Brasil seakan jadi panggung pembuktian untuk Sergio Romero yang sepanjang musim lalu tak terdengar namanya. Kepahlawanannya sudah mendekatkan Argentina ke trofi Piala Dunia ketiganya.
Romero musim lalu dipinjamkan Sampdoria ke AS Monaco, klub kaya yang baru promosi ke Ligue 1. Berstatus sebagai kiper utama timnas Argentina tak membuat Romero mudah mendapatkan tempat.
Sebaliknya pesepakbola 27 tahun itu malah kesulitan dan bahkan jarang mendapatkan kesempatan tampil dari Claudio Ranieri yang lebih mempercayakan Danijel Subasic sebagai kiper utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika dirinya dibawa Alejandro Sabella ke Piala Dunia dan tetap dipercaya sebagai kiper utama 'Tim Tango', pertanyaan pun muncul apakah Romero siap secara fisik dan mental turun di turnamen besar seperti Piala Dunia?
Memang Piala Dunia 2014 adalah kedua kalinya dia ikut serta setelah di 2010, namun tetap saja keputusan Sabella ini dipertanyakan sekaligus dikritik oleh publik.
Tapi Romero membuktikan bahwa kepercayaan Sabella tak sia-sia karena sejak babak grup dia tampil prima mengawal gawang Argentina. Dari enam pertandingan yang dijalani ia hanya kebobolan tiga gol.
Statistik FIFA mencatat bahwa ia punya rasio penyelamatan 83,3 persen dan mengamankan tujuh kali percobaan ke gawangnya. Salah satu penampilan terbaiknya ada pagi tadi kala Argentina menyingkirkan Belanda di semifinal.
Relatif tak "terlihat" sepanjang laga, Romero unjuk aksi saat menepis dua tembakan penalti dari Ron Vlaar serta Wesley Sneijder. Khusus untuk Vlaar yang merupakan penendang pertama Oranje, apa yang dilakukan Romero tentu sudah menyuntik moral rekan setimnya yang akhirnya memenangi babak tos-tosan dengan skor 4-2.
"Adu penalti selalu soal keberuntungan. Tentu saja, saya pernah melatih Romero untuk beradu penalti dan itu menyakitkan," kata Louis van Gaal, pelatih Belanda yang juga menangani Romero semasa di AZ Alkmaar tahun 2007.
Kini Romero punya satu laga lagi untuk menyempurnakan gemerlap panggungnya di Brasil kali ini. Final melawan Jerman di Maracana akan membuktikan keputusan Sabella membawa Romero memang tepat.
(mrp/a2s)











































