Enam belas tahun lalu Didier Deschamps pernah menulis cerita indah bersama timnas Prancis di Piala Dunia. Di Brasil tahun ini, Deschamps coba lagi merajut cerita manis bersama Les Bleus.
Di Stade de France tanggal 12 Juli 1998, Deschamps memimpin rekan-rekannya di Prancis menaklukkan juara bertahan Brasil di partai final dengan skor 3-0, yang membuat negara tersebut untuk pertama kalinya menjadi juara dunia.
Tak cuma itu dua tahun berselang di Belanda-Belgia, Deschamps yang masih jadi kapten 'Tim Ayam Jantan' membawa lagi Prancis berjaya di Piala Eropa dengan mengalahkan Italia di final berkat 'gol emas' David Trezeguet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma hebat bersama negaranya, Deschamps yang saat masih jadi pemain berposisi gelandang bertahan itu juga bergelimang gelar di level klub. Bersama Marseille, pria kelahiran 1968 jadi kapten termuda yang memenangi Liga/Piala Champions di tahun 1993 bersama Marseille di usianya yang masih 25 tahun.
Di Juventus Deschamps malah lebih oke lagi dengan tiga scudetto, satu trofi Liga Champions, dan satu Piala Interkontinental. Sempat memperkuat Chelsea dan Valencia, Deschamps kemudian pensiun di tahun 2001.
Semasa bermain, Deschamps dipuji sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah dilahirkan Prancis. Eric Cantona bahkan menjuluki Deschamps sebagai 'gelandang pengangkut air', sebutan yang kemudian kerap disematkan untuk pemain yang melakukan "kerja kotor" di atas lapangan.
Selain tekel-tekel yang kerap muncul darinya, Deschamps juga lihai dalam melepaskan umpan jitu untuk rekan-rekannya.
Kemudian seperti kebanyakan eks pesepakbola lainnya, Deschamps kemudian mencoba karier sebagai pelatih yang dimulai bersama AS Monaco di tahun 2001. Di klub itu, Deschamps berjasa mengantarkan Monaco jadi runner-up Liga Champions 2004.
Setelahnya Deschamps melatih eks klubnya Juve yang di musim 2006/2007 bermain di Serie B setelah terkena kasus Calciopoli. Hanya butuh semusim bagi Deschamps untuk mengantarkan 'Si Nyonya Besar' kembali ke Serie A, sebelum akhirnya ia mundur.
Dua tahun menganggur Deschamps ditunjuk sebagai pelatih Marseille yang dibawanya menjadi juara Ligue 1 musim 2009/2010 setelah puasa gelar selama bertahun-tahun lamanya. Selain itu ia juga merebut tiga gelar Piala Liga Prancis.
Sayang kariernya tak berakhir manis di klub itu setelah ia memutuskan mundur di akhir musim 2011/2012 karena Marseille finis di posisi 10.
Curriculum vitae Deschamps bertambah di Juli 2012 karena Prancis memilih dirinya sebagai pelatih baru menggantikan Laurent Blanc yang kontraknya habis usai Piala Eropa 2012.
Tak mudah bagi Deschamps untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Blanc itu mengingat Prancis saat itu tengah dalam masa transisi pasca buruknya prestasi tim itu sejak jadi runner-up Piala Dunia 2006.
Bukan rahasia umum jika kondisi internal Prancis saat itu tak kondusif yang sedikit banyak berasal dari era Raymond Domenech, pelatih yang kabarnya tak disukai oleh banyak pemain Prancis dan menyebabkan tiga pemain dihukum usai Piala Dunia 2010, karena dianggap membangkang.
Deschamps dinilai oleh Federasi Sepakbola Prancis (FFF) sebagai sosok tepat untuk mengangkat kembali kejayaan timnas itu. Bermental pemimpin sejati semasa masih jadi pemain, Deschamps pun juga sama saja saat menjadi trainer di timnas.
Ia tak segan-segan mencoret pemain yang dianggapnya punya potensi jadi biang onar dalam timnya dan Samir Nasri jadi salah satu "korban" ketegasan Deschamps.
Meski tampil bagus musim ini bersama Manchester City, Nasri dianggap bisa merusak harmonisasi tim dan membuatnya dicoret dari skuat Prancis di Piala Dunia. Keputusan yang kemudian membuat kesal pacar Nasri dan memaki-maki Deschamps di media sosial Twitter.
Terkait hal ini pun Deschamps menunjukkan sikap tegasnya dengan akan memperkarakan hinaan pacar Nasri itu ke pengadilan.
Melihat Deschamps saat ini maka wajar rakyat Prancis berharap banyak pada dirinya bakal membawa Franck Ribery dkk. berjaya di Brasil nanti. Sudah lama Prancis tak punya sosok yang dituakan dan dihormati dalam tim selepas generasi Zinedine Zidane dkk.
Bukan tugas sulit bagi Deschamps untuk membawa Prancis lolos dari fase grup mengingat mereka "hanya" bergabung bersama Honduras, Swiss, dan Ekuador.
Kini pertanyaannya apakah bisa 'Si Pria Pengangkut Air' itu menyamai torehan Franz Beckenbauer, sebagai satu-satunya orang yang bisa menjuarai Piala Dunia sebagai kapten maupun pelatih bersama timnas Jerman Barat.
(mrp/raw)











































