sepakbola
Ulas Taktik

Perubahan Strategi yang Membawakan Kemenangan

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video
Ulas Taktik

Perubahan Strategi yang Membawakan Kemenangan


Eddward Samadyo Kennedy - detikSepakbola

detiksport/Rachman Haryanto
detiksport/Rachman Haryanto
Jakarta - Ada beberapa perubahan signifikan yang dilakukan Nil Maizar dalam laga melawan Singapura. Kuartet bek yang tak lagi bermain high defence line, pola long ball yang diminimalisir, serta perubahan komposisi pemain di semua lini.

Tak ada nama Bambang Pamungkas dan Andik Vermansah di starting line up merupakan strategi Nil yang cukup mengejutkan. Hal tersebut bisa jadi merupakan reverse tactic Nil, yang memang sangat mungkin mengira bahwa Andik akan mendapat marking ketat dari bek-bek Singapura.

Fachruddin, kapten PSS Sleman, juga diturunkan Nil sebagai duet Wahyu Wijiastanto di pos sentral pertahanan, menggantikan Handi Ramdhan yang mesti absen karena cedera. Pemilihan Fachruddin pun juga terhitung cukup mengejutkan. Soalnya, pada laga pertama kontra Laos, Fachruddin bermain tak cukup apik, dan dapat dianggap sebagai penyebab terjadinya gol kedua Laos.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejatinya masih ada nama Valentino Telaubun di bench, tapi Nil barangkali sadar bahwa penampilan buruk Fachruddin dalam laga sebelumnya terjadi karena ia menderita demam panggung semata. Sementara itu, Raphael Maitimo dan Novan Setya masih tetap diplot sebagai fullback di kanan dan kiri.

Sadar dengan permainan cepat dan ngotot Singapura saat mengalahkan Malaysia, Nil pun menginstruksikan back four-nya bermain deep defence line. Tak ada offside trap, sebisa mungkin masing-masing fullback diminta tetap berada tepat di posisinya, dan baru dibolehkan ikut membangun serangan jika memang keadaan dimungkinkan.

Back four Indonesia memang sejatinya tak bermain dengan gemilang. Beberapa kali Wahyu, misalnya, terlihat keteteran melakukan marking terhadap penyerang Singapura. Kendati untuk urusan duel, Wahyu yang memang memiliki postur tinggi besar ini tak mengalami kerepotan sama sekali.

Kelemahan back four Indonesia dapat ditilik dari jumlah tendangan bebas yang didapat Singapura di sektor attacking third. Tercatat, di babak pertama saja, Singapura sudah mendapat 6-7 free kick di area yang berbahaya tersebut. Bahkan di menit ke-24, Wahyu sudah mendapat kartu kuning, yang menyebabkan dirinya mesti absen dalam laga krusial kontra Malaysia.

Pada lini tengah, permainan energik dan efisien Vendry Mofu dalam laga melawan Laos membuat Nil memasukkannya sebagai starter menggantikan Tonnie Cusell. Selain karena Cussel memang mengalami cedera pada pahanya, Nil memang lebih memerlukan gelandang box-to-box dengan mobilitas maksimal dan stamina yang lebih kuat.

Cusell, dalam laga melawan Laos, terlepas dari satu assist-nya yang berbuah gol bagi Indonesia, tak menunjukkan daya tahan stamina yang mumpuni, justru ketika pertandingan tengah memasuki menit krusial pada sekitar menit ke-70 hingga usai.

Jika benar asumsi Nil demikian, maka pilihannya menurunkan Vendry terasa brilian. Bahkan ia menjadi pembuat peluang Indonesia pertama melalui shot on goal-nya pada menit ke-21 yang sempat membuat kiper Singapura, Izwan Mahbud, mesti membanting badan untuk menepis bola.

Sebagai duet Vendry di lini tengah, ada nama Taufiq yang masih dipercaya Nil. Performa gelandang Persebaya ini terlihat menawan. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali Taufiq melakukan apa yang semestinya memang dilakukan seorang ball winning defender seperti melakukan intersep, ground atau around duels, clearance, hingga (terpaksa) melakukan foul kepada lawan.

Kendati demikian, Taufiq dirasa masih kurang dalam menjalani fungsi sebagai katalisator yang mengatur tempo permainan. Sebab secara prinsip, dengan posisinya saat ini, Taufiq juga memerlukan visi bermain yang mumpuni, selain juga mampu menjadi breaker lawan.

Terlepas dari sisi minus yang ada, duet Taufiq-Vendry tak buruk-buruk amat. Catatan statistik memperlihatkan, selama 90 menit Taufiq berhasil melakukan 5 tekel sukses, lima gagal, 3 intersep. Sementara Vendry melakukan 4 kali tekel sukses, 8 kali tekel gagal, dan 1 kali intersep.



Memasuki sektor penyerangan, Irfan Bachdim masih menjadi komando yang berposisi free role, meski di atas kertas ia ditempatkan sebagai second striker. Elie Aiboy yang tak bermain di laga melawan Laos menjadi starter dengan menempati posisi Andik. Lalu ada nama Rachmat Syamsuddin Leo sebagai striker tunggal. Sementara Okto Maniani masih dipercaya mengisi pos sebelumnya sebagai flank di sisi kiri.

Perubahan komposisi yang dilakukan Nil di sektor penyerangan tak menampakkan hasil yang cukup memuaskan, setidaknya itu yang terlihat di babak pertama. Suplai bola mandek, bahkan Rachmat tercatat 11 kali melakukan touch ball di luar kotak penalti. Pun demikian dengan Irfan, 27 kali ia melakukan touch ball di luar kotak penalti, bahkan 9 kali di daerah pertahanan Indonesia sendiri.

Tapi Nil sepertinya sudah mengalkulasikan apa saja kekurangan yang terjadi di babak pertama. Maka ia lantas memulai perubahan dengan pertama kali menurunkan Andik pada menit ke-47 babak kedua menggantikan Elie. Elie sendiri terlihat bermain tanpa visi yang jelas di babak pertama.

Dengan stamina yang masih segar, berkali-kali Andik melakukan penetrasi di kedua sisi sayap Indonesia, memberi umpan, atau menjemput bola dari area pertahanan. Bahkan pemain boncel dari Jember itu membuat bek Singapura, Irwan Shah, mesti melakukan pelanggaran yang berbuntut kartu kuning kedua baginya pada menit ke-66. Reverse tactic Nil sejauh ini dapat dikatakan berhasil.

Bepe, yang masuk di menit ke-57 menggantikan Rachmat memang tak terlihat menampilkan performa yang diharapkan. Tapi sepertinya itu juga menjadi bagian dari reverse tactic Nil yang memplot Bepe sebagai pembuka ruang, atau sebagai pemantul bola lewat kemampuannya di udara.

Unggul jumlah pemain, yang pertama kali dilakukan Nil adalah melakukan ball possesion. Itu terlihat ketika Nil menggantikan Okto dengan Rasyid Assahid Bakri pada menit ke-77. Masuknya Rasyid kemudian membuat Nil mendorong Mofu lebih ke depan, semacam trequartista di belakang Bepe. Sementara Rasyid dan Taufiq menjadi double pivot. Irfan kemudian digeser sebagai flank yang kerap bertukar posisi dengan Andik.



Pun demikan, Singapura bukannya tanpa peluang. Justru ketika bermain dengan 10 pemain, anak asuh Radojko Avramovic sempat mendapat peluang emas melalui sundulan Aleksandar Duric hasil dari umpan crossing Shi Jiayi di menit ke-81. Meski sundulan striker yang telah berusia 42 tahun itu masih menerpa mistar gawang, keteledoran Wahyu dalam melakukan marking kepada lawan masih tetap menjadi pekerjaan rumah bagi Nil.

Enam menit kemudian, akhirnya muncul-lah gol monumental itu. Bermula dari sebuah pelanggaran di sisi kiri Indonesia, Taufiq bersama Andik bekerja sama untuk melakukan eksekusi. Taufiq menyontek bola pelan, lalu Andik menendang kencang bola tersebut dengan punggung kakinya. Apa yang terjadi? Bola melengkung secara parabolik, mengelabui semua pemain yang ada di kotak penalti, sebelum mulus meluncur ke gawang Singapura.

Gol Andik tersebut seakan mengingatkan seperti gol Juninho Pernambucano (saat berseragam Lyon) ke gawang Barcelona pada Liga Champions musim 2009-2010. Atau seperti gol Ronaldinho ke gawang Inggris pada Piala Dunia 2002. Pun demikian, terlepas dari komparasi yang ada, gol Andik jelas sangat berkelas.

Indonesia akhirnya menang 1-0, strategi Nil berjalan, Singapura yang perkasa kala membantai Malaysia di laga pertama, harus pulang dengan kepala tertunduk. Paska laga, Avramovic menyebut gol Andik hanya keberuntungan. Tapi semua kekalahan selalu menyisakan alasannya masing-masing.

Sabtu (01/12/2012), 'Skuat Garuda' akan menghadapi tuan rumah Malaysia yang dalam laga kontra Laos berhasil menang telak 4-1. Dengan atau tanpa propaganda apa pun, tensi laga nanti jelas akan berlangsung panas. Pertanyaannya kemudian:

Siap ganyang Malaysia, Indonesia?




(din/a2s)











Hide Ads