Lippi, Lelaki Tua dari Tuscan

Catatan Piala Dunia

Lippi, Lelaki Tua dari Tuscan

- Sepakbola
Sabtu, 26 Jun 2010 10:24 WIB
Lippi, Lelaki Tua dari Tuscan
Jakarta - Marcelo Lippi akan segera tahu seperti apa bedanya pulang ke tanah air disambut penuh suka cita dan disambut dengan dingin, mungkin juga dengan berondongan kritik dan caci-maki.

Pada 2006, Lippi pulang ke Italia sebagai pahlawan karena berhasil membawa tim nasional Italia juara dunia. Itu prestasi yang sangat membahagiakan karena Italia sudah puasa selama 24 tahun. Terakhir menjadi juara pada 1982 dengan protagonis utamanya adalah Paolo Rossi. Hebatnya lagi, Lippi bisa mempersembahkan gelar bukan di saat Liga Italia sedang moncer, tapi saat pamornya sedang ambruk karena terbongkarnya skandal memalukan yang melibatkan beberapa klub penting Italia.

Maka saat tim nasional Italia berjalan terseok-seok di bawah kepemimpinan Roberto Donadoni, wakil dari generasi muda pelatih Italia, Lippi pun dipanggil untuk kembali diberi tugas mengerek bendera Italia setinggi-tingginya, seperti yang ia lakukan pada 2006 lalu. Lippi menerima tugas itu dengan kepala tegak, tentu saja dengan kepercayaan diri yang tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi sayangnya kali ini Lippi gagal total.

Lippi seorang pelatih besar, itu tak perlu diragukan. Portofolionya mengagumkan. Dialah satu-satunya manajer yang mampu menggabungkan dua puncak tertinggi prestasi sepakbola: jalur klub (juara Liga Champions Eropa dan juara dunia antarklub di 1996 bersama Juventus) dan jalur tim nasional (juara dunia 2006).

Tapi seorang manajer tak bisa terus-menerus mengandalkan satu jurus, bahkan kendati jurus itu pernah terbukti sangat digdaya. Tapi itulah yang terjadi dengan Lippi. Dalam dirinya, tertanam citra seorang Italia yang kukuh dan karenanya konservatif. Ia memang tak pernah kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri, tapi masalahnya ia juga masih saja yakin pada metode dan taktik yang sudah diterapkannya sejak puluhan tahun silam, seakan-akan dunia tak pernah berubah, seakan-akan sepakbola tak berkembang dan tak memperbaharui dirinya.

Lippi sendiri yang pernah memberi kesaksian betapa ia memang seorang yang konservatif dengan apa yang dipercayainya: "Setelah kemenangan pada 2006, saya ditelepon beberapa pemain yang saya didik pada 1982-1983. Mereka bilang bahwa cara saya melatih tim nasional mengingatkan mereka pada gaya kepelatihan saya dulu. Saya pun mengatakan hal yang sama. Apa yang saya lakukan dulu sama seperti apa yang saya lakukan pada 2006. Apa yang saya katakan pada 1983, terus saya ulang lagi pada hari ini."

Persoalannya adalah Italia sedang mengalami involusi. Ketika gagal di Piala Eropa 2008, tergambar jelas bagaimana proses involusi itu sedang menghinggapi Italia. Di bawah Donadoni, Italia bermain tanpa imajinasi dan ide, juga tanpa skema yang meyakinkan. Lolos dari babak grup setelah dibantai Belanda bisa dianggap hadiah terakhir kecemerlangan sepakbola Italia di masa lalu. Sisanya: hanya ada karat.
Ketika akhirnya Lippi yang konservatif dan kolot kembali memimpin tim nasional Italia yang sudah involutif dan berkarat, ya… beginilah hasilnya. Seorang yang konservatif tak mungkin memimpin sebuah proses pembaharuan, kemungkinan terbesar ia justru akan membawa proses involusi dan pengaratan itu menjadi utuh dan sempurna.

Ia masih saja membawa Fabio Cannavaro yang sebenarnya sudah "habis". Terbukti, Cannavaro yang gemilang pada 2006, praktis selalu terlibat dalam dua gol ke gawang Italia saat menghadapi Paraguay dan Selandia Baru.

Ia malah tetap yakin dengan memasukkan Andrea Pirlo yang kondisi fisiknya meragukan. Pirlo, kemudian, terbukti menghidupkan 20 menit terakhir permainan Italia saat menghadapi Slovakia. Tapi itu tidak cukup. Italia bermain untuk sebuah turnamen, bukan hanya untuk satu laga. Alih-alih memilih opsi alternatif yang mungkin saja akan berguna dalam tiga laga, ia malah tetap berharap pada pemain tidak fit yang terbukti hanya mambawa dampak dalam 20 menit terakhir di laga terakhir. Tapi mestikah itu diherankan?

Lippi berpeluang memberi sedikit warna cerah pada kusam dan karatnya Italia dengan memasukkan Antonio Cassano, satu-satunya pemain yang bisa memberikan warna kreativitas pada Italia. Tapi mestikah diherankan jika seorang konservatif tetap keukeuh dengan pilihannya yang sedari dulu memang tak pernah memberi tempat pada Cassano?

Dalam buku "Il Giocco delle Idee: Pensieri e Passioni da Bordo Campo", dibeberkan filosofi kepelatihan Lippi. Lippi menekankan pentingnya kesatuan tim sebagai sebuah keluarga yang sehat secara psikologis. Lippi juga menekankan bahwa sebuah taktik dan formasi dipilih untuk memaksimalkan kegunaan setiap pemain untuk pemain yang lain dan untuk memaksimalkan potensi serta ekspresi setiap pemain.

Dari kasus Pirlo, kita tahu, Lippi tidak setia dengan prinsip itu. Jika setia dengan filosofinya sendiri, Lippi pastilah akan memilih pemain yang fit, yang mampu memberi manfaat dan kegunaan bagi tim sejak laga pertama, sedari menit pertama. Tapi ia memilih membawa pemain yang tidak fit, yang berisiko hanya memberi manfaat pada tim dalam beberapa menit saja. Terbukti, Pirlo memang memberi manfaat, tapi itu hanya terjadi di 20 menit terakhir di laga ketiga, bukan memberi manfaat sejak menit pertama laga Italia di Piala Dunia.

Pirlo memang nama besar. Ia punya andil penting dalam mengorkestrasi permainan Italia pada Piala Dunia 2006. Fakta bahwa Lippi tetap membawanya kendati dalam kondisi yang tidak fit memberi bukti bahwa Lippi memang berharap besar padanya, terutama setelah Totti tak mungkin lagi ia andalkan.

Tapi itu menjadi bumerang. Dengan membawa pemain kunci yang cedera, Lippi meletakkan sebuah kondisi psikologis yang tidak sehat: tim seakan dikondisikan untuk menunggu sehatnya Pirlo untuk mengorkestrasi permainan Italia. Maka, sekali lagi, mestikah diherankan jika Italia baru hidup permainannya hanya setelah Pirlo masuk?

Kita tidak melihat Lippi sebagai tactician yang punya banyak kejutan, tapi Lippi yang menunggu dan menanti. Inilah Lippi yang kolot, Lippi yang memilih memaksimalkan sisa-sisa kejayaan beberapa pemain kunci, ketimbang memaksimalkan darah-darah segar yang mungkin saja akan membawa kejutan.

Di Piala Dunia 2010 ini, kita tak melihat Lippi sebagai seorang yang pernah dijuluki "Tactician dari Tuscan", tapi "Lelaki Tua dari Tuscan".

The Guardian pernah menggambarkan Lippi sebagai lelaki dari Tuscan yang selalu terobsesi dengan laut dan rutin menghabiskan waktu senggangnya dengan memancing di kedalaman lautan. Mungkin itu pula yang akan dilakukan Lippi setibanya di Italia. Ia akan pulang ke kampung halamannya, bukan sebagai pelatih yang kembali menangguk kejayaan, tapi sebagai lelaki tua yang letih, yang sementara waktu ke depan akan menghabiskan waktunya dengan memancing di tengah lautan.

Saya ingat sosok Santiago, lelaki tua dalam novel hebat Ernet Hemingway, "Lelaki Tua dan Lautan". Setelah melewati 84 hari tanpa satu pun tangkapan, kail Santiago akhirnya disantap seekor marlin raksasa. Tapi marlin itu begitu kuat hingga Santiago mesti bertarung mengerahkan semua kekuatan dan pengalaman yang dimilikinya.

Setelah lama bertarung hingga terluka, Santiago akhirnya bisa menaklukkan marlin itu. Ironisnya, serombongan ikan hiu menyerang tangkapan Santiago. Ia sempat hendak melepaskan begitu saja marlin tangkapannya, tapi Santiago akhirnya memilih bertarung dengan hiu-hiu ganas itu. Santiago akhirnya berhasil selamat hingga ke pantai, tapi ia hanya bisa membawa sisa-sisa kerangka ikan marlin, bukan Marlin yang utuh.

Tidakkah ini metafora yang lirih atas seorang Lippi? Seperti halnya Santiago yang gagal membawa ikan Marlin yang utuh, Lippi juga tak bisa meneguhkan lagi kejayaannya yang sempat utuh dan paripurna pada 2006. Seperti Santiago yang hanya bisa membawa sisa-sisa kerangka ikan Marlin, sisa-sisa kejayaan itu pula yang dibawa pulang Lippi.

Di akhir cerita Hemingway itu, Santiago digambarkan pulang dalam kondisi yang begitu letih. Sembari menyeruput segelas kopi yang pahit, Santiago berkata pada sahabatnya yang bernama Manolin, tentu saja dengan suara yang lirih: "They beat me, Manolin… They truly beat me."





**
Penulis adalah pemerhati sepakbola, tinggal di Jakarta. Tulisan ini bersifat opini pribadi penulis, tidak mencerminkan sikap dan opini redaksi.
(a2s/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads