Seikat Mawar yang Meredam Panasnya Amerika Serikat vs Iran

Seikat Mawar yang Meredam Panasnya Amerika Serikat vs Iran

- Sepakbola
Jumat, 30 Mei 2014 16:54 WIB
Seikat Mawar yang Meredam Panasnya Amerika Serikat vs Iran
PASCAL GEORGE/AFP/Getty Images
Jakarta -

Ada banyak laga hebat di Piala Dunia yang melibatkan negara-negara Asia. Tapi soal tensi tinggi dan panasnya persiapan jelang pertandingan, rasanya tidak ada yang sesengit duel Iran dengan Amerika Serikat di Prancis 1998.

Saat Iran dan Amerika Serikat harus berbagi tempat di Grup F Piala Dunia 1998, seluruh dunia langsung mengantisipasi duel tersebut. Dari kacamata sepakbola, laga tersebut sejatinya tidak akan seseru pertandingan yang melibatkan Jerman serta Yugoslavia, yang juga tergabung di Grup F. Namun sejarah hubungan politik AS dan Iran mengubah segalanya.

Tentu, dua negara Eropa tersebut menjadi favorit saat itu untuk melaju ke perdelapan final. Namun, pertemuan Iran dan AS tetap menyita perhatian dunia internasional, termasuk FIFA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak Revolusi Iran di tahun 1979, hubungan diplomatis kedua negara sudah putus. Dalam beberapa moment relasi keduanya bahkan memburuk.

Masalah pertama yang muncul jelang laga tersebut terkait status Iran sebagai tim B dan AS sebagai tim A. Menurut aturan FIFA, tim B harus mendatangi Tim A untuk memulai berjabat tangan, namun pemimpin besar Iran menolak aturan tersebut. Mehrdad Masoudi, orang Iran yang menjadi media officer FIFA untuk pertandingan tersebut, berhasil melakukan negosiasi dan membuat AS yang datang menyalami Iran sesaat sebelum kickoff.

Pihak keamanan Prancis juga melakukan persiapan ekstra menjelang laga tersebut. Petugas keamanan yang berjaga di sekitar Lyon diperbanyak. Termasuk di dalam stadion di mana sempat diperkirakan akan ada aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok suporter Iran.

Muncul selentingan kabar, sebuah organisasi teroris memperoleh tujuh ribu tiket pertandingan AS vs Iran yang berlangsung di Stade Gerland, Lyon. Polisi anti huru hara dalam jumlah lebih dari biasanya turut disiapkan di dalam stadion untuk menghindari serangan massa yang menyerbu lepangan.

Kekhawatiran-kekhawatiran akan pecahnya keributan tidak terbukti. Pun begitu di atas lapangan, laga berjalan sengit namun tetap dalam batasan sportivitas. Sebelum kick off, tim Iran dan AS menunjukkan semangat olahraga yang penuh fair play sekaligus menegaskan kepada khalayak ramai bahwa sepakbola itu di luar hal-hal berbau politik.

Kedua tim bahkan menunjukkan sikap besahabat di mana seluruh pemain Iran membawa seikat bunga mawar putih lambang perdamaian yang diberikan pada pemain AS. Sementara para penggawa AS juga menyipakan cederamata buat lawannya itu. Kedua tim juga melewati sesi foto bersama dengan saling bergandeng dan berangkulan.

Tim Iran di tahun 1998 dipenuhi oleh para pemain bintang. Sebut saja, penyerang Arminia Bielefeld Ali Daei yang setelah turnamen pindah ke Bayern Muenchen. Ali Daei tercatat sudah mencetak 109 gol timnas di akhir masa karirnya. Nama-nama bintang lainnya adalah gelandang Mehdi Mahdavikia dan Karim Bagheri.

Sementara tim Amerika Serikat pada tahun 1998 diperkuat para pemain yang masih minim pengalaman di sepakbola dunia. Nama-nama tenar kala itu adalah striker Brian McBride, gelandang Claudia Reyna, bek Frankie Hejduk dan kiper Kasey Keller.

Iran membuka skor lima menit sebelum babak pertama usai. Umpan crossing dari Javad Zarincheh disambut sundulan Hamid Estili, pemain klub Bahman. Estili merayakan gol seperti Tardelli selepas mencetak gol di Final Piala Dunia 1982.

Pada menit ke-84, Mahdavikia mencetak gol kedua Iran setelah menerima umpan terobosan dari Ali Daei. Mahdavikia berlari mengejar bola dan lolos dari jebakan offside AS. Ada satu pemain AS yang berusaha merebut bola dari Mahdavikia dan juga satu pemain Iran lainnya yang berdiri bebas.

Tapi, Mahdavikia langsung menembak bola, dan gol untuk Iran! Skor 2-0. Penyerang Brian McBride memperkecil skor jadi 2-1 tiga menit sebelum pertandingan berakhir.

Karena sudah kalah di laga pertama, hasil laga dengan Iran membuat AS dipastikan tersingkir. Sementara Iran memperpanjang napas, meski akhirnya juga harus terdepak di fase grup karena kalah bersaing dengan Jerman dan Yugoslavia.

Kemenangan atas AS menghadirkan euforia luar biasa di Iran. Sama seperti ketika mengalahkan Australia di kualifikasi, pesta besar digelar di sana. Ribuan orang turun ke jalan merayakan hasil laga tersebut. Orang-orang disebutkan menari gembira di jalanan Kota Tehran. Kondisi serupa ditemui di banyak kota di Iran.

Karena sepakbola belum terlalu populer di Amerika Serikat saat itu - meski empat tahun sebelumnya sudah jadi tuan rumah - atmosfer jelang pertandingan dan gaung hasil laga tersebut tidak seheboh di Iran. Apalagi Iran menganggap laga tersebut sebagai peluang menunjukkan keunggulan negaranya atas apa yang mereka sebut sebagai 'The Great Satan'. Sebagai simbol kemenangan perang atas Amerika Serikat.




(din/cas)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads