DetikSepakbola
Senin 26 Mei 2014, 18:37 WIB

Ketika Chile Tampil di Negara yang Kerap Menghancurkan Mimpinya

- detikSport
Ketika Chile Tampil di Negara yang Kerap Menghancurkan Mimpinya AFP/Martin Bernetti
Santiago -

Ada sejarah rivalitas sepakbola Chile dengan Brasil. Apa yang akan terjadi pada Arturo Vidal dkk. itu ketik tampil di Piala Dunia yang dihelat di negeri yang kerap menghancurkan mimpi mereka itu?

Chile boleh jadi tidak masuk dalam Big Three kekuatan sepakbola di Amerika Selatan, yang merujuk pada Brasil, Argentina, dan Uruguay -- karena baru ketiga negara itulah yang pernah memenangi Piala Dunia.

Meksi demikian Chile terbilang istimewa karena mereka adalah negeri Amerika Selatan ketiga yang pernah menjadi tuan rumah di Piala Dunia. Setelah Uruguay (1930) dan Brasil (1950), negeri yang kini jumlah populasi penduduknya 17 juta lebih itu menghajat Piala Dunia tahun 1962.

Absen di dua putaran final Piala Dunia 1954 dan 1958, Chile bersaing ketat dengan Argentina saat memperebutkan jatah Piala Dunia 1962 yang harus diadakan di Amerika Selatan. Argentina kala itu sangat bernafsu dan "pede" karena merasa memiliki semua syarat menjadi tuan rumah, khususnya infrastruktur dan prestise sepakbola di negara mereka. "Kalaupun Piala Dunia harus diadakan besok, kami sudah siap!" demikian kampanye Argentina dalam kongres FIFA di Lisbon, Portugal, pada 10 Juni 1956.

Chile kala itu mengandalkan beberapa aspek, antara lain aktifnya mereka di setiap pertemuan dan turnamen FIFA, iklim masyarakat yang "sporty", serta stabilitas negara mereka. Singkat kata, Chile pun berhasil mengalahkan Argentina dalam voting, dan terpilih sebagai penyelenggara Piala Dunia edisi ketujuh itu.

Sebelumnya, setiap kali tampil di Piala Dunia, Chile tak pernah lolos dari babak grup. Tapi menjadi tuan rumah menjadi motivasi besar tersendiri. Dan mereka lolos ujian pertama setelah berhasil mengalahkan Swiss 3-1.

Di pertandingan kedua Chile bertemu raksasa Eropa, Italia. Pertandingan berlangsung sangat brutal, penuh tekel-tekel keras, diwarnai beberapa adu pukul, polisi pun sampai masuk ke lapangan untuk turun tangan. Duel yang kemudian dikenal sebagai "Battle of Santiago" itu berkesudahan 2-0 untuk Chile.

Di laga selanjutnya Chile memang kalah dari Jerman Barat, tapi lolos ke putaran kedua. Dan di babak itu sang tuan rumah berhasil mengalahkan Uni Soviet 2-1 dan lolos ke semifinal untuk bertemu dengan Brasil, yang berstatus juara bertahan.

Menghadapi Garrincha dkk., di depan 77 ribu suporternya yang memadati Estadio Nacional di kota Santiago, Chile harus menelan kenyataan pahit. Brasil melumat mereka dengan skor 4-2. Mimpi ke final pun kandas.

Kekalahan tersebut sampai diibatkan sebagai "tragedi Maracanazo"-nya Brasil, yang dikalahkan Uruguay di final 1950 ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia, di stadion kebanggaan mereka.

Dan inilah kutipan seorang jurnalis asal Chile bernama Julio Martinez, yang menggambarkan kekecewaan warganya atas kekalahan yang diderita mereka.

"Brasil kalahkan kami lagi, membunuh harapan bangsa, sama seperti tahun 1945 (pada Kejuaraan Amerika Selatan) pada malam terjadinya gol Heleno de Freitas. Dan pada 1952 (di Pan American Games) pada siang terjadinya gol Ademir. Satu hal yang dapat disimpulkan, Brasil menjadi penghancur mimpi sepakbola Chile, untuk ketiga kalinya memaksa fans melipat bendera mereka."

Puluhan tahun kemudian derita Chile terjadi lagi. Di Piala Dunia 1998, dalam comeback Chile di Piala Dunia setelah absen di tiga edisi sebelumnya, Ivan Zamorano dan Marcelo Salas memimpin negara mereka lolos ke putaran kedua. Hanya saja, di babak 16 besar mereka harus berjumpa Brasil. Hasilnya, kembali Brasil menghentikan langkah La Roja dengan kemenangan 4-1.

Pun demikian empat tahun lalu di Afrika Selatan. Brasil lagi-lagi menjadi tim yang menghentikan kiprah penting Chile di Piala Dunia. Juga di babak 16 besar, gol-gol dari Juan, Luis Fabiano dan Robinho, memaksa Mauricia Isla cs. pulang lebih cepat.

Bagaimana dengan Piala Dunia tahun ini? Faktanya, Chile tampil cukup impresif di babak kualifikasi, dengan menduduki peringkat ketiga di klasemen akhir. Di fase awal nanti mereka berada di grup keras, yaitu Grup B yang dihuni Spanyol, Belanda, dan Australia.

Sejauh mana Chile, yang notabene adalah salah satu negara termakmur dan paling stabil di Latin itu, bisa melangkah? Apakah lapangan-lapangan di Brasil yang akan mereka jejaki nanti akan kembali membuyarkan mimpi-mimpi mereka? Atau justru di Brasil mereka akan meraih kecemerlangan?


(rin/a2s)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed