Pada tahun 1974, Belanda dengan total footballnya menyihir dunia. Tim racikan Rinus Michels tersebut merebut hati fans sepakbola dengan tampilan menawan saat terus melaju ke final Piala Dunia 1974.
Menang tak dapat diraih, luka hati justru didapat. Di partai final Belanda malah digilas efisiensi Der Panzer Jerman yang dikomandani Gerd Muller di lini depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua penampilan di partai final itulah capaian terbaik Belanda sejauh ini. Jelas tidak memuaskan mengingat banyaknya talenta yang sempat dan masih mengisi skuad, dan penampilan menghibur ala Belanda.
Akan tetapi, bukan tak mungkin bahwa justru gaya sepakbola Belanda sendirilah yang menjadi salah satu penghambat dalam meraih sukses. Setidaknya begitu yang dinilai Ruud Gullit, mantan punggawa Tim Oranye.
Pria yang pernah melatih Chelsea, Newcastle United, Feyenoord dan LA Galaxy tersebut malah optimistis Belanda bisa jadi jawara jika tetap ngotot bermain cantik dengan total football di setiap pertandingan. Dia berharap Belanda kali ini lebih fokus ke hasil, bukan main cantik belaka.
"Aku memiliki keraguan apakah Belanda bisa juara hanya karena (tuntutan) harus main bagus di setiap partai. Lawan kami sepertinya sudah menganalisa permainan kami di beberapa turnamen terakhir sehingga bikin kami sulit menampilkan permainan sendiri, tapi saya harap kami bisa tampil oke," ucap Gullit di ESPN.
"Ada kemungkinan bagus kami akan bisa lolos dari putaran grup, tapi setelah itu akan jadi berat. Aku selalu berharap saat kami lolos dari fase grup, kami dapat memenangi pertandingan dengan cara buruk, itu akan jadi titik balik," tandas dia.
Di Afrika Selatan nanti, Belanda yang ditangani oleh pelatih Bert van Marwijk tergabung dengan Denmark, Jepang dan Kamerun, di Grup E.
(krs/a2s)











































