Portugal mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2014 dengan menghadapi Jerman, rival terberatnya di Grup G. Jelas bukan laga yang mudah, tapi melihat kualitas skuat plus faktor Cristiano Ronaldo, Portugal diyakini bisa mengimbangi Jerman dan memberikan pertandingan yang ketat.
Tapi yang terjadi di luar perkiraan, tim asuhan Paulo Bento benar-benar tak berdaya di hadapan Der Panzer. Penalti Thomas Mueller di menit ke-12 mengawali nasib buruk mereka di Arena Fonte Nova, Salvador, Senin (16/6/2014) malam WIB tadi. Sekitar 20 menit kemudian tandukan Mats Hummels merobek jala Rui Patricio untuk kedua kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena kesakitan, Mueller terduduk di lapangan sambil meringis-ringis. Sekonyong-konyong Pepe menghampiri penyerang Jerman itu lagi, meneriakinya plus melancarkan tandukan 'kecil'. Tanpa ampun kartu merah langsung diacungkan wasit.
Maka yang terjadi kemudian bisa ditebak. Jika tampil lengkap 11 pemain saja sudah kebobolan dua gol, maka sangat masuk akal jika gol-gol lain tercipta setelah bermain dengan 10 orang. Mueller, protagonis di laga tersebut, mencetak dua gol lain dan memberikan pukulan yang benar-benar telak untuk Portugal.
Tapi 'luka' Portugal tak berhenti cuma di situ. Sejumlah pemain belakangan diketahui menderita cedera, yakni Hugo Almeida dan Fabio Coentrao. Almeida cuma bertahan di lapangan selama 28 menit, sementara nama terakhir keluar di menit ke-65. Keduanya diragukan bisa tampil setidaknya kontra Amerika Serikat, 22 Juni mendatang.
"Pemandangannya bukanlah yang terbaik. Cedera-cedera itu merupakan cedera otot dan bakal membutuhkan waktu untuk pulih. Kami perlu melihat seberapa buruk cedera tersebut, tapi tanda-tandanya tidak menyenangkan,' kata Bento di situs resmi FIFA.
Kalah telak di laga pembuka, kartu merah, plus dua cedera pemain tentu saja bukan awal yang bagus. Sementara tekanan membesar di laga berikutnya kontra AS yang mana wajib dimenangi, sejumlah pemain inti malah harus absen. Jalan berliku harus dilalui Portugal untuk lolos ke babak 16 besar.
Untuk sementara mereka berada di posisi juru kunci, kalah selisih gol dari Ghana yang 'cuma' kalah 2-1 dari AS. Untuk saat ini Jerman dan AS punya kans lolos yang besar.
Tapi jika ditelusuri, jalan berliku Portugal sejatinya sudah dimulai sejak fase kualifikasi. A Seleccao das Quinas saat itu hanya mampu mengakhiri kampanye di Grup F dengan status runner up, kalah saing dengan Rusia.
Mau tak mau mereka harus melalui babak play-off. Lawannya tak bisa dibilang mudah: Swedia dengan Zlatan Ibrahimovic-nya. Beruntung kala itu Ronaldo tampil sangat impresif, mencetak empat gol dalam dua leg dan membuat dua gol Ibrahimovic tak berarti apa-apa.
Bisakah kali ini mereka mengharapkan tuah Ronaldo lagi? Mungkin saja. Tapi patut diingat bahwa Ronaldo sendiri datang ke Brasil tidak dalam kondisi terbaik. Persiapannya diganggu cedera paha dan lutut, pemain terbaik dunia itupun hanya tampil satu kali dari empat laga uji coba Portugal.
Kendatipun sebelum laga melawan Jerman Ronaldo berujar sudah dalam kondisi fit 100%, tapi tak sedikit yang meragukan hal tersebut. Faktanya, hanya tiga hari jelang pertandingan penyerang Real Madrid itu masih belum berlatih penuh dan sempat kepergok mengompres lututnya.
Bento mengakui tekanan kini membesar untuk timnya, plus cedera yang kian menyulitkan. Bagaimanapun, pelatih 44 tahun itu optimistis kelolosan masih bisa diraih.
"Kami harus tampil dengan solusi terbaik untuk setiap absensi. Kami harus bertarung demi target dan tujuan. Kami akan berada di bawah tekanan besar, terlepas dari hasil Ghana melawan Amerika Serikat," ungkap Bento.
"Tujuan kami tetaplah untuk lolos (fase grup). Kami tidak senang, memulai turnamen dengan hasil seperti ini membuat segalanya serba rumit. Sekarang kami akan menguak siapa diri kami sebenarnya dan kita akan melihat kapasitas kami untuk berjuang mewujudkan tujuan," demikian dia.
(raw/roz)










































