KPAI, Oh, KPAI

KPAI, Oh, KPAI

Lalu Mara Satriawangsa - Sepakbola
Senin, 09 Sep 2019 16:49 WIB
KPAI, Oh, KPAI
Audisi PB Djarum (dok. PB Djarum)
Jakarta - Lantaran dianggap melakukan eksploitasi anak, PB Djarum pada akhir pekan lalu memutuskan menghentikan program penjaringan bibit pemain yang dikenal dengan Audisi PB Djarum. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) kali ini kebablasan.

PB Djarum, bersama PB Pelita Jaya (Bakrie), PB Jayaraya (Ciputra) dan lainnya berkontribusi besar dalam pembinaan bulutangkis nasional. Piala Thomas dan Uber yang pernah diraih tim bulutangkis kita tak lepas dari atlet-atlet klub-klub tersebut.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kontribusi perusahaan rokok dalam pembinaan bulutangkis nasional sudah dimulai jauh sebelum saya menjadi wartawan tahun 1987-an.

Dulu, ada turnamen untuk anak-anak yang disponsorin oleh pabrik rokok Ardath, namanya Piala Ardath. Semua peserta pakai kaus Ardath. Saya sempat meliput turnamen ini di Bandung.

Apakah Ardath mengeksploitasi anak-anak? Tidak. Justru Ardath memberi panggung/kesempatan pada bibit muda untuk unjuk kebolehan agar bisa dilihat oleh pemandu bakat PBSI.

Hal yang sama, audisi umum bea siswa PB Djarum untuk menjaring bibit-bibit pebulutangkis muda berbakat juga menurut saya bukan bentuk eksploitasi anak. Justru kita harus mengapresiasi PB Djarum yang terus berkiprah, tak henti dalam pembinaan bulutangkis. Atlet itu awalnya anak-anak, tidak ujug-ujug langsung dewasa (jadi).



Sungguh saya tak mengerti cara pandang KPAI terkait hal ini yang berujung 'ngambek'nya PB Djarum dengan menghentikan audisi tersebut.

Merokok itu bahaya. Itu betul! Saya pernah mengalami akibatnya. Saya bisa menangkap pesan KPAI.

Saya akui, bahwa saya perokok. Karena rokok, saya pernah masuk ruang bedah.

Tapi menurut saya, pesan yang disampaikan KPAI itu kebablasan. Kalau mau menekan jumlah perokok atau menghindari anak-anak dari bahaya rokok, saran saya KPAI meminta Pemerintah Cq Kementerian Kesehatan mengeluarkan keputusan, bahwa BPJS tidak mengcover penyakit yang bersumber dari rokok!

Jadi kalau seorang perokok sakit, ya silakan tanggung sendiri! Saya yakin jumlah perokok akan menurun signifikan karena mikir akibatnya. Sakit tidak ditanggung BPJS!



======

Penulis adalah mantan wartawan olahraga dan kini aktif mengamati perkembangan olahraga nasional.



***

detiksport menerima tulisan berupa kolom, opini, atau esai terkait isu-isu olahraga dari para pembaca. Tulisan hendaknya orisinal, belum pernah dimuat di media lain, disertai dengan identitas atau biodata diri singkat (dalam satu-dua kalimat untuk dicantumkan ketika tulisan tersebut dimuat). Kirimkan tulisan Anda ke redaksi@detiksport.com (din/raw)





(din/cas)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads