Saat masih bermain sebagai seorang bek, Raymond Domenech dijuluki 'Le Boucher' alias 'tukang daging'. Julukan itu datang karena gaya bermainnya yang tanpa kompromi, kadang bermain keras dan bahkan cenderung kasar. Tapi 'tukang daging' ini juga seorang yang romantik. Dalam wawancara usai Prancis kalah dari Italia, yang membuat tim yang ditukanginya gagal jadi juara dunia, Domenech sama sekali tidak menampakkan perasaan bersalah. Saat ditanya apa rencananya, ia malah menjawab: "Saya berencana menikah dengan kekasih saya, Estella."
Seorang tukang jagal, tentu saja, masih mungkin menjadi seorang romantik. Hanya saja, sekali tukang jagal menjadi seorang romantik, kemungkinan besar ia akan menjadi seorang romantik yang keras kepala. Begitulah yang terjadi. Tanpa peduli kekecewaan dan kemarahan publik Prancis karena kegagalan kesebelasannya, Domenech malah melamar kekasihnya hanya selang beberapa saat usai tim yang diasuhnya tersingkir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidakkah semua kualifikasi di atas itu sudah cukup aneh dan ajaib? Atau, jangan-jangan, semuanya sudah masuk delik absurd? Bukankah keanehan dan keajaiban itu sudah masuk kategori absurd saat Federation Francaise de Football (FFF) tetap bersikukuh mempertahankan Domenech, tak peduli publik Prancis (dari orang biasa, politisi, pers sampai beberapa anggota FFF sendiri) sudah muak dengan Domenech?
Absurd atau tidak, Domenech toh kenal dengan absurdisme melalui lakon-lakon absurd yang ditulis oleh Samuel Beckett. Jean-Pierre Escalettes, Presiden FFF yang bersikukuh mempertahankan Domenech, punya cerita tersendiri. Saat menjadi pelatih tim nasional Prancis U-21, kenang Escalettes, ia melihat Domenech kedapatan mengajak pemainnya (termasuk Zidane, Makelele dan Thuram) untuk menyaksikan sebuah pementasan karya Samuel Beckett, Endgame, sehari sebelum digelarnya pertandingan penting.
Akan halnya penggunaan astrologi dalam memilih pemain, Domenech juga mengaku bahwa ia bukan sekadar menyukai teater tapi mengadaptasi teater dalam caranya melatih. "Saya menyiapkan garis besar ke dalam latihan, lalu saya berimprovisasi. Saya juga memotong sebuah pertandingan ke dalam beberapa adegan, lalu saya menempatkan para pemain ke dalam masing-masing adegan itu selayaknya seorang aktor," katanya berterus terang.
Tentu saja itu metode latihan yang unik dan tak biasa. Publik toh tak mau peduli bagaimana seorang pelatih menyiapkan pemainnya. Jika hasilnya adalah deretan trofi dan prestasi, percayalah, metode latihan seunik dan seaneh apa pun tak akan pernah jadi masalah.
Masalahnya, Domenech tak pernah memberikan prestasi apa pun. Prancis memang lolos ke final Piala Dunia 2006, tapi itu pun dipercaya bukan karena kehebatan Domenech, tapi karena kembalinya sekian pemain senior yang sebelumnya sudah mengatakan pensiun (Zidane dan Thuram). Pada Piala Eropa 2008, tersingkir secara memalukan di babak grup. Pada Piala Dunia 2010, Prancis bahkan butuh 'kecurangan' Thiery Henry untuk bisa mengalahkan Irlandia di babak play-off.
Maka saat Prancis ditahan seri oleh Uruguay dan lalu digebuk Meksiko pada dua laga pertama Piala Dunia 2010, bara api yang lama berkobar di bawah meja itu pun meledak ke permukaan. Nicolas Anelka memakinya. Anelka lalu dipulangkan. Gantian kapten Prancis, Patrice Evra, yang bertengkar dengan pelatih fisik, Robert Duverne. Melihat itu, anggota tim lain lantas memutuskan tidak meneruskan latihan dan kembali ke bus. Lalu, Direktur Teknik tim Prancis, Jean-Louis Valentin, juga dikabarkan mengundurkan diri karena tak tahan.
Kondisi tim nasional Prancis kini tak ubahnya seperti dalam lakon Endgame, karya Samuel Beckett yang ditonton dengan antusias oleh Domenech dengan mengajak Zidane, dkk., di masa lalu.
Endgame, ditulis pada Beckett pada 1957, dipenuhi oleh suasana muram dan sesak. Semua karakternya ganjil: Hamm hanya bisa duduk dan tak bisa berdiri dan Clov βbudaknya Hamm-- tak bisa duduk dan hanya bisa berdiri. Keduanya menghabiskan waktu di sebuah ruangan yang nyaris gelap, semacam ruang bawah tanah, dengan pantai di bagian luar yang sama sekali tak menampakkan tanda-tanda kehidupan.
Hamm selalu sibuk menanyakan pada Clov apa yang terjadi di luar. Clov selalu menjawab: tak ada apa-apa di luar. Hamm juga selalu bertanya: apakah waktu minum obat sudah datang. Clov selalu menjawab: obat belum saatnya diminun. Pada saat yang sama, Clov juga terus-terusan mengatakan ingin pergi. Hamm yang tergantung pada Clov juga terus-terusan mengatakan bahwa tak ada kehidupan yang lebih baik di luar, yang ada hanya neraka. Karena sudah tak tahan, Clov mengatakan pada Hamm, bahwa obat penahan rasa sakit sudah habis. Hamm pun merasa hidupnya sudah berakhir. "Permainan sudah berakhir," ratap Hamm.
Tidakkah garis besar cerita Endgame itu seperti kondisi internal tim nasional Prancis sekarang? Mereka berada di titik nadir dan terancam angkat koper dari Piala Dunia secara memalukan, persis seperti Hamm dan Clov yang terkurung di sebuah ruangan bawah tanah yang muram.
Hamm, tuan yang lumpuh itu, tidakkah mirip Domenech? Ia memang pemegang otoritas di tim, tapi ia tak lagi memiliki kekuatan apa-apa. Jika Hamm dikutuk tak bisa berbuat apa-apa karena kakinya yang sakit parah, Domenech tak bisa banyak berbuat karena pemain Prancis juga sudah menunjukkan pembangkangannya. Tidakkah Anelka seperti Clov yang sudah kehabisan kesabarannya? Apa yang bisa dilakukan Hamm yang lumpuh tanpa Clov? Apa yang bisa diperbuat Domenech jika para pemainnya sendiri sudah membangkang dan tak lagi punya respek padanya?
Endgame adalah sebuah lakon yang berporos pada hubungan antar manusia. Dan itulah pula inti semua masalah tim Prancis di era Domenech. Ia bermasalah dengan banyak pemain, ia tak memilih pemain berdasar perhitungan yang absurd dan karenanya selalu jadi keputusan yang tidak populer. Cara ia melamar kekasihnya menunjukkan ia bermasalah dalam berhubungan dengan pers dan publik.
"Ini seperti sebuah komedi manusia," ujar Domenech seperti dikutip The Telegraph.
Komedi, tentu saja, adalah sebuah cara untuk melahirkan tawa. Persoalannya, terlalu banyak komedi bisa saja melahirkan tragedi. Lagi pula, Domenech sepertinya lupa, komedi tidak cukup hanya dengan berhasil membuat orang tertawa.
Komedi, kata komedian dan aktor Steve Martin, adalah seni membuat orang lain tertawa tanpa harus muntah.
(arp/arp)











































