Sepanjang Mei hingga Juli, Afrika Selatan memang tengah mengalami musim dingin. Kondisi yang jelas tak biasa buat saya yang sejak lahir tinggal di Indonesia dengan iklim tropisnya.
Soal musim dingin tersebut, saya dan beberapa wartawan lain dari Indonesia jelas sudah mengetahuinya. Karenanya, kami membawa perlengkapan tambahan mulai dari jaket, sarung tangan hingga kupluk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siang hari di Pretoria, misalnya, suhu udara berkisar di angka tiga hingga lima derajat celcius. Jadi, meski berada di siang hari bolong dan sinar matahari bersinar terang benderang, saya sampai dibuat menggigil.
Dengan kondisi seperti itu, suhu malam hari jelas lebih dingin lagi. Di tempat saya menginap, suhu terendah bisa mencapai minus satu derajat celcius.
Saya terbilang beruntung menetap di Pretoria. Soalnya suhu di Johannesburg jauh lebih dingin lagi.
Dua hari terakhir suhu terus turun hingga menyentuh minus lima derajat celcius. Udara makin terasa dingin karena angin juga bertiup sangat kencang. Bahkan di Durban, salah satu tempat di mana musim dingin tak terlalu terasa, suhu merosot ke angka tujuh derajat.
Berada di media center adalah pilihan terbaik dalam kondisi tersebut. Meski tak hangat, suhu udara tak sedingin di sekitaran stadion.
Tapi tentunya kami para wartawan tak bisa sekadar berdiam diri di media center. Ada banyak berita dan foto menarik harus dikejar, termasuk untuk Anda pembaca setia detiksport. Jadi di sinilah kami, setelah terbiasa bermandi peluh di panasnya Jakarta, kini harus berjuang di titik beku Afrika Selatan.
.
(Foto: Doni Wahyudi, wartawan detiksport yang bertugas meliput Piala Dunia di Afrika Selatan, berfoto di kompleks latihan tim Portugal di Bekker High School, Pretoria).
(din/a2s)











































