Vuvuzela sejak awal, bahkan sebelum Piala Dunia 2010 dimulai, telah memicu kontroversi. Alat tiup sejenis terompet yang punya suara besar itu dianggap bisa mengganggu konsentrasi pemain dan komunikasi pelatih dengan skuadnya di lapangan.
Toh fans Afsel malah menganggap alat tersebut sebagai senjata untuk membantu Steven Pienaar dkk meraih hasil maksimal di Piala Dunia ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata terompet berbahan plastik tersebut bisa memicu bahaya. Efeknya akan sangat merugikan karena bisa menyebabkan ketulian. Demikian hasil penelitian yang dimuat di harian terbesar di Afsel, Sunday Times.
Disebutkan kalau suara yang dihasilkan vuvuzela bisa mencapai 127 desibel. Lebih tinggi dibanding gergaji mesin yang 'cuma' 100 desibel atau mesin pemotong rumput (90 desibel). Sedangkan terompet yang menggunakan tabung gas juga hanya berkekuatan 123,6 desibel.
Suara vuvuzela memang cuma berbeda tipis dengan peluit wasit (121,8 desibel) atau drum (122 desibel). Namun karena vuvuzela bertiup hampir sepanjang pertandingan, potensi merusak tersebut kemudia muncul.
Soalnya suara dengan tingkat di atas 100 desibel akan berpotensi merusak saat dibunyikan secara terus menerus selama 15 menit. Disarankan fans untuk meninggalkan stadion mencari lingkungan yang tak terlalu bising. (din/arp)











































