Inggris tersingkir dari Piala Dunia 2010 usai dikalahkan Jerman 1-4 di babak 16 besar, Minggu (27/6/2010) malam WIB.
Tereliminasinya tim Tiga Singa itu menyisakan satu cerita kontroversial tentang dianulirnya gol Frank Lampard oleh wasit padahal bola sudah melewati garis gawang. Seandainya wasit mengesahkan, ceritanya mungkin bakal lain, karena gol itu bisa membawa Inggris menyamakan skor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami (tenis) memiliki teknologi Hawk Eye meski kami tak terlalu memerlukannya. Sementara sepakbola seharusnya menerapkan teknologi ini, tetapi pada kenyataannya sampai saat ini tidak," tukas petenis Swiss itu seperti diberitakan Reuters.
"Di tenis, satu forehand yang menyentuh garis tidak berpengaruh banyak kepada hasil akhir. Sementara itu di sepakbola satu gol bisa mengubah strategi dan juga cara berpikir dari suatu tim. Gol memberikan efek yang sangat berarti dan bisa mengubah segalanya," lanjut petenis berjuluk Fedex itu.
"Sepakbola seharusnya menggunakan teknologi itu dan mereka tidak menggunakannya. Jadi kini terserah saja kepada para pengambil keputusan. Saya pikir kejadian ini berat. Ini seperti seseorang yang menangis untuk sebuah perubahan," ujar Federer
Pada Oktober tahun lalu, presiden FIFA Sepp Blatter membuka peluang bagi penggunaan "Mata Rajawali" di sepakbola.
Apakah setelah terjadinya keputusan kontroversial dalam Inggris vs Jerman, teknologi HawkEye bakal digunakan di sepakbola?
Foto: Bola tendangan Frank Lampard yang sudah melewati garis gawang Jerman tetapi dianulir wasit. Inggris tersingkir dari Piala Dunia usai kalah 1-4, Minggu (27/6/2010) malam WIB (Getty Images) (nar/roz)











































