"Tim unggulan saya jelas Bafana-Bafana. Selain itu? Saya menyukai Ghana. Mereka mungkin tak dianggap kuat, tapi skuad mereka cukup hebat," seru Nombuso mantap beberapa waktu lalu.
Apa yang diungkapkan petugas keamanan di University of Pretoria itu senada dengan jawaban Dumi, teman Afrika yang menemani detiksport selama meliput Piala Dunia 2010. Bedanya, tim yang dia dukung adalah Pantai Gading.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikianlah fenomena unik yang detiksport temui setelah seminggu lebih berada di Afrika Selatan. Meski banyak tim punya pemain lebih ngetop dan skuad yang jelas sangat mumpuni, sepertinya ada kewajiban tak tertulis yang membuat penduduk Afrika Selatan lebih memilih tim asal benua mereka dibanding dari Benua Eropa atau Amerika.
Kondisi tersebut juga terlihat jelas dalam beberapa laga yang menampilkan tim asal Afrika. Saat Ghana menghadapi Serbia dan Kamerun menantang Jepang.
Saya yang kebetulan tengah berada di media center Soccer City dan Loftus Versveld melihat dengan jelas bagaimana para relawan, wartawan serta pekerja yang berada di sana terang-terangan memberi dukungan buat The Black Star dan Samuel Eto'o cs. Setiap ada kesempatan dua tim Afrika tersebut bikin gol, ekspresi antusias dan puas terlihat jelas di wajah mereka.
"Entahlah kenapa saya memilih mendukung Ghana (dibanding Serbia). Mungkin karena mereka berada dekat dengan kami. Tapi selain Bafana-Bafana dan Ghana, saya juga menyukai Brasil," sambung Nombuso sambil menghisap sebatang rokok dari saya, sebagai sebuah tanda pertemanan. (din/a2s)











































