Babak adu penalti ini diperkenalkan pada tahun 1982 untuk menentukan pemenang jika skor antara dua tim yang bertanding masih sama kuat setelah babak extra time. Semenjak itu, sudah ada 20 adu penalti dihelat di tujuh gelaran Piala Dunia.
Empat dari lima pemenang terakhir Piala Dunia juga dicatat Reuters harus melewati babak adu penalti di salah satu dari empat laga knock-outnya di Piala Dunia. Bahkan dalam periode itu sudah dua kali partai final harus diselesaikan dengan adu tos-tosan, yakni pada tahun 2006 dan 1994.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam urusan adu penalti, statistik mendapuk Jerman sebagai tim paling luar biasa karena dari empat kali terlibat di dalamnya semua dituntaskan dengan kemenangan --persentase kemenangan terbesar di babak adu penalti. Namun, Der Panzer juga punya pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal di adu penalti. Namanya Uli Stielke.
Di Spanyol 28 tahun lalu, Stielke tak kuasa menyarangkan bola kendati Jerman tetap menang di semifinal. Yang hebat, tak pernah lagi ada pemain Jerman setelah Stielke yang gagal dalam adu penalti. Alhasil, Jerman yang sudah terlibat empat adu penalti di Piala Dunia pun punya persentase kesuksesan 94 persen dari para pemainnya yang terlibat adu penalti, kendati secara keseluruhan Jerman menyandang rekor 100 persen setelah menang di empat babak adu penalti.
Berkebalikan dengan catatan gemilang Jerman, timnas Inggris malah buruk benar manakala permainan sudah memasuki babak adu penalti. Dari tiga adu penalti yang dilakoni, 'Tiga Singa' tak pernah menang. Para punggawanya juga gagal melesakkan tujuh dari total 14 sepakan yang dilakukan para pemain Inggris.
Timnas Swis, Meksiko, Rumania dan Belanda juga belum satu kali pun memenangi babak adu penalti. Spanyol si juara Eropa yang hendak mengawinkan titel itu dengan gelar juara Piala Dunia 2010 bahkan hanya menang sekali dari tiga kesempatan memasuki babak adu penalti.
"Ini jelas bukan sekadar lotere karena statistik menunjukkan betapa banyaknya pemain Jerman yang sudah mencetak gol dan berapa yang dibuat Inggris dan Belanda," terang Matt Pain yang jadi bagian dari unit riset psikologis sepakbola dari Universitas Loughborough.
Dari telaah mendalam yang dilakukan mengenai adu penalti ini, ditemukan bahwa 60 persen babak adu penalti dimenangi oleh tim yang melakukan tendangan pertama.
Akan tetapi, setelah bola sudah diletakkan di titik 12 pas dan tendangan siap dilakukan, sebenarnya tak ada lagi hitung-hitungan pasti. Para ahli pun menyebut bahwa yang memenangi adu penalti adalah yang paling punya mental tangguh sehingga mampu menghadapi tekanan.
"Adu penalti adalah permainan psikologis. Bukan soal teknik atau kemampuan, ini mengenai pemain dalam tekanan," papar Geir Jordet, profesor tamu Norwegian School of Sport Science di Oslo, yang telah mempelajari adu penalti secara mendalam.
"Adu penalti tak ditentukan lewat sepakan luar biasa atau penalti spektakuler. Mereka ditentukan oleh satu, dua atau tiga pemain yang gagal karena tertekan," lugas dia.
(krs/din)











































