Kamerun yang Belum Pernah Mengaum lagi

Kamerun yang Belum Pernah Mengaum lagi

- Sepakbola
Kamis, 19 Jun 2014 13:10 WIB
Kamerun yang Belum Pernah Mengaum lagi
REUTERS/Murad Sezer
Manaus - Kamerun pernah menciptakan sensasi di Piala Dunia 1990. Tapi sejak itu mereka tak pernah mengaum lagi, termasuk di Brasil tahun ini.

Sudah main dua kali di Grup A, Kamerun selalu kalah: 0-1 dari Meksiko, dan 0-4 dari Kroasia. Mereka pun dipastikan masuk kotak -- bahkan sebelum melakoni laga terakhirnya melawan tuan rumah Brasil.

Faktanya, Kamerun memang selalu kandas di babak pertama dalam lima penampilan terakhirnya di Piala Dunia (1994, 1998, 2002, 2010, dan 2014). Mereka juga tidak lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, tim Afrika ini pernah mengguncang dunia di Italia 1990. Mereka memulainya dengan menaklukkan juara bertahan Argentina dengan skor 1-0 di, partai pembuka turnamen. Kamerun terus melaju dan baru bisa dihentikan oleh Inggris di babak perempatfinal. Selain performa, sensasi lain dari Kamerun kala itu adalah seorang penyerang gaek bernama Roger Milla.

Statistik tersebut menunjukkan bahwa tim berjulukan The Indomitable Lions atau "Singa-Singa nan Gigih" itu tak pernah terlalu menakutkan lagi pada lawan-lawannya di Piala Dunia.

Satu satu cerita nonteknis yang terjadi pada skuat Kamerun menjelang ke Brasil adalah soal uang. Para pemain merasa uang dari federasinya, sebesar 61.000 dolar per pemain, tidaklah memuaskan. Akibatnya, terjadi insiden memalukan sebelum tim berangkat.

Para pemain sempat menolak menerima bendera negara dari perdana menteri mereka dalam upacara pelepasan. Beruntung, pelatih Volker Finke dengan reaktif berinisiatif menerima bendera itu, sebelum terjadi hal yang lebih memalukan lagi.

Samuel Eto'o dkk. bahkan nyaris tidak berangkat ke Brasil karena merasa urusan bonus itu tidak mencapai titik temu. Mereka bertahan lebih lama di hotel, sebelum akhirnya berangkat ke bandara dan terbang ke Brasil.

Sebagaimana sering terjadi di negara-negara Afrika, kondisi interen kerap menjadi masalah besar. Pertengahan tahun lalu FIFA sempat mencekal Kamerun karena terjadi intervensi di tubuh federasi sepakbola mereka, FECAFOOT.

Kala itu Iya Mohamed terpilih lagi sebagai presiden FECAFOOT, padahal sedang diselidiki karena skandal korupsi di sebuah perusahaan kapas milik negara. Belakangan Mohamed dikirim ke penjara, dan FECAFOOT memilih presiden yang baru setelah dibentuk Komite Normalisasi.

Meski demikian, merancang masa depan tetaplah sesuatu yang mesti dilakukan dengan positif. Itulah yang diucapkan Finke setelah timnya kalah dari Kroasia dan tersingkir.

"Kami harus move on dan melihat ke depan, karena tim ini penuh dengan pemain-pemain yang menjanjikan,' tukas pelatih asal Jerman itu.

(a2s/nds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads