Dari enam peserta 'langganan' Piala Dunia yakni Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, Belanda dan Inggris, total hanya ada empat kemenangan selama 11 hari turnamen telah digelar. Cuma Oranje yang bisa memetik poin penuh alias belum pernah kalah di dua laganya.
Menurut analisa Presiden FIGC Giancarlo Abete, klub jadi sumber masalahnya. Klub, yang dia nilai sudah memiliki kekuatan lebih besar ketimbang federasi, lebih mengedepankan kepantingan uang demi kemenangan klub. Alhasil klub mengorbankan pengembangan usia muda yang justru penting untuk timnas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden UEFA Michel Platini saat ini sebenarnya sedang berusaha menyeimbangkan antara kepentingan timnas dengan klub, dengan membuat federasi timnas jadi menuai manfaat lewat pembinaan pemain yang dicapai ddengan meningkatkan kuota pemain lokal.
Meski begitu, untuk Abete hal tersebut masih belum cukup. Dia ragu hal itu bisa terealisir dengan merujuk kepada salah satu klub terkaya di Eropa, Real Madrid.
"Real Madrid mempunyai anggaran delapan kali lebih besar dibanding Federasi Spanyol. Yang bisa kita lakukan hanyalah mendorong para pelatih untuk bisa lebih memercayai para pemain muda," lugas dia.
Di Inggris, permasalahan terkait hal ini bahkan lebih memprihatinkan. Lebih dari setengah pemain Liga Primer berasal dari luar tanah Inggris.
Ini dinilai sebagai hal yang amat serius oleh Ketua Pembinaan Pemain Federasi Inggris (FA) Trevor Booking. Menurutnya tim nasional Inggris bisa menghadapi problem serius mengenai regenerasi pemain.
"Setiap posisi di liga bernilai 750 ribu poundsterling (sekitar Rp 9,9 miliar), jadi bahkan sampai musim berakhir klub tidak berkesempatan menguji pemain muda karena Anda bisa kehilangan tiga tempat (di klasemen) dan rugi hingga 2 juta Poundsterling (Rp 26 miliar) pada transfer anggaran," ujar Trevor.
(krs/a2s)










































