Bandara Internasional Doha adalah tempat transit maskapai penerbangan Qatar Airways yang melayani penerbangan hampir ke seluruh penjuru dunia. Saya tiba di Doha sekitar pukul 21.30 waktu setempat setelah menempuh perjalanan udara delapan jam dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Tujuan saya selanjutnya adalah Johannesburg, Afrika Selatan, di mana saya akan menyusul rekan asal detiksport Doni Wahyudi yang telah lebih dahulu meliput Piala Dunia. Namun, pesawat baru berangkat pukul 07.30 pagi waktu lokal. Artinya, saya harus menunggu selama hampir 10 jam di ruang transit bandara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bosan tidur di kursi saya pun memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari bandara. Ternyata, banyak TKI yang nasibnya serupa dengan saya. Menunggu penerbangan berikutnya untuk terbang.
Cerita mereka macam-macam. Ada yang baru mulai bekerja, ada juga TKI yang kembali setelah liburan panjang. Yeni, TKI asal Karawang menuturkan, dia hendak kembali bekerja setelah enam bulan liburan.
"Nggak galak majikan saya, baik. Lagian, di rumah itu ada enam pembantu. Dua dari Indonesia, sisanya dari negara lain," tuturnya.
Gaji yang diterima Yeni sebulan berkisar Rp 1,5 juta. Namun, waktu pulang kampung memang dibatasi hanya empat tahun sekali dan lamanya enam bulan.
Ada beberapa orang yang satu rombongan dengan Yeni. Harapan mereka sama, menemukan penghasilan yang layak di negeri orang.
Cerita berlanjut ke Steve, seorang bartender asal New Orleans, Amerika Serikat. Dia adalah salah satu suporter tim Amerika Serikat yang ketinggalan menyaksikan laga antara AS melawan Ghana. Hal ini terjadi akibat kesalahan administrasi pesawat.
"Saya sampai harus mengurus ke kedutaan AS di Qatar untuk mengurus penerbangan lanjutan saya ke Afsel. Tapi saya ketinggalan pertandingan," kisahnya.
Ghana menang 2-1 atas AS dalam pertandingan tersebut. Steve pun batal menyaksikan tim kesayangannya untuk terakhir kali. Namun, niatnya ke Afsel tetap dilanjutkan.
"Saya tetap mau ke sana. Banyak hal menarik untuk dipelajari sekalian juga menambah skill bartender saya," lanjut Steve.
Puas berbincang dengan Steve dan para TKI, saya kembali ke Gate 5 untuk menanti pesawat. Waktu 10 jam pun tidak terasa jika ada teman bicara.
(mad/arp)











































