Kritik, kritik dan kritik. Hal tersebut hampir selalu menimpa timnas Prancis. Di Piala Dunia 1998 ketika mereka menjadi tuan rumah, kritik bernada politis harus diterima Zinedine Zidane dkk.
Kala itu yang dipersoalkan adalah timnas yang berpenghuni oleh sebagian besar keturunan imigran, bukan warga asli Prancis. Namun anak buah Aime Jacquet berhasil mengatasi semuanya dan membungkam para pencibir itu dengan "ganjaran" setimpal: gelar juara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim besutan Raymond Domenech itu dikritik dari berbagai aspek, mulai dari teknis permainan hingga soal kepemimpinan serta mental pemain. Bahkan masyarakat di Negeri Mode itu ragu bahwa Patrice Evra dkk. bakal berprestasi di Afrika Selatan.
"Memang, ini merupakan saat yang tepat untuk menyerang kami. Tapi kami akan membungkam (kritik) dari segelintir orang itu. Ucapan-ucapan itu tak membuat kami tertarik dan kami bisa menjalani turnamen ini tanpa perlu ada ketegangan yang berarti," tegas strker muda Andre Pierre Gignac di Yahoosports.
Domenech menekankan bahwa setiap laga di Afrika Selatan ini selayaknya laga hidup-mati bagi Les Bleus. "Sekarang yang diperhitungkan hanya performa kalian dan kalian tidak bisa berkata apa-apa soal yang lain," tegasnya.
(nar/roz)











































