Haruskah Atlet Puasa Seks Sebelum Bertanding?

Haruskah Atlet Puasa Seks Sebelum Bertanding?

- Sepakbola
Rabu, 02 Jun 2010 16:23 WIB
Haruskah Atlet Puasa Seks Sebelum Bertanding?
Kanada - Di balik gempita pertandingan olahraga ternyata ada pantangan yang selalu ditekankan pelatih pada atletnya, yaitu tidak boleh melakukan hubungan seksual sebelum pertandingan. Haruskah demikian?

Alasan pelatih menyuruh atletnya puasa seks sebelum pertandingan digelar karena khawatir akan mengganggu konsentrasi latihan.

Atlet sudah lama diberikan teori bahwa melakukan hubungan seks sebelum pertandingan atau kompetisi sama saja dengan menguras banyak energi. Muhammad Ali misalnya, ia dilaporkan tidak akan melakukan hubungan seks selama enam minggu sebelum bertanding.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi para ilmuwan mengatakan tidak ada bukti fisiologis yang menunjukkan bahwa seks sebelum kompetisi adalah buruk, demikian diberitakan detikhealth. Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa seks pra-olahraga benar-benar dapat membantu atlet dengan meningkatkan jumlah testosteron.

Namun, belum diketahui jelas apakah ada efek psikologis seks terhadap performa seorang atlet. Beberapa ilmuwan menyarankan bahwa puasa seks bisa membantu beberapa atlet untuk berkonsentrasi lebih baik. Meski begitu tim nasional Argentina mengizinkan kepada para pemainnya untuk nge-seks selama Piala Dunia.

Efek fisiologis

"Ada dua hal yang menjadi alasan mengapa seks sebelum kompetisi dapat mempengaruhi kinerja," ujar Ian Shrier, seorang spesialis kedokteran olahraga di McGill University di Montreal, Kanada, seperti dilansir dari NationalGeographic, Rabu (2/6/2010).

Pertama adalah bisa membuat atlet lelah dan lemah pada hari berikutnya, tapi alasan ini tidak terbukti. Dan kedua, seks dapat mempengaruhi kondisi psikologis dan pikiran. Untuk alasan ini belum diuji.

Pada tahun 2000 Shrier menerbitkan sebuah editorial berjudul 'Does Sex the Night Before Competition Decrease Performance?' yang diterbitkan di Clinical Journal of Sports Medicine.

"Mitos lama yang menyatakan bahwa atlet pantang melakukan hubungan seks sebelum pertandingan besar mungkin berasal dari teori frustasi seksual," tulis Shrier dalam editorialnya.

Tradisi pantangan ini khususnya berlaku dalam olahraga yang membutuhkan kekuatan, seperti tinju dan sepakbola, yang mana gaya agresi (menyerang) dianggap sebagai ciri berharga. Beberapa orang percaya bahwa ejakulasi pada pria dapat 'menghisap' testosteron, yaitu hormon keinginan seksual dan agresifitas dari tubuh.

"Ini adalah pendapat yang benar-benar salah," tangkas Emmanuele A. Jannini, profesor endokrinologi dari Universitas L'Aquila di Italia, yang telah mempelajari efek seks terhadap kinerja atletik.

Jannini menemukan bahwa seks sebenarnya merangsang produksi testosteron, sehingga meningkatkan atlet untuk melakukan agresi (serangan).

Para ilmuwan menolak gagasan bahwa seks malam sebelum kompetisi memiliki efek melelahkan pada atlet atau dapat melemahkan otot-otot atlet.

"Aktivitas seksual sebenarnya juga bisa membantu mengatasi rasa sakit otot atau cedera olahraga pada wanita," ujar Barry Komisaruk, seorang profesor psikologi di Rutgers University di Newark, New Jersey.

Studinya menemukan bahwa rangsangan seksual pada wanita menghasilkan efek yang kuat menghalangi rasa sakit. Efeknya, bisa berlangsung hingga sehari untuk nyeri kronik seperti nyeri otot. Komisaruk juga menemukan bahwa stimulasi vagina memiliki efek yang kuat pada ketegangan otot di kaki.

Efek psikologis

Jauh lebih sedikit yang diketahui tentang efek psikologis dari seks terhadap kinerja atletik. Beberapa ahli mengatakan pelatih mendukung teori 'puasa seks' hanya karena ingin memastikan atletnya cukup tidur sebelum pertandingan besar.

Para psikolog telah menunjukkan terdapat suatu tingkat optimal dari kewaspadaan dan kecemasan yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja terbaik. Terlalu cemas atau agresi dapat mengakibatkan kinerja yang buruk.

"Jika atlet terlalu cemas dan gelisah malam sebelum kompetisi, maka seks dapat membuatnya lebih rileks," tulis Shrier dalam studinya.

Tapi jika atlet sudah merasa santai dan tidak tertarik dengan hubungan seks malam sebelum kompetisi besar, maka tidur nyenyak adalah pilihan terbaik.



Foto: Pemain tim nasional Argentina diizinkan untuk berhubungan badan dengan pasangan masing-masing selama Piala DUnia digelar (AFP/Alejandro Pagni)

(nar/key)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads