Dalam dua laga ujicoba terakhir, yakni melawan Serbia dan Korea Selatan, tim yang dibesut Takeshi Okada itu kalah dan tidak mampu merobek gawang lawan. Ada pun skornya adalah masing-masing 0-3 dan 0-2.
"Ini situasi yang buruk bagi Okada. Situasi ini persis ketika Okada menjadi pelatih di Piala Dunia 1998. Tim jelas-jelas memiliki mentalitas yang bodoh," tegas Troussier di Reuters, pasca kekalahan mantan tim asuhannya atas Korsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Troussier menilai bahwa obsesi tingkat tinggi menjadi hal yang membuat Samurai Biru menjadi lemah. "Okada ingin bermain seperti Spanyol, seperti Brasil. Tapi Anda harus hati-hati. Anda dituntut berpikir serius untuk bagaimana mengubah filosofi untuk berkompetisi di level tertinggi."
"Setelah Korsel mencetak gol, ada waktu selama 80 menit dan kita tidak melihat sesuatu yang signifikan yang ditunjukkan Jepang. Jika Anda tidak merasa yakin, maka Anda tidak boleh ambil risiko. Anda baru bisa yakin bila sudah tahu solusinya," tegas pelatih berkebangsaan Prancis itu.
Bila ditotal, maka kekalahan atas Korsel (24/5/2010) merupakan yang ketiga dari empat partai yang dilakoni oleh Jepang.
Meski Troussier mengkritik Jepang, namun ia tidak setuju bila Okada didesak untuk mundur sebagai bentuk tanggungjawab. "Okada kemarin berkata ingin mengundurkan diri, sementara di sisi lain Anda memasang target empat besar? Mengapa harus mundur? Tidak, Anda adalah kapten kapal ini dan kapal Anda sudah berlayar," ujar pria kelahiran 21 Maret 1955 itu.
Troussier pun memiliki prediksi tentang kiprah Jepang di Piala Dunia nanti, di mana Shunsuke Nakamura cs akan bergabung bersama Belanda, Denmark, dan Kamerun.
"Saya tidak memprediksi bahwa Jepang bisa mengalahkan Belanda. Namun saya menilai mereka bisa mengalahkan Kamerun. Laga pertama (vs Kamerun) tim tampil dengan pikiran segar dan motivasi tinggi. Saya yakin mereka bisa menyulitkan tim ini," tukas pelatih yang membawa tim Asia Timur itu ke babak 16 besar Piala Dunia 2002.
(nar/krs)











































