Garis Finis Gio yang Pahit

Garis Finis Gio yang Pahit

- Sepakbola
Senin, 12 Jul 2010 06:17 WIB
Garis Finis Gio yang Pahit
Jakarta - Giovanni van Bronckhorst harus melakoni partai terakhir dalam karir sepakbolanya dengan ujung yang pahit. Kekalahan Belanda menjadi lembar terakhir perjalanan Gio.

Sebelum final yang berlangsung Senin (12/7/2010) dinihari WIB, Van Bronckhorst memang sudah menyatakan niatnya gantung sepatu. Di usia 35 tahun, bek Feyenoord Rotterdam itu memang terhitung sudah uzur.

Namun lembar terakhir buku karir Van Bronckhorst yang terentang selama 17 tahun ditulis dengan aksara yang buram. Belanda harus mengubur mimpi menjadi juara dunia untuk kali pertama karena dibekuk Spanyol 0-1.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gol kemenangan Spanyol dicetak oleh Andres Iniesta di menit 116. Pada saat itu, Gio sudah beranjak dari lapangan karena digantikan oleh Edson Braafheid di menit 105.

Van Bronckhorst memulai karirnya di RKC Waalwijk tahun 1993. Cuma setahun di sana ia direkrut klub besar Belanda, Feyenoord Rotterdam. Di klub inilah bek keturunan Indonesia itu mulai mekar.

Tahun 1996, Van Bronckhorst untuk pertama kalinya mencicipi seragam oranye timnas Belanda. Sayangnya, babak pertama karirnya di Feyenoord ia akhiri tahun 1998 tanpa satu gelar pun.

Van Bronckhorst lantas bertualang ke Skotlandia untuk membela Glasgow Rangers. Sukses merebut dua gelar jawara Liga Skotlandia, dua Piala Skotlandia dan satu Piala Liga, pria yang akrab dipanggil Gio itu hijrah ke klub besar Inggris, Arsenal.

Di Arsenal, Gio semakin mekar. Titel Liga Primer 2001-02 dan dua Piala FA pada tahun 2002 dan 2003 menjadi torehannya di The Gunners. Pada tahun 2003, Gio lantas pindah ke Barcelona.

Sukses masih terus diraup Gio bersama Barca. Dua gelar La Liga (2004-05 dan 2005-06) dan juara Liga Champions 2006 menjadi pencapaian Gio sebelum pulang ke Feyenoord tahun 2007.

Tiga tahun bersama Feyenoord sudah cukup dan pemilik 106 caps plus enam gol itu pun undur diri. Meski gagal membawa Oranje jadi juara dunia, rasanya semua orang akan tetap mengenal Gio sebagai salah satu pesepakbola terbaik yang pernah dimiliki Belanda.

(arp/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads