Dua Tahun Setelah Keramaian Itu

Catatan dari Kuala Lumpur

Dua Tahun Setelah Keramaian Itu

Rossi Finza Noor - Sepakbola
Sabtu, 24 Nov 2012 07:45 WIB
Dua Tahun Setelah Keramaian Itu
Piala AFF 2010 (AFP/Bay Ismoyo)
Kuala Lumpur -

Dua tahun setelah final yang riuh itu, kita kembali lagi di sini. Tapi, kesan ramai itu belum sampai atau setidaknya belum terlihat. Ya, Piala AFF sudah datang lagi. Tapi, sejauh ini atmosfernya masih adem-adem saja.

Riuh, ya setidaknya begitulah untuk mereka yang berada di Indonesia. Siapa yang tidak ingat ketika tiba-tiba Stadion Gelora Bung Karno mendadak jadi ramai? Semua orang tiba-tiba berebut tiket untuk nonton dan mereka yang biasanya mengenakan dandanan kasual mendadak mengenakan jersey tim nasional. Piala AFF 2010, demikianlah adanya.

Keriuhan dan keramaian itu menjalar juga sampai ke media. Dua tahun silam cobalah setel televisi pagi-pagi atau siang hari, maka Anda akan menemukan tayangan infotainment juga ikut membahas tim nasional. Irfan Bachdim dkk. mendadak menjadi selebriti baru dan latihan tim nasional mendadak jadi penuh media massa. Alfred Riedl sampai gerah dan menyebut kehebohan ini sudah seperti sirkus. Ia akhirnya meminta siapa pun yang tidak punya akreditasi peliputan untuk tidak meliput latihan timnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kehebohan itu kemudian jadi anti-klimaks. Seakan-akan sudah yakin Indonesia akan juara, publik Indonesia --atau setidaknya saya-- dibuat terkejut dengan kekalahan 0-3 pada final pertama melawan Malaysia. Safee Sali, yang kelak setelah turnamen ini namanya naik daun di mata penyuka sepakbola lokal, dan Ashaari Shamsuddin membuat pasukan Riedl tidak berkutik. Malaysia yang sebelumnya dihantam 1-5 di fase grup itu akhirnya jadi juara.

Dengan situasi seperti itu, saya bisa membayangkan Indonesia seperti orang yang dibiarkan melongo, melihat trofi yang sudah mereka elus-elus --seolah-olah sudah dimiliki-- dicuri diam-diam oleh orang lain. Sepakbola memang tidak bisa dibilang selesai sampai benar-benar selesai.

****

Jumat, 23 November 2012, sudah lewat banyak hari setelah turnamen itu. Saya dan rekan dari detikSport tiba di Kuala Lumpur, Malaysia, hujan turun mengguyur. Mendung memang sudah menggantung lama. Kami sudah bisa melihatnya dari jendela pesawat. Maka, ketika hujan benar-benar turun, rasa dingin yang sudah diduga-duga akan datang itu menyelinap masuk badan.

Tak ada spanduk atau umbul-umbul perhelatan Piala AFF di jalan keluar Kuala Lumpur International Airport. Tak ada baliho. Tak ada sambutan meriah. Turnamen yang katanya ajang bergengsi untuk negara-negara ASEAN ini seolah-olah tidak penting. Spanduk turnamen baru bisa ditemui di depan Palace of Golden Horses, tempat di mana tim-tim menginap, dan kelak menjadi tempat dilangsungkannya konferensi pers sebelum pertandingan.

"Ini memang masih sepi. Tapi, saya yakin hari Minggu nanti pasti ramai. Kalau Indonesia main pasti ramai ditonton sama orang-orang (Indonesia) yang tinggal di sini," kata sopir taksi yang mengantarkan kami ke Palace of The Golden Horses. Sopir itu kemudian nyerocos soal tempat-tempat makan yang bisa kami kunjungi dan dia bersedia mengantar kami berkeliling saat itu juga kalau kami sedang tidak buru-buru. Kami terpaksa menolak.

Palace of The Golden Horses sungguh berbeda dengan Jusenny, hotel tempat timnas menginap di Jakarta. Jika dianalogikan, Jusenny adalah orang yang berdandan apa adanya, sementara Palace begitu bersolek sekaligus flamboyan dan Anda boleh membayangkannya berdandan dengan kemeja satin plus kalung emas. Patung-patung kuda emas menghiasi gerbang masuknya. Lobinya berupa ruangan bundar besar dengan lukisan fresco di kubahnya. Seperti dua tahun silam, di sinilah timnas menginap sekarang.

Satu per satu rombongan tim mulai berlalu-lalang. Radojko Avramovic dan tim Singapura-nya dengan seragam merah, lalu kemudian Kokichi Kimura dengan timnas Laos-nya yang tiba paling belakangan di Kuala Lumpur. Kami sempat mewawancarai Kimura sejenak dan dari mulut pria asal Jepang itu kami mengetahui bahwa Laos tidak punya banyak informasi soal Indonesia. Apakah Kimura jujur atau tidak mau dapur di kepalanya diketahui jurnalis hanya dia sendiri yang tahu.

"Pemain yang perlu diwaspadai dari Indonesia? Mungkin Anda bisa kasih tahu saya," katanya dalam bahasa Inggris yang sedikit terbata-bata.

Tak lama kemudian muncullah pelatih timnas Indonesia, Nil Maizar. Pria berkumis itu mengenakan jaket merah dan celana jeans, berbeda dengan anak-anak buahnya yang mengenakan setelan jaket dan kaos berwarna kombinasi biru muda dan biru gelap. Ia dengan santai menyapa wartawan yang sedang mengetik berita di lobi dan melayani permintaan wawancara dari reporter televisi nasional.

Nil tampak kalem. Dia mengaku sudah mengantongi kelebihan-kelebihan dari tim yang berada satu grup dengan Indonesia. Tapi, di atas semua itu, dia lebih menekankan timnya untuk mawas diri dan tetap fokus. Dia tahu timnya hanya kebobolan sedikit gol dalam beberapa laga ujicoba terakhir, tetapi juga cukup sadar untuk mengakui timnya hanya menciptakan sedikit gol dalam beberapa laga terakhir.

Boleh dibilang, dalam setiap wawancara dengannya, Nil tidak pernah merasa pesimistis mengenai peluang Indonesia, tetapi juga tidak pernah terlalu yakin. Menurutnya, ada beberapa kelemahan yang masih perlu diperbaiki dari timnya. Namun, itu semua sudah dibenahinya pada saat latihan. Seperti apa hasilnya, menurut dia, tinggal dilihat pada saat pertandingan nanti.

Di tengah sikapnya yang kalem itu, Nil tahu dia tengah memimpin tim yang dalam dua tahun terakhir sedikit banyak terpengaruh oleh guncangan sepakbola nasional. Dia tengah memimpin tim yang terkikis lantaran nama-nama yang bisa diangkutnya terbatas. Tapi toh hal itu tak pernah dikeluhkannya. Dalam bahasa Nil, pekerjaan melatih seperti ini haruslah dilakukan dengan kepenuhan hati. Hasil dari keyakinannya itu bisa disaksikan hari Minggu besok, ketika timnya mengawali turnamen ini.

Setelah Piala AFF 2010 yang begitu menggebu-gebu, Indonesia bak menjalani restart. Satu fase berakhir, fase lainnya dimulai. Seperti sepakbola itu sendiri yang punya dua buah babak, Indonesia mengakhiri babak pertama dengan buruk, meski dominan. Entah bagaimana di babak kedua. Hasilnya, tentu saja, diharapkan lebih baik.

(roz/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads