Begitulah filsuf Jean Paul Sartre memulai kata pengantar untuk buku karya Frantz Fanon berjudul "Bumi Berantakan" (The Wretched of the Earth) yang terbit pertama kali dalam bahasa Prancis pada 1961. Karya-karya Fanon banyak menginspirasi gerakan pembebasan atas kolonialisme di Afrika dalam waktu yang lama.
21 tahun setelah buku Frantz Fanon itu terbit, Aljazair (yang menjadi subyek utama buku Fanon itu) tampil di Piala Dunia 1982 dengan debut yang sangat mengesankan: mengalahkan Jerman Barat dengan skor 2-1. Dunia sepakbola terkejut, begitu juga publik dan para pemain Aljazair sendiri. Euforia melenakan mereka sehingga di laga kedua Aljazair menyerah 2-3 oleh Austria. Di laga terakhir, Aljazair kembali bangkit dengan mengandaskan Cile dengan skor 3-2. Tapi mereka tersingkir karena kalah selisih gol setelah Jerman Barat mengalahkan Austria dengan skor 1-0.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kubu Aljazair meradang dan meminta FIFA menggelar laga ulang. Tapi FIFA bergeming. Rabah Madjer, pilar tim nasional Aljazair saat itu, dengan sedih mengeluhkan perlakuan tidak adil yang menimpa negaranya. Protes dan kemarahan juga menjalar hingga Aljazair dan memicu solidaritas dari beberapa negara Afrika lainnya.
Kalimat Jean Paul Sartre saat itu terasa menemukan afirmasinya di dunia sepakbola. Aljazair, meminjam kata-kata Sartre, seperti "tidak dimanusiakan" dan Rabah Madjer (masih dengan menyitir kalimatnya Sartre) tidak bisa tidak harus "mengikutinya". Puisi karya Aime Cesaire yang dikutip oleh Frantz Fanon di buku Bumi Berantakan seakan menggemakan kembali suasana batin bangsa Aljazair waktu itu: "Namaku: sakit hati. Nama baptisku: penghinaanβ¦"
Delapan tahun kemudian atau 29 tahun setelah buku Fanon terbit, Afrika kembali mengguncang jagat sepakbola saat mengandaskan Argentina di laga pembukaan Piala Dunia 1990 dengan skor 1-0 lewat gol Francois Oman Biyik. Padahal, sejak menit 61 Kamerun harus bermain sepuluh orang dan pada menit 88 mereka harus bermain dengan sembilan orang.
Maradona, yang empat tahun sebelumnya tak tertandingi, toh kali ini dipaksa turun dari singgasana kedewaannya. Berkat Kamerun, semua tim yang keder dengan Maradona seperti mendapat pencerahan: Maradona toh bukan Dewa dengan "D" besar, tapi dewa dengan "d" kecil, yang bisa keok dan mentok.
Tak ada yang menganggap Kamerun hanya sekadar beruntung karena terbukti mereka bisa melaju hingga perempat-final sebelum dikandaskan oleh "ibunda sepakbola moderen", Inggris, melalui tendangan penalti Gary Lineker di menit 105 perpanjangan waktu.
Saat itu Kamerun bukan hanya jadi tim Afrika pertama yang bisa masuk perempatfinal Piala Dunia, tapi juga menjadi simbol sepakbola Afrika sebagai kekuatan baru sepakbola dunia. Surat kabar Il Tempo yang bermarkas di Roma menulis: "Afrika tidak lagi Dunia Ketiga".
Ya, sejak itu Afrika tak lagi menjadi Dunia Ketiga di jagat sepakbola. Dalam kata-kata Sartre di atas, Kamerun sudah menjadi "manusia" dan juga telah "menciptakan kata" dalam lembaran tebal buku sejarah sepakbola dunia. Sejak itu, lolos dari babak grup Piala Dunia bukan lagi hal yang langka bagi sepakbola Afrika. Perempat-final Piala Dunia bukan lagi terra incognita bagi bangsa Afrika. Senegal bahkan mengulangi prestasi Kamerun dengan lolos hingga babak perempat final pada Piala Dunia 2002.
Dunia akan ingat bagaimana Roger Milla, tiap kali mencetak gol, berlari ke sudut lapangan dan menari riang dengan menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Tiap kali melakukan goyangan khasnya itu, Milla seperti berkata: "Lihatlah, kami (bangsa Afrika) sudah bisa menari di panggung sepakbola yang dulu kalian (bangsa Eropa) ciptakan."
Jika saat Rabah Madjer "dikerjain" Jerman Barat dan Austria pada 1982 warga Afrika kompak meradang, kala itu warga Afrika seperti kompak ikut bersuka cita. Presiden Ghana saat itu, Jerry Rawlings, sampai mengirim kawat ke markas tim Kamerun di Italia yang isinya berbunyi: "Kemenangan Anda, Kamerun, membuat seluruh Afrika bangga."
Inilah arus-balik itu: jika dulu Afrika hanya bisa memandang kagum pada sepakbola Eropa atau Amerika Latin, sejak itu Eropa dan Amerika Latin gantian memandang takjub pada sepakbola Afrika. Jika dulu warga benua Afrika hanya bisa melihat kemegahan stadion-stadion di Eropa yang menghelat Piala Dunia dari kejauhan, kali ini gantian orang-orang Eropa yang memandang dari kejauhan bagaimana Afrika menggelar Piala Dunia.
Zakumi, macan tutul yang menjadi maskot Piala Dunia 2010, akan menjadi saksinya.
Di Afrika sendiri ada pameo kalau macan tutul tak bisa menggeser titik tutul di tubuhnya. Tapi, bangsa Afrika (melalui Kamerun dan Senegal yang bisa menembus perempat final Piala Dunia dan Afrika Selatan yang -- semoga-- sukses menggelar Piala Dunia) sudah mulai berhasil menggeser dan memindahkan tutul-tutul nasib dan takdir sepakbola mereka sendiri, seperti halnya Mandela yang gemilang mengubah tutul nasib dan takdir hidup dirinya, yang dari sanalah tutul takdir dan nasib warga kulit hitam di Afrika Selatan sedikit banyak mengalami lompatan dengan tergusurnya apartheid.
Takdir itu hanya perlu dilengkapi dengan satu portofolio pamungkas: ada tim dari Afrika yang menjadi juara dunia. Sekadar menjadi juara dunia U-20 (Ghana sudah dua kali) atau bahkan juara Olimpade (Nigeria pada Olimpiade 1996 dan Kamerun pada Olimpiade 2000) sudah pernah dicicipi oleh Afrika. Tapi menjadi juara dunia di level yunior atau Olimpiade tidak sama kastanya dengan menjuarai Piala Dunia. Kita tidak akan pernah tahu kapan Afrika akan melengkapi portofolionya di jagat sepakbola dengan prestasi puncak menjadi juara dunia.
Saya kira, semua bangsa Afrika akan mendukung seandainya ada satu tim Afrika yang terus melaju sampai ke babak-babak berikutnya di Piala Dunia, seperti saat Afrika mendukung Kamerun di Piala Dunia 1990. Itu juga terjadi saat Nigeria menjadi tim Afrika pertama yang berhasil merebut emas Olimpiade pada 1996. Kapten Nigeria saat itu, Sunday Oliseh, memberi kesaksian, "Kami tidak turun sebagai warga Nigeria namun sebagai warga Afrika karena semua orang Afrika mendukung kami."
Piala Dunia 2010 di tanah Afrika adalah momen terbaik di mana portofolio pamungkas itu bisa dijemput langsung di beranda rumah sendiri. Inilah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua orang Afrika untuk menjadi sebenarnya-benarnya tuan rumah, bukan sekadar pemangku hajat, tapi juga sanggup menorehkan prestasi yang melampaui lompatan yang dibikin Kamerun pada 1990 dan Senegal pada 2002. Tak ada kesempatan yang lebih baik daripada sekarang.
Jika momen itu datang di Piala Dunia 2010, Afrika tidak lagi sekadar "menciptakan kata" seperti yang dikatakan Sartre, tapi telah berhasil membuat sebuah buku tersendiri. Buku itu, pada 11 Juni 2010 hari ini, akan memasuki halaman dan babnya yang baru. Mungkin halaman dan bab baru itu bisa dimulai dengan kalimat Frantz Fanon di bab pamungkas bukunya itu: "Maka, kawan, sekarang adalah saatnya memutuskan untuk mengubah jalan kita."
Selamat menikmati Piala Dunia 2010.
==
*) Penulis adalah penggemar sepakbola, editor di Indonesia Boekoe Jakarta. Tulisan ini bersifat opini pribadi dan tidak mencerminkan sikap redaksi. (a2s/a2s)











































