Dengan taktik yang kemudian dikenal dengan sebutan 'Total Football', Belanda mencapai final Piala Dunia 1974 dan 1978. Saat itu kaos oranye dan umpan-umpan cepat nan jitu para pemainnya membuat Belanda dijuluki 'Clockwork Orange'.
Namun demikian, permainan cantik ini tak diganjar dengan trofi juara. Belanda berturut-turut kalah dari Jerman Baratnya Franz Beckenbauer dan kemudian Mario Kempes cs di kubu Argentina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tak ingin hanya menjadi clockwork orange lainnya, kami ingin jadi juara. Kami ingin ada di dalam sejarah dengan mengangkat trofi ini," tegas gelandang Spanyol Xavi kepada harian El Periodico yang dikutip Reuters.
"Akan jadi hal bagus untuk sepakbola dan olahraga ini, dan yang terpenting pemain generasi ini layak mendapatkannya," imbuh dia.
Barcelona, klub tempat Xavi bernaung, punya pengaruh tersendiri terhadap permainan tik-tak Spanyol, atau yang biasa disebut 'Tiki-taka'. Hal ini tak lepas dari gaya 'Total Football' Belanda yang ditularkan para meneer macam Johan Cruyff, Louis van Gaal dan Frank Rijkaard, yang sempat menangani klub Catalan tersebut.
Itu mengapa Sergio Busquets, gelandang 'Matador' asal klub Barcelona, juga sempat mengatakan bahwa Spanyol berutang besar kepada Belanda karena pengaruh kuat mereka di Barca. Sekadar informasi, ada tujuh pemain Barca yang jadi starter Spanyol di semifinal melawan Jerman.
(krs/krs)
