Setelah mengolok-olok kiper Robert Green usai ditahan 1-1 oleh Amerika Serikat, reaksi serupa dilakukan media massa Inggris pada kegagalan "Tiga Singa" mengatasi Aljazair. Bermain tanpa keindahan bermain, John Terry cs dipaksa menelan hasil 0-0.
"Penuh muatan omong kosong", pekik Daily Mirror, atau yang dalam bahasa Inggris-nya ditulis "What a load of Roobish!" Roo hampir dipastikan merujuk pada (Wayne) Rooney, untuk memplesetkan kata rubbish (omong kosong, sampah -- Red).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara khusus tabloid yang terakhir malah "membela" penonton yang mencibir Rooney seusai pertandingan, yang membuat penyerang utama Inggris itu menunjukkan ekspresi tidak senang dan memberi isyarat protes. Rooney memang dinilai bermain buruk.
"Inggris yang sengsara di titik tak bisa kembali," tulis The Times pada headline-nya. Para pemain dinilai takut dengan bayang-bayang tak bisa memenuhi ekspektasi bangsa mereka, untuk memenangi Piala Dunia lagi setelah 1966.
"Tekanan itu terlihat sekali pada Wayne Rooney," ulas surat kabat tersebut. "Kesulitan Rooney memerlukan investigasi serius."
"Sering kali, ketika bermain untuk Inggris harus dirasakan seperti sebuah mimpi untuk Lampard, Gerrard, dan pemain-pemain lain. Tapi sering kali pun β¦ itu lebih terlihat seperti mimpi buruk."
Daily Telegraph lebih konstruktif dalam mengkritik dengan meminta pelatih Fabio Capello bisa menemukan cara untuk mengeluarkan kemampuan terbaik Rooney dan Lampard, seperti mereka di klub masing-masing, untuk melakoni partai ketiga Grup C melawan Slovenia.
"Kekuasaan Fabio Capello, yang menjanjikan banyak hal begitu lama, nyaris ditutup dengan memalukan dan kepura-puraan tadi malam," kalimat lain dalam Daily Mirror.
Begitulah, menang dipuji, kalah dicaci. Selalu begitu bukan?
(a2s/a2s)











































