Italia Masih Digoyang Skandal
Jumat, 23 Jun 2006 11:36 WIB
Hamburg - Skandal mafia wasit yang menggoyang Italia belum juga berakhir. Malah kabar terakhir menyebutkan empat tim Seri A musim lalu mendapat dakwaan karena skandal tersebut.Seperti dilansir Football Italia, Jumat (23/6/2006), Juventus, AC Milan, Lazio dan Fiorentina mendapat tuntutan karena keterlibatan mereka dalam skandal mafia wasit di Italia oleh Komisi Disiplin. Namun apa yang menjadi tuntutan pihak penuntut keempat tim ini masih belum diungkapkan ke publik.Juventus sepertinya bakal mendapat terberat karena mereka menjadi aktor penting skandal ini. Ancaman hukuman mulai dari diambil titel juaranya hingga diturunkan ke Seri B atau malah ke Seri C mungkin bisa dijatuhkan ke Il Bianconerri.Sedikit berbeda dengan Juventus, tiga tim lain sepertinya menerima tuntutan lebih ringan karena dalam hal ini keterlibatan mereka dalam mafia wasit dan pengaturan hasil pertandingan cukup kecil.Namun keingintahuan publik mengenai apa yang menjadi tuntutan pihak penutut kepada empat tim Seri A yang terlibat skandal ini bakal segera terjawab. Rencananya FIGC akan menginformasikan apa yang menjadi dakwaan pihak penuntut besok. Siapa-siapa pula yang terlibat di skandal tersbut juga dibeberkan kepada umum.Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kasus memalukan di negeri Italia ini akan mempengaruhi performa Francesco Totti cs di Jerman. Pelatih Marcello Lippi dengan tegas menjawab bahwa tidak ada keterkaitan sama sekali antara skandal ini dengan kondisi skuadnya."Kami berkonsentrasi penuh pada Piala Dunia. Kasus ini tidak sama sekali membuat kami tegang. Tim ini memiliki peluang besar di Piala Dunia dan kami tidak akan membiarkan apapun mengganggu dari tujuan kami," ungkapnya.Sidang dengan kasus skandal ini akan digelar pada 28 Juni nanti dan semua banding akan dilayani antara 7 Juli dan 9 Juli nanti. Banding terakhir di Peradilan Federal akan dibuka hingga 20 Juli nanti, sebelum putusan final hakim keluar.Foto: Pippo Inzaghi cs diyakini tidak akan terpengaruh dengan skandal besar di negaranya (AFP/Patrick Stollarz). (ian/)










































