Sudah 44 tahun Inggris nihil prestasi sejak menjuarai Piala Dunia di negeri sendiri pada 1966. Maka demi menyudahi puasa gelar tersebut, Inggris pun merekrut seorang Fabio Capello yang terkenal bertangan dingin supaya mampu menyatukan para pemain bintang di Inggris.
Namun, adanya Capello saja belum cukup untuk bisa membawa Inggris berprestasi. Ada satu hal lagi yang harus 'disingkirkan' dari tubuh Steven Gerrard dkk yaitu soal sorotan media yang berlebihan kepada timnasnya, tak hanya soal teknis namun juga non teknis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan media Inggris yang terkenal pedas itu pun melakukan hal yang sama saat Jerman 2006, di mana mereka malah lebih menyoroti tingkah laku para istri dan pacar pemain Inggris yang akhirnya mengganggu konsentrasi para pemain itu sendiri. Hasilnya Inggris hanya mampu menapak sampai perempatfinal sebelum dikalahkan Portugal.
"Tentu normal jika orang-orang tertarik dengan kehidupan para pemain. Tapi di Inggris, dengan tingkat keingintahuan seperti itu, sama saja dengan membunuh timnas sendiri," ungkap Andrei Arshavin kepada The Times.
"Anda ingin melakukan ini kepada tim. Semua orang ingin Inggris menjadi juara dunia, tapi secara bersamaan anda menghancurkannya juga," sambungnya.
Menurut Arshavin lagi, kalau media di tanah Britania itu seperti mengukung para pesepakbola sendiri sehingga mereka tidak bisa bebas bergerak, karena tingkah laku mereka setiap saat menjadi santapan untuk dijadikan berita.
"Coba ada waktu beberapa minggu lagi dan mereka akan menyoroti celana para pesepakbola itu hanya untuk mendapat berita. Saya pikir anda lebih baik meninggalkan para bintang itu sendiri dan beri mereka kebebasan layaknya orang biasa," tegas Arshavin.
Bagi Arshavin lebih baik para pesepakbola itu tampil seperti apa adanya tanpa ada paksaan harus menjadi figur yang sempurna di mata publik. Justru keterpura-puraan itulah yang bisa bikin pesepakbola itu merugi.
"Dalam karis sepakbola saya, sering mendengar orang-orang berkata, 'Anda harus bisa menjadi contoh. Jangan merokok, jangan minum, jangan berbicara kasar karena anak-anak akan menirumu'," urai striker berpaspor Rusia itu
"Mereka ingin anda menjadi orang suci. Tapi itu mustahil karena setiap orang punya hak untuk hidup seperti yang mereka mau. Itulah hakikat seorang manusia," terangnya lagi.
"Tentu saya mengerti kalau punya tanggung jawab untuk itu. Tapi tak bagus jika melakukan sesuatu karena hanya ada takut akan apa yang orang katakan. Anda harus melakukannya karena memang anda ingin melakukannya," demikian pemain klub Liga Inggris, Arsenal, itu.
(mrp/roz)











































