Skenario Adu Penalti Jerman vs Argentina

Skenario Adu Penalti Jerman vs Argentina

- Sepakbola
Jumat, 11 Jul 2014 11:33 WIB
Skenario Adu Penalti Jerman vs Argentina
Getty Images
Jakarta -

Sudah ada empat adu penalti di Piala Dunia 2014 ini. Pertemuan Jerman dan Argentina di partai final bisa saja memunculkan skenario serupa.

Adu penalti di Piala Dunia pertama diberlakukan pada 1978, saat Argentina menjadi tuan rumah. Sejak saat itu tercatat sudah terjadi 26 kali adu tos-tosan. Empat yang terjadi di Brasil tahun ini merupakan jumlah terbanyak dalam satu turnamen, menyamai edisi 1990 dan 2006.

Di Piala Dunia 2014 ini, dari 36 tembakan yang sudah dilakukan 26 di antaranya menjadi gol dan 10 gagal. Cuma eksekusi Willian yang tidak mengarah ke gawang karena sepakannya saat Brasil beradu penalti dengan Chile melebar. Sementara satu pemain tendangannya mengenai tiang gawang yakni Gonzalo Jara (Chile).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tendang ke Arah Mana?

Meski cuma berjarak sekitar 11 meter, mengeksekusi penalti bukan perkara mudah buat pemain dengan skill hebat sekalipun. Faktanya, jumlah kegagalan penalti di Piala Dunia cukup tinggi, yakni mencapai 29,2%.

Adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia (BBC)

Lalu bagaimana peluang Jerman dan Argentina jika laga harus dilanjutkan ke adu penalti? Sejauh ini kedua negara punya rekor sangat baik dalam adu penalti. Jerman berhasil meraih empat kemenangan dari empat adu penalti yang sudah dilalui, sementara Argentina dapat empat kemenangan dari lima adu penalti.

Jika Jerman dan Argentina mempelajari penalti yang sudah terjadi sepanjang sejarah Piala Dunia, maka pemain-pemain kedua tim akan tahu kalau menempatkan bola ke sisi atas gawang akan punya peluang lebih besar jadi gol - meski pada Piala Dunia 2010 lalu 6,3% penalti yang diarahkan ke atas berujung mengenai mistar atau melayang tinggi.

Di sisi lain, menempatkan bola ke arah bawah tidak menjamin kesuksesan. Kiper-kiper di Brasil punya tingkat keberhasilan tinggi saat menghalau penalti yang diarahkan ke arah bawah, dengan pemyelamatan paling banyak ke arah kanan.

Jadi penalti dengan peluang terbesar untuk masuk adalah mengarah ke sisi pojok atas kanan dan kiri gawang.


Adu penalti di Piala Dunia 2014

Penendang Pertama atau Kedua?


Ada fakta unik lain, yakni soal keberhasilan penalti dan status sebuah tim sebagai penendang pertama. Sebelum Piala Dunia 2014, tujuh adu penalti terakhir yang terjadi dimenangkan oleh tim yang pertama mengeksekusi bola. Negara terakhir yang menang penalti meski maju sebagai penendang kedua adalah Spanyol (vs Republik Irlandia) di Piala Dunia 2002.

Pola yang sama berlanjut di Brasil tahun ini, setidaknya sampau tiga adu penalti pertama. Kemenangan Argentina atas Belanda di semifinal akhirnya mematahkan rangkaian tersebut. Lionel Messi dkk menjadi pemenang meski jadi penendang kedua setelah Belanda mengirim Ron Vlaar.

Namun tetap saja, 82% dari 11 adu penalti terakhir yang terjadi di Piala Dunia dimenangkan oleh tim yang lebih dulu mengambil penalti.

Beban dan Penentu

Adu penalti memberikan beban luar biasa besar buat eksekutor yang maju. Namun menurut statistik yang dijabarkan BBC, tekanan akan terasa lebih besar lagi buat pemain yang tendangan penaltinya bisa menjadi penentu kemenangan atau kekalahan.

Di Piala Dunia 2014 ini cuma Dirk Kuyt yang berhasil mencetak gol dalam skenario jika tendangannya gagal maka timnya akan tersingkir. Ada dua pemain yang berada dalam skenario serupa gagal menuntaskan tugasnya. Mereka adalah Gonzalo Jara (Chile) dan Michael Umana (Kosta Rika). Penalti mereka berdua diantisipasi kiper dan berujung tersingkirnya mereka.

Apa yang terjadi di Brasil segaris dengan data sejarah. Sebelum Piala Dunia 2014, tingkat keberhasilan penalti di mana kegagalan mencetak gol akan berakibat tersingkirnya tim, angkanya hanya 44%.

Sementara itu, tingkat keberhasilan eksekusi dalam skenario jika penaltinya masuk dan timnya menang mencapai 100% di Piala Dunia 2014 ini. Umana (Kosta Rika vs Yunani) dan Maxi Rodrigues (Argentina vs Belanda) membuktikan hal itu.

Mempertimbangkan Kiper Pengganti

Piala Dunia 2014 mencatat sejarah saat Belanda memutuskan menarik Jasper Cillessen dan memasukkan Tim Krul di ujung periode perpanjangan waktu demi mempersiapkan adu penalti. Krul yang 5 cm lebih tinggi dibanding Cillessen menjadi pahlawan dengan menghalau dua penalti dan mengantar Belanda menang 4-3.

Louis van Gaal berencana melakukan hal yang sama saat berhadapan dengan Argentina di semifinal. Namun karena jatah pergantian pemain sudah habis, dia tak bisa melakukannya. Oranje disingkirkan Argentina 2-4.

Adakah peluang Jerman dan Argentina melakukan hal yang sama jika adu penalti terjadi di final? Peluang tersebut diyakini sangat kecil karena cadangan Manuel Neuer dan Sergio Romero justru posturnya lebih pendek.



(din/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads