Telah membela Tim Samba sejak 1982, Dunga berujar bahwa momen terbaik dan yang paling diingat olehnya adalah Piala Dunia 1994 ketika menang melawan Italia. Ia juga terkenang kegagalan Brasil di final Piala Dunia 1998.
Ingatan tersebut masih teringat jelas dan di turnamen tahun ini dan Dunga ingin 'menebus'nya dengan partai harus menang di perempatfinal tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dunga menjadi kapten Brasil tahun 1994 dan mencetak gol penalti melawan Italia saat itu di final. Namun banyak pendukung yang masih mengkritik gaya permainan Dunga yang dikenal membosankan.
Ia juga menjadi bagian dari skuad Brasil di tahun 1998, kala mengalahkan Belanda di babak semifinal. Waktu itu Brasil menyingkirkan Belanda melalui babak adu penalti, dan Dunga menjadi salah satu algojo yang sukses melaksanakan tugasnya.
Dan kini, dirinya didaulat menjadi pelatih menggantikan Carlos Alberto Parreira yang gagal membawa Brasil melaju ke semifinal setelah kalah oleh Prancis di Piala Dunia 2006.
Sang pelatih berujar bahwa partai melawan Belanda akan berkesan karena penampilan kedua tim yang sama-sama menyerang. Dunga beranggapan Belanda adalah satu dari sedikit negara Eropa yang gaya bermainnya mirip dengan negara-negara Amerika Selatan.
"Melawan Belanda merupakan pertandingan yang cantik," ujar pelatih berusia 46 tahun tersebut. "Kedua tim selalu mencoba permainan dengan kualitas yang setara. Mereka sama-sama mencari kemenangan. Ketika dua tim bermain seperti itu, maka pertunjukan akan semakin menarik."
(roz/roz)











































