Hal ini Cruyff katakan jelang pertemuan antara timnasnya Belanda dan Brasil pada perempatfinal, Jumat (2/7) malam WIB. Sebagai fanatik Total Football Cruyff mengkritik permainan Brasil ala Dunga yang kini dinilainya pragmatis.
Cruyff lantas membandingkan Brasil kini dengan Brasil era 70-80an di mana Seleccao benar-benar tampil indah dengan digawangi Zico yang sampai dijuluki 'Si Pele Putih'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dimana sihir Brasil? Aku mengerti kenapa Dunga memilih para pemainnya namun di mana playmaker atau skill di lini tengahnya? Aku pikir tak orang yang ingin membayar untuk menonton mereka. Aku tidak akan pernah membayar tiket untuk melihat mereka," sambungnya.
Tak salah memang jika Cruyff berkata demikian karena hanya Kaka dan Robinho saja yang boleh dibilang termasuk fantatista di dalam tim. Sisanya Dunga memilih pemain pekerja keras. Cruyff pun adalah orang kesekian yang mengkritik metode pemilihan Dunga di Piala Dunia ini.
"Brasil butuh bermain lebih intens, lebih berirama di lapangan karena mereka kini tidak spesial. Fans selalu ingin menikmati Brasil, menikmati fantasi mereka di Piala Dunia. Namun mereka tidak memilikinya musim panas ini," aku mantan bintang Belanda itu.
"Mereka punya pemain bertalenta namun mereka bermain lebih bertahan dan tidak menarik. Ini memalukan bagi fans dan juga turnamen ini. Mereka adalah salah satu tim yang paling dinanti," pungkasnya.
Tapi ada baiknya Cruyff melihat realita yang ada di mana saat Belanda yang dipimpinnya tak pernah mampu menaklukkan dunia lewat Total Football. Di Piala Dunia 1974 & 1978, Oranje ke final namun selalu gagal.
Bagaimana, Meneer? (mrp/a2s)











































