegaan yang luar biasa untuk menebus dosanya selama ini.
Dalam kondisi tertinggal, Lord Vicente merasa bahwa Diego Costa yang kontribusinya terbatas harus ditarik dan digantikan oleh penyerang lain. Entah mengapa, Lord Vicente memilih memasukkan Ser Fernando Torres yang belakangan lebih dikenal sebagai komedian dibanding seorang petarung.
Pasukan Lord Louis menambah keunggulan mereka usai De Vrij memanfaatkan kesalahan Maester Casillas dalam mengantisipasi bola.

Sebagai penjaga terakhir pertahanan House Espana, Maester Casillas hampir dianggap sebagai orang suci oleh seluruh masyarakat negaranya. Ia dianggap sakral dan tak bercacat. Namun di kotanya sendiri sebenarnya Casillas sudah tidak lagi menjadi pilihan pertama sejak Diego Lopez menggusur posisinya.
Mungkin Maester Casillas sudah kehilangan sentuhannya, mungkin juga otot dan sendi tulangnya sudah berkarat, karena tak lama kemudian, ia salah mengontrol bola di wilayah pertahanannya sendiri dan langsung dihukum oleh Ser Robin of Persie.
Pasukan Lord Vicente masih belum tahu apa yang sedang terjadi dan dalam keadaan kacau balau, House Holland kembali melancarkan serangan fatal. Prince Arjen Robben mendapatkan bola di tengah lapangan dan karena garis pertahanan House Espana begitu tinggi posisinya, Robben mengajak Ser Sergio Ramos beradu lari ke kotak penalti dan jelas dimenangkan oleh Prince Robben.
Sekilas tampak bahwa sentuhan Prince Robben terhadap bola terlalu berat dan Maester Casillas bisa menutupi laju Robben, tapi dengan elegan Robben bermanuver dengan memutar badannya dan menjauhkan bola dari jangkauan Casillas.
Di dalam kotak penalti, Casillas mencoba dengan segala daya dan upaya untuk menghalangi Robben. Posisinya bertekuk lutut, seperti memohon belas kasihan dari Robben untuk tidak mempermalukannya lebih jauh. Tapi Prince Robben tidak mempedulikannya. Ada 2 prajurit bertahan lawan di mulut gawang, namun Robben bisa menyarangkan bola dengan presisi.
Raut wajah Lord Vicente dan pasukannya menggambarkan bahwa mereka benar-benar tidak menyangka akan dibantai oleh House Holland. Sang raja telah dipermalukan dalam The Orange Wedding.
Apakah ini akan menjadi tusukan pedang yang mengakhiri kekuasaan sebuah dinasti? Masih harus ditunggu dalam sepekan ke depan.
Tapi semua yang berada di atas memang harus turun.
Seperti yang ditulis George RR Martin, Valar Morghulis. Semua orang harus mati. Semua tim harus takluk.

====
* Penulis adalah satiris dan presenter olahraga. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan
(a2s/rin)










































