Seperti diketahui, Prancis sudah tersingkir saat Piala Dunia masih di fase grup. Tersingkirnya juara dunia 1998 itu diwarnai konflik panas antara pemain, pelatih, ofisial dan Federasi Sepakbola Prancis (FFF).
Tindakan Domenech sang pelatih yang mengusir pulang Nicolas Anelka jadi mulanya. Bagi Gallas, pemain yang selalu tampil dalam tiga partai Les Blues, Domenech adalah sumber masalah tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak pemain yang tidak bisa bicara padanya lagi. Opini kami tidak dianggap, jadi setelah beberapa waktu kami tidak mau lagi bicara. Itulah yang saya lakukan, saya mendengar dan melakukan apa yang dia bilang kepada saya," tukasnya.
Domenech memang sosok pelatih yang unik. Dalam hal pemilihan pemain, unsur like and dislike lebih mengemuka ketimbang pertimbangan obyektif perihal kemampuan si pemain.
Gallas kemudian juga mengungkapkan bahwa diusirnya Anelka oleh Domenech bukanlah karena hinaan yang dilontarkan si pemain kepada si pelatih, tetapi lebih karena Anelka menolak bicara dengan Domenech.
Pasca pengusiran itu, harmoni di tim Prancis rusak; ditandai dengan boikot latihan yang dilakukan para pemain. Apalagi, saat itu kapten tim Patrice Evra malah terlibat cekcok dengan salah satu pelatih.
"Domenech-lah yang menolak diskusi. Boikot latihan itu diputuskan setelah para pemain bertemu. Franck Ribery telat karena wawancara televisi. Kami sepakat boikot latihan, itu bukan karena tekanan dari pemain senior," tandas Gallas yang bermain untuk Arsenal.
(arp/roz)











































