Dilaporkan Reuters, Rabu (23/6/2010), para pekerja di Inggris akan meninggalkan pekerjaannya, dan sekolah-sekolah ditutup lebih cepat demi mendapatkan kesempatan menontons siaran pertandingan tersebut, baik di rumah maupun tempat-tempat publik.
Menurut sebuah survey, enam dari 10 perusahaan membolehkan karyawannya menyaksikan partai tersebut. Asosiasi pub dan bir Britania mengatakan, tiga juta orang akan menonton laga itu di pub-pub mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengecualian terjadi di kompeks Wimbledon, di mana saat ini tengah dilangsungkan turnamen tenis Grand Slam. Penyelenggara sejak awal melarang keberadaan vuvuzela dan tidak akan memasang layar raksasa untuk pertandingan Piala Dunia.
Inggris harus mengalahkan Slovenia untuk menggaransi satu tempat di babak 16 besar. Steven Gerrard dkk mengecewakan suporternya karena hanya bermain imbang melawan Amerika Serikat dan Aljazair.
Yang menarik, ketegangan di Afsel terjadi ketika Inggris berencana melakukan pengetatan keuangan dan pemangkasan banyak anggaran, sebagaimana baru-baru ini disampaikan oleh Menteri Keuangan George Osborne.
"Semangatlah, Anak-anak", tabloid The Sun memasang judul besar supaya para pemain The Three Lions tidak memikirkan dulu urusan budjet yang bakal memberi dampak besar tersebut.
Osbourne sendiri tetap menyempatkan perhatiannya pada perjuangan tim Inggris di Afsel. Dalam debat nasional yang disiarkan televisi, ia mengatakan berharap Joe Cole dimainkan, karena sejauh in masih dibekukan di bangku cadangan.
Kali terakhir Inggris tidak lolos dari babak grup adalah di tahun 1958, di luar kegagalan mereka tampil di putaran final Piala Dunia 1974, 1978 dan 1994.
(a2s/krs)











































