Asia hilang sudah. Sehabis Korea Utara lebur dan Korea Selatan hancur, tinggal Jepang wakil benua ini. Tapi keperkasaan tatkala melawan Denmark hilang. Skor telak, 3-1 itu tak berguna. Sekadar memuluskan langkah sesaat memasuki babak knock-out sebelum dilindas Paraguay.
Ada banyak yang berspekulasi, kekalahan Jepang ini akan memancing tragedi. Memang adakalanya korban berkalang tanah akibat 'fanatisme sempit' terhadap kesebelasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketaatan dan kesetiaan adalah bushido. Kemenangan bermartabat menjadi tujuan. Cita-cita tiap warga negara Nippon yang disemaikan tradisi. Ini nafas yang menjadikan Jepang kompetitif. Tak hanya ketika berhadapan dengan kekuatan luar, tetapi juga tatkala berhadapan dengan kekuatan dalam negeri sendiri.
Itu bisa dipahami. Sebab dalam konteks ini, kalah sama dengan menebar rasa malu. Dan terbuka dramatisasi yang menggumpal sebagai penyebar aib. Jika itu sampai terjadi,
euthanasia tak tabu lagi. Pakem itu ada dalam tradisi penebusan. Harakiri, menghabisi nyawa sendiri lumrah. Itu bukan peristiwa spektakuler.
Para shogun dengan semangat bushido itu adalah para samurai atau samurau. Mereka pengabdi seperti sebutannya. Rasi itu turun-temurun terbentuk dari generasi ke generasi. Dan ini tak lapuk kena hujan, dan tak aus tergilas modernisasi.
Kuantitas para samurai itu tidak terbilang banyaknya. Kalau dikalkulasi jumlahnya mencapai duapuluh persen ke atas dari jumlah penduduk Jepang. Itu yang membuat tak hanya institusi legal formal yang punya integritas tinggi, tetapi juga kelompok 'preman' seperti Yakuza yang sulitnya setengah mati diajak ke jalan lurus yang diridloi. Amitaba !
Taat yang patuh dan pengabdi adalah inner-action. Dia energi yang tak dapat tertandingi. Secara metafisis itu adalah doping 'mbahnya' doping. Dia menstimulasi lelah menjadi trengginas. Dan mampu meningkatkan kodrat manusia melebihi kodratnya. Dalam istilah sepak bola acap disebut sebagai kekuatan βnon-teknisβ.
Memang benar hampir tiap bangsa punya sikap macam ini. Secara universal diistilahkan sebagai nasionalisme. Amerika Serikat 'mozaik' berbagai bangsa itu terikat batin dengan ini. Swedia dengan bahasa gado-gado Jerman dan Belanda juga punya. Termasuk Paraguay yang berbahasa Spanyol. Hanya 'inner-action' tempelan dengan 'inner-action' berasbabul-nuzul tradisi tentu amat beda.
Jepang memiliki sejarah 'batin' seperti itu. Negeri yang percaya sebagai keturunan Amaterasu omikami (Dewi Matahari) itu terlahir sebagai bangsa yang diikat dengan tradisi itu. Pengabdian adalah segalanya. Dan segalanya itu adalah pengabdian yang zonder reserve. Itu yang membuat Nippon cepat bangkit dari kehancuran Nagasaki dan Hiroshima, serta muncul sebagai Negara Dagang hebat di dunia.
Semangat bushido itu ternyata tidak hanya berlaku bagi laki-laki. Tengok salah satu sudut kota Surabaya. Jalan Kembang Jepun (gadis-gadis Jepang) adalah bagian 'pengabdian' itu. Datang 'menyemangati' tentara Jepang sebelum yugun ianfu mekar. Akhirnya jejak hitam itu berbiak sebagai embrio pelacuran.
Kini Jepang telah tersingkir. Epos dan etos itu berbuah separuh jalan. Setelah mengungguli Denmark dan ditaklukkan Paraguay, Shiga Naoyo novelis Jepang jauh-jauh hari seperti telah menyiapkan kata-kata perpisahan kelam 'Sayonara, an' ya koro'. Selamat jalan menuju kegelapan, katanya. Adakah benar kekalahan ini membawa Jepang ke jalan kegelapan? Diikuti tindakan bunuh diri pemain dan fans beratnya?
Tidak ! Kalah setelah berjibaku memang tak perlu berakhir dengan harakiri, shogun !
##
*) Penulis adalah budayawan, tinggal di Surabaya.
(krs/krs)











































