Oranye Berkibar

Oranye Berkibar

- Sepakbola
Rabu, 14 Jun 2006 16:11 WIB
Oranye Berkibar
Jakarta - Dua hari lalu warna kuning menyepuh kota Kaiserslautern; kemarin Frankfurt memerah. Tapi sesungguhnya, sejauh ini yang mendominasi Jerman adalah oranye.Adalah Leipzig yang memulai "oranyenisasi" itu, tepatnya ketika Belanda menaklukkan Serbia & Montenegro, Minggu (11/6/2006), lewat gol tunggal Arjen Robben.Setelah pertandingan, ribuan orang Belanda membuat gaduh kota, berpesta pora, minum-minum, sambil terus meneriakkan "Oranye... Oranye...", seakan-akan mereka berada di tanah nenek moyangnya sendiri, yang dari nama salah satu dinasti kerajaan itulah kata "Oranye" kemudian identik dengan negara yang dulu pernah menjajah Indonesia itu.Di level dunia, sepakbola Belanda salah satu yang amat disegani. Banyak pemain besar lahir dari Negeri Kuncir Angin itu, dari dulu sampai sekarang. Paling gampang, orang akan menyebut Johan Cruyff, Ruud Gullit, Marco van Basten, sampai Dennis Bergkamp, Ruud van Nistelrooy dan Robben.Di Zentralstadion, Van Basten memberikan angin segar buat "Singa Oranye". Sebagai pelatih "kemarin sore" yang pernah berguru mengenai Total Football dari pencetusnya, Rinus Michel, lulusan akademi Ajax Amsterdam ini langsung mempersembahkan kemenangan.Harap catat, meskipun mantan bomber AC Milan ini punya reputasi luar biasa, namun tidak sekalipun Van Basten merasakan kemenangan di Piala Dunia. Di Italia 1990 -- satu-satunya Piala Dunia yang pernah ia ikuti -- Belanda seri tiga kali di putaran grup, lalu disingkirkan Jerman (Barat) di babak kedua.Sehari kemudian, di Kaiserslautern, Australia memetik kemenangan 3-1 atas Jepang. Warna khas The Socceroos memang kuning, tapi dia bisa menyepuh Fritz-Walter-Stadion berkat seorang Oranye bernama Guus Hiddink.Hiddink sepertinya punya sentuhan "Midas", terutama buat sebuah tim nasional. Seperti empat tahun lalu ketika menggetarkan umat Korea dengan membawa Tim Ginseng ke semifinal, ia juga sedang membahagiakan penduduk Negeri Kanguru. Australia baru satu kali berlaga di Piala Dunia, itupun sudah lama sekali, tepatnya di Jerman 1974. Dalam satu dekade terakhir mereka hanya nyaris lolos ke putaran final, tapi ternyata tidak terlalu tangguh jika keluar dari benuanya -- sampai Hiddink datang.Menghadapi Jepang yang tak pernah absen sejak 1998, Australia hampir saja kalah karena tertinggal 0-1 sampai 10 menit terakhir. Tapi Hiddink adalah pelatih brilian. Diterjemahkan oleh Tim Cahill dan John Aloisi, yang ia turunkan di babak kedua, Australia mampu melesakkan tiga gol dalam selang delapan menit, sekaligus menuai kemenangan pertama plus gol pertamanya di Piala Dunia. Setelah Australia, giliran Korea menggelar pesta beraroma Belanda. Adalah Dick Advocaat yang tokoh utama kemenangan Park Ji-sung dkk atas Togo. Dengan jitu ia mengubah gaya bermain timnya di babak pertama, yang banyak mengandalkan umpan-umpan jauh, menjadi sentuhan dari kaki ke kaki di babak kedua.Terbukti, gol Togo yang bersarang di gawang Lee Won-jae di menit 31, dapat dibalas dua kali di babak kedua lewat tendangan bebas Lee Chun-soo dan Ahn Jung-hwan. Korea pun untuk pertama kalinya meraih kemenangan Piala Dunia di luar kandangnya -- sebelum Piala Dunia 2002 mereka tak pernah menang.Satu juta warga Korea dilaporkan langsung turun ke jalan-jalan di berbagai kota di Korea, termasuk ibukota Seoul, untuk merayakan kemenangan tersebut. Kalau tidak ada Advocaat, si Oranye berusia 59 tahun itu, mungkin pemandangan merah di kota-kota tersebut tidak ada.Foto: Fans Belanda. Tiga tim yang dilatih orang Belanda memetik kemenangan di pertandingan pertamanya. (AFP) (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads