Jelang Jerman vs Argentina
Ketimpangan yang Mulai Tak Imbang
Jumat, 30 Jun 2006 11:39 WIB
Jakarta - Sepakbola Jerman dan Argentina dahulu berbeda 180 derajat. Tim Panser terkenal dengan gaya bertahannya, sementara Argentina mengusung sepakbola latin yang memiliki kecepatan.Jerman dan Argentina pernah bertemu dua kali di putaran final Piala Dunia, dengan kemenangan 3-2 untuk Argentina di final 1986 dan 1-0 untuk Jerman Barat di Piala Dunia 1990.Tahun lalu keduanya juga bertemu dua kali, dan berakhir 2-2. Duel pertama di Nuremberg dalam Piala Konfederasi, yang kedua di pertandingan persahabatan di Duesseldorf.Kebanyakan rumah taruhan tidak memberikan keuntungan kepada salah satu tim di pertandingan Jumat (30/6/2006) di Berlin. Ini adalah kejadian pertama setelah 56 pertandingan Piala Dunia 2006.Namun sebenarnya, kondisi sekarang tidak lagi seimbang. Satu sisi ketimpangan tersebut sudah lebih baik. Di bawah asuhan Jurgen Klinsmann, Jerman bukan lagi tim bertahan. Total 10 gol dikoleksinya, sama dengan Tim Tango. Bahkan di tiga dari empat pertandingan, Michael Ballack cs mencetak gol cepat enam menit.Perubahan gaya sepakbola Jerman ini membuat posisinya sedikit lebih unggul dari Argentina, yang masih memiliki masalah bawaan lahir yakni postur tubuh. Tidak satu pun pemain bertahannya memiliki postur di atas 6 kaki atau 183cm. Sementara di lini depan hanya Hernan Crespo yang memiliki tinggi demikian. Sebaliknya pemain belakang Jerman memiliki tinggi menjulang, seperti Per Mertesacker 195,5cm dan Cristoph Metzelder 190,5cm.Ini akan menjadi handicap Argentina yang bisa mengubah permainan. "Tidak ada pilihan lain, kami harus tetap memainkan bola di bawah dan bermain cepat," ujar Saviola yang hanya memiliki tinggi 170cm. So, tinggi badan jadi penentu? Kita lihat saja. (lom/)











































