DetikSepakbola
Jumat 18 Juni 2010, 13:13 WIB

Kolom Piala Dunia

The God Must Be Crazy

- detikSport
The God Must Be Crazy
Jakarta - Afrika Selatan di ujung jurang. Tipis lolos babak berikutya. Dua pertandingan hanya menabung satu angka, nasibnya sama dengan Prancis. Akankah Afsel hanya akan sebagai tuan rumah? Inilah bagian dari The God Must Be Crazy<\/em>. Unik dan kocak ala Afrika.

Pernah nonton film The God Must Be Crazy<\/em>? Sekarang Afsel sedang mengukir sejarah menuju itu. Kekalahanya mengundang gelak tawa. Permainan lamban yang diperagakan dimanfaatkan Uruguay. Tiga gol tanpa balas membuat pendukung Bafana Bafana<\/em> seperti tersihir. Diam tak bersuara.

Setelah kalah, pelatih Carlos Alberto Perreira menimpakan kesalahan itu pada wasit Massimo Busacca. Wasit disebut tak punya kualifikasi untuk memimpin pertandingan seakbar ini. Di tingkat rakyat berkembang tudingan Uruguay mengerahkan puluhan dukun untuk menjegal laju perjalanan tim tuan rumah.

Dukun memang tak terpisahkan di Afrika. Ritus dalam banyak momen tak ketinggalan. Itu telah mengurat-akar. Ring pengikat siklus hidup. Dan penyemai harapan di tengah ancaman mara-bahaya serta kegarangan alam.

Ketidak-berdayaan melahirkan kepasrahan. Pasrah di lapis bawah menguati keyakinan kekuatan alam. Kekuatan sesuatu di luar batas penalaran. Itu tak hanya diaplikasikan Afsel tapi juga kita. Itu pula alasan pengurus sepakbola kita acap mengerahkan dukun untuk \\\"menguatkan\\\" kelemahan pemain bolanya.

Namun bagi Afsel, dua sambutan atas kekalahan itu mirip skrip The God Must Be Crazy. <\/em>Botol jadi pangkal kegaduhan. Alam gersang, satwa buas, kepercayaan purba bertemu modernitas. Dua kutub yang berbeda itu melahirkan pandangan yang paradoks. Sakral bagi penganutnya, tetapi lucu dan kocak bagi yang lain.

Dan Afrika. Tak peduli di bagian yang mana saja, yang terbayang di benak orang adalah perang suku, pembantaian antaretnis, manusia primitif, serta binatang liar. Dua komentar itu mengokohkan alur film The God Must Be Crazy<\/em>. Sebab secara instingtif, kemajuan bukan Afrika. Malah Mesir yang sejak baheula<\/em> peradabannya maju dianggap tidak nempel di benua ini.

Johannesburg pun tak beda. Ibukota Afrika Selatan yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 kali ini tetap menyisakan masa kelamnya. Masih terbayang perbudakan dan politik apartheidnya. Perbedaan warna kulit yang hitam-putih. Sampai kafe dan resto pun haram dimasuki pribumi kulit hitam.

Tidak salah jika masih banyak yang takut pergi ke Afrika. Takut terbunuh dalam perang ras yang sewaktu-waktu meledak. Atau manusia mabuk pegang senapan yang menembak suka-suka sekadar sebagai hiburan. Itu pula yang menjadikan kabar kemalingan kontingen di beberapa hotel semakin melegitimasi Afrika sebagai daerah bahaya.

Kalaulah ada yang bernilai positif dari Afrika adalah floranya. Bagi pecinta anthurium dan Sanseiviera, kawasan ini merupakan impian. Eilensis yang masih langka menjadi idaman. Dan Afrika mengingatkan akan Parva Kenya, Malawi, Ehrenberghi, Stella, Stucky, Kirki, atau Sufru var sufru dan Downsi. Selain penghasil batu permata yang bersaing ketat dengan Rusia dan Srilanka.

Maka ketika televisi menayangkan stadion olahraga dan suasana kota yang indah dengan berbagai bangunan megahnya banyak yang ternganga. Oh, Afrika itu juga sudah maju toh<\/em>? Rakyatnya sudah pakai busana dan berbudaya. Terus di mana kegersangan serta situasi yang digambarkan selalu dilanda chaostis<\/em> itu?

Membayangkan Afrika dalam banyak kenangan tempo dulu, saya jadi teringat puluhan tahun lalu ketika ketemu teman yang baru datang dari Singapura. Waktu itu wisatawan mancanegara belum langsung ke Indonesia. Pintu masuknya adalah Singapura, dan untuk itu perwakilan Indonesia selalu \\\"jualan\\\" di negeri itu.

Saya masih di The Archipelag<\/em>o, majalah pariwisata yang \\\"menjual\\\" budaya dan keunikan Indonesia. Majalah ini terbanyak beredar di luar negeri, termasuk di Singapura. Majalah ini nyaris tidak menuliskan \\\"kemajuan\\\" Indonesia. Dia lebih menyajikan keunikan suku, tradisi, serta wisata alam dan mistiknya.

Maka ketika teman itu membaca The Archipelago<\/em> di Singapura dan bertemu saya di Bali, dia berseloroh, bahwa banyak turis asing yang takut masuk Indonesia. Itu gara-gara membaca majalah saya. \\\"Mereka takut tidak bisa pulang dan diguna-digunai. Soalnya majalah itu tidak pernah menyinggung kemajuan negeri ini,\\\" katanya.

Maka kalaulah Afrika Selatan gagal melenggang ke babak berikutnya, Afsel termasuk Afrika secara keseluruhan harus berbangga sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 ini. Gawe <\/em>itu tidak sekadar mendatangkan keuntungan finansial serta euforia, tetapi juga menanamkan \\\"ingatan\\\" baru bagi banyak orang. Afrika tidak seram seperti dibayangkan. Dan di benua gersang itu juga tersimpan oase-oase yang menyejukkan.




##

*) Penulis adalah budayawan, tinggal di Surabaya.


(a2s/a2s)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed