Domenech dengan segala kontroversinya selama ini, sebenarnya punya banyak alasan dan momen untuk meminta maaf pada publik Prancis, mulai dari permainan buruk di laga pertama melawan Uruguay, kekalahan dari Meksiko, pemogokan pemain untuk berlatih, sampai fakta bahwa Les Bleus menjadi juru kunci di Grup A usai kalah lagi dari Afrika Selatan di laga terakhir babak pertama.
Tapi tidak pernah terlontar kata "sorry" atau "I apologize" dari pria berusia 58 tahun itu, yang selama berkarir sebagai pelatih tak pernah memenangi titel apapun. Saat "Si Ayam Jantan" menjadi runner up Piala Dunia 2006, banyak orang menganggap itu berkat keterampilan pemain-pemain hebatnya, terutama Zinedine Zidane.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat diminta "pertanggungjawabannya", ia menjawab dengan enteng: "Kata-kata untuk warga Prancis? Ya saya sedih. Tim ini punya potensi nyata. Semoga sukses untuk penerus saya."
Ada yang beranggapan, Domenech tak merasa harus minta maaf atas segala kegagalannya karena toh dia sudah kenyang dihujat selama ini. Juga, habis ini dia bukan lagi siapa-siapa karena Lauren Blanc sudah dipastikan menangani Yoann Gourcuff dkk.
"Saya mencintai tim Prancis. Takkan mati, akan terus selamanya. Tim ini punya semua bahan baku untuk meraih kesuksesan," pungkas Domenech.
Penyuka teater dan maniak zodiak itu benar-benar meninggalkan jejak yang buruk di Afrika Selatan. Di luar skandal memalukan timnya, ia juga begitu "sombong" ketika menampik uluran tangan pelatih Afsel Parreira, setelah pertandingan selesai dengan kemenangan tuan rumah 2-1.
Begitu peluit panjang berbunyi, yang juga menandakan akhir kiprah Bafana Bafana di turnamen di kandangnya sendiri itu, Parreira bergegas menuju bench Prancis, di mana Domenech selama pertandingan lebih sering berdiri ketimbang duduk.
Begitu tahu Parreira menghampiri dan kemudian mengulurkan tangan, Domenech langsung menggerakkan tangannya, menolak. Ia bahkan tampak ingin pergi kalau saja Parreira tidak menggenggam tangan si orang Prancis itu.
Parreira, yang 11 tahun lebih tua daripada Domenech, sepertinya tersinggung dicuekin seperti itu. Ia tampak mengatakan sesuatu pada Domenech. Yang ditanya kemudian merespons, ngomong panjang lebar dengan mimik muka yang "meninggi".
Parreira masih menahan tangan Domenech, raut mukanya masih tidak mengerti apa urusan Domenech sehingga menampik dirinya begitu rupa, di depan jutaan bahkan miliaran pasang mata penduduk bumi. Parreira terlihat tak percaya dengan penolakan tersebut. (Lihat rekamannya di Youtube).
Seorang staf pelatih mencoba sedikit menenangkan dia, dan kemudian menjelaskan duduk perkaranya. Ia mengatakan, Domenech terlanjut sakit hati pada komentar Parreira tentang kontroversi handball Thierry Henry saat Prancis menyingkirkan Republik Irlandia di pertandingan playoff kualifikasi zona Eropa. Katanya, Parreira bilang Prancis tidak pantas ke Afrika Selatan.
"Saya bahkan tidak ingat pernah mengeluarkan komentar seperti itu," ujar Parreira, yang di hari itu pula mengucap salam perpisahan dengan publik Afsel, karena telah purna pekerjaannya mengurusi Aaron Mokoena dkk.
Dan berbeda dengan Domenech, Parreira bertutur lebih halus dalam ucapan perpisahannya itu. "Kalau saja dapat keberuntungan, kami mungkin akan lolos ke babak 16 besar. Kalau saja kami bisa mencetak gol lebih banyak. Tapi ini bukanlah kegagalan, cuma kekecewaan."
"Saya harus berterima kasih kepada para pemain atas kerja keras dan komitmen mereka dalam tujuh bulan terakhir. Apa yang mereka lakukan sudah sangat luar biasa," tutur Parreira.
Domenech? Entah apa yang ditulis pers setempat, atau sambutan publik Prancis setelah Patrive Evra dkk mendarat pulang di Paris. (a2s/nar)











































