Pelayanan ala Indonesia di Cambanos

Catatan dari Afsel

Pelayanan ala Indonesia di Cambanos

- Sepakbola
Kamis, 01 Jul 2010 08:40 WIB
Pelayanan ala Indonesia di Cambanos
Jakarta - Mendatangi pusat suvenir Cambanos seperti berbelanja di toko-toko tanah air. Di tempat yang menjanjikan diskon cukup besar itu Anda bisa berbincang dengan bahasa Indonesia dan menemui uang rupiah.

"Selamat pagi. Selamat datang, silakan masuk."

Demikian sapaan akrab yang saya terima dari beberapa pria berkulit legam saat mendatangi Cambanos beberapa waktu lalu. Meski asli Afrika Selatan, pelayan di Cambanos memang menguasai beberapa kata bahasa Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jangan heran, kemampuan mereka berbahasa Indonesia tergali karena banyak wisatawan maupun pekerja kedutaan yang berbelanja suvenir di tempat tersebut.

Adalah Djaka Widyatmaja yang memperkenalkan Cambanos pada warga Indonesia dan sebaliknya. Staf kedutaan Indonesia di Prestoria itu juga yang sedikit demi sedikit mengajarkan bahasa Indonesia pada beberapa pelayan toko yang terletak di wilayah Midrand, Pretoria, tersebut.

"Di Cambanos harga jualnya bisa lebih murah. Selain karena mereka punya pengrajin sendiri, ada diskon yang diberikan," rekomendasi Djaka pada saya.

Cambanos, yang didirikan oleh seorang warga negara Yunani bernama Dennis Cambanos, memang berbeda dengan banyak toko souvenir lainnya. Pelanggan yang datang dipastikan akan nyaman berbelanja karena toko terletak di area rumahnya dan terdiri dari bangunan yang cukup luas.

Beragam suvenir khas Afrika Selatan bisa ditemui di sana. Mulai dari tulang dan tanduk dengan beragam hiasan, ukiran serta patung tradisional, kulit binatang hingga binatang-binatang yang sudah dikeringkan.

Karena sedang demam Piala Dunia, beberapa suvenir Piala Dunia juga bisa didapati di sana. Semuanya adalah produk asli, namun dengan harga diskon yang menggiurkan.

Banyak turis dari beragam negara di dunia datang ke Cambanos ini. Sebagai buktinya, di dinding yang mengarah ke pintu keluar area belanja tertempel ratusan uang kertas dan beberapa uang logam dari banyak negara di dunia. Di situ bisa saya lihat uang pecahan Rp 100.000 bergambar Soekarno-Hatta, uang pecahan Rp. 50.000 sampai yang terkecil bernilai Rp 1.000.

Dennis juga sangat ramah saat menerima kedatangan detiksport. Dia sempat menceritakan beberapa pengalaman masa mudanya plus memamerkan foto-foto saat dia masih suka berburu di beberapa negara Afrika pada tahun 1950-an.

"Terimakasih sudah datang ke sini. Silakan berbelanja. Jangan ragu menghabiskan uang Anda di sini," seloroh pria yang akrab disapa 'Father' oleh pengunjungnya itu.
(din/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads