FIFA menunjuk afsel sebagai tuan rumah Piala dunia edisi ke-19 di tahun 2010 ini. Negara Nelson Mandela ini mengalahkan Maroko dan Mesir yang jadi pesaing mereka sebelumnya.
Memasuki hari ketiga Piala Dunia, semua masih berjalan lancar dan nyaris tanpa gangguan berarti. Namun tetap saja banyak kekurangan di temui di sana-sini, terkait sarana dan prasarana pelengkap event empat tahunan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa wartawan dari berbagai negara beberapa hari lalu jadi korban perampokan. Bahkan hotel tempat menginap tim bisa disusupi pencuri.
Kondisi tersebut jelas membuat kami, wartawan yang meliput Piala Dunia, dibuat was-was. Oleh para WNI yang sudah lama tinggal di Afsel kami diminta ekstra hati-hati. Bahkan untuk sekadar mengeluarkan telepon genggam atau BB untuk mengetik dan mengirim berita.
"Lihat-lihat sekeliling dulu sebelum mengeluarkan hanphone. Jangan sembarangan dan usahakan jangan pernah jalan sendirian," saran seorang WNI yang detiksport temui di pada sebuah festival di Pretoria beberapa hari lalu.
Kendala lain yang terasa sangat menyulitkan adalah soal kesediaan sarana transportasi umum. Terkait masalah keamanan di atas, kami tak bisa sembarangan naik kendaraan umum.
Selain tindak kriminal kerap terjadi di kendaraan umum, beberapa kasus mencatat kalau pemilik angkutan umum tersebutlah yang kemudian menjadi pelaku kejahatan. Dalam beberapa kejadian, penumpang akan dibawa berkeliling dan kemudian dipaksa menyerahkan harta bendanya. Dibunuh atau diperkosa jadi ancamannya.
"Haduh, pokoknya beda sekali deh dibanding Euro 2008 lalu (di Austria-Swiss). Di sana yah, kita bisa nyaman ngeluarin laptop di dalam kereta dan asyik ngetik di manapun kita mau," keluh seorang rekan jurnalis wanita dari Jakarta.
"Afrika Selatan emang paling maju dibanding negara Benua Afrika lainnya, tapi kalau begini semuanya masih terasa tanggung," timpal wartawan yang lain.
(din/roz)











































