Dalam undian putaran final Piala Dunia 2010 yang digelar di Cape Town Desember tahun lalu, Korut memang ditakdirkan berkumpul bersama tiga tim berkemampuan tinggi tersebut.
"Melihat tim yang diundi bersama kami, kami menghadapi tugas berat di Afrika Selatan nanti," aku asisten pelatih Korut Jo Tong-sop kepada FIFA.com.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di grup itu, Korut bakal dianggap sebagai anak bawang alias tim terlemah. Tapi awas, Korut punya modal bagus dalam menghadapi Piala Dunia kedua dalam sejarah negeri komunis itu.
Awal tahun ini, gelar juara sebuah turnamen ujicoba yang melibatkan empat negara diraih Korut. Bertarung melawan Mali, tuan rumah Qatar dan Iran di sejak 27 Desember-2 Januari, Chollima (julukan Korut) meraih dua kemenangan dan hanya sekali kalah.
"Saya berharap kemenangan di Qatar akan meningkatkan percaya diri kami," ujar Jo. "Itu membuktikan bahwa kami punya kans lolos yang sama dengan tim-tim lainnya."
"Yang bisa kami lakukan adalah memastikan kami tampil dengan standar yang dibutuhkan. Setiap pertandingan berarti penting dan kami akan menghadapi satu per satu dengan sangat serius," kata Jo.
Saat pertama kali lolos ke Piala Dunia, yakni pada tahun 1966, Korut juga dalam posisi underdog. Namun berkat performa tak kenal menyerah, Korut malah berhasil lolos sampai perempatfinal.
Jalan yang dilalui hingga ke fase 8 Besar itu pun sangat hebat. Di penyisihan grup, Korut sempat mengungguli Italia sebelum ditumbangkan Portugal yang dimotori Eusebio di perempatfinal.
"Kami akan berjuang sampai akhir untuk bisa lolos ke babak berikut meski tugas itu sangat berat. Seperti biasa, kami bertumpu pada karakter kami yang dibangun di sekitar daya juang dan kerjasama tim," tandas Jo yakin.
(arp/krs)











































