Hari Selasa malam Uruguay akan tampil di semifinal melawan Belanda, dan itu merupakan kali pertama mereka mencapai level itu semenjak 1970, setelah mereka dua kali menjuarai Piala Dunia jaman "baheula", di tahun 1930 dan 1950.
"Kami akan bermain untuk negara kami, masyarakat kami. Tapi setelah itu kami pun tahu kami sedang mewakili benua kami. Ini sebuah sumber kebanggaan yang sangat besar,β tutur penyerang Edison Cavani, Minggu (4/7/2010), dikutip Reuters.
"Meskipun mereka (tim-tim Latin yang lain) telah out, mereka tetap merupakan kekuatan besar, tim-tim yang bagus. Tapi saya rasa Uruguay pantas berada di sini," sambung pemain klub Palermo tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diego Forlan dkk lolos setelah menahan imbang Prancis, dan mengalahkan Afsel dan Meksiko. Mereka kemudian bermain sangat hebat melawan Korea Selatan di babak 16 besar, lalu mengalahkan Ghana lewat adu penalti di perempatfinal.
"Kami bersiap menghadapi sebuah pertarungan nan perkas, dan jika Tuhan menghendaki, satu langkah maju lagi menuju mimpi besar kami," timpal kapten Diego Lugano, yang masih diragukan bisa tampil di semifinal karena cedera lutut. "Sejarah Uruguay meminta kami menjadi juara dunia."
Dengan populasi hanya sekitar 3,5 juta penduduk, Uruguay tahun ini telah menapak ke level yang lebih baik dibanding dua raksasa Amerika Selatan, Brasil dan Argentina.
"Karena kami mewakili Amerika Latin, kami berharap mereka juga mendukung kami. Tapi di hari kami menghadapi Ghana, banyak juga orang Meksiko yang mendukung Ghana," sindir penyerang Sebastian 'El Loco' Abreu. "Hal-hal seperti itu sulit kita pahami. Tapi tidak apa-apa, terima kasih untuk mereka yang menyemangati kami."
Tentang Belanda, Cavani menaruh respek pada runner up Piala Dunia 1974 dan 1978 itu. "Mereka tim yang bermain baik, memainkan bola dengan baik. Secara taktik, mereka mendekati sempurna."
(a2s/mrp)










































